Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 50


__ADS_3

Hari ini Rania bergilir jaga malam, kebetulan jaga malam ini bersama Jeje. Rania sudah membawa perlengkapan ganti, alat mandi, dan semua yang ia butuhkan untuk besok. Begitulah setiap dua sampai tiga kali dalam seminggu, mereka akan bergilir kebagian shif malam.


Dari pagi ruangan IGD seperti biasa selalu ramai pasien masuk dari berbagai kasus. Suasana selalu hectic. Petugas lalu lalang tidak ada yang duduk. Jeritan pasien di ruang tindakan yang menahan sakit. Tangis kejer anak-anak diinfus, semua menjadi warna tersendiri yang menyapa Rania dan Jeje malam ini.


Adrenalin Rania tiba-tiba mengalir deras, saat tiba-tiba ruang IGD menjadi sesak sebab banyaknya pasien yang masuk malam ini akibat kecelakaan lalu lintas yang terjadi. Bahkan belasan bed di ruangan penuh pasien mengerang-erang menahan sakit. Malam itu Rania yang bertugas jaga bersama Jeje dibuat sibuk pastinya. Semua konsumen dan dokter jaga yang lainnya yang bertugas di poli ikut bertindak.


"Ra, tensi Ra! Kamu cek yang lain."


"Siap Dok!"


"Siap!"


"100/60," kata Rania sembari mengamati wajah pasien yang memucat.


"Hentikan darahnya yang mengalir, sumbat, terus jahit!" ucap Dokter Rayyan menginterupsi.


Rania segera melakukan tindakan. Suara di bed samping nampak seorang ibu yang sama-sama ikut kecelakaan tengah menenangkan putrinya yang menjerit menahan sakit sedang dipasang infus.


"Dok, pasien bapak kisaran empat puluh tahun itu mengalami cidera kaki dengan robekan yang cukup serius."


"Aghh ... sakit Dok, tidak bisa digerakkan!" desisnya menggeram sakit.


Rayyan memeriksa kaki bagian lututnya yang nampak menjadi sumber sakitnya.

__ADS_1


"Suster bantu bersihin lukanya! Jahit luka robeknya Ra!"


Bapak yang tadi langsung dibawa ke ruang instalansi radiologi guna kebutuhan rontgen. Sementara menunggu diagnosa selanjutnya Rania memeriksa pasien lainnya. Hingga larut pasien masih banyak yang baru selesai diperiksa.


Sebagian pasien yang mengalami luka ringan boleh langsung pulang dan hanya rawat jalan. Sebagian lagi harus opname karena lukanya cukup serius.


"Sumpah gue haus banget," keluh Rania saat suasana sudah kembali kondusif. Hampir pukul setengah dua mereka berkutat dengan adrenalin penuh. Ngantuk tak lagi dirasa.


"Pesen kopi Je, kita masih harus buat laporan kasus jaga malam ini untuk setor besok pagi."


"Astaga, ngaret lah gue butuh dua jam saja buat tidur."


"Ra gantian saja, ini jam berapa coba, jam dua semoga nggak ada pasien susulan. kita punya waktu empat jam setidaknya buat ngadem sebelum lanjut masuk siang." Jeje bertanya dan menjawab sendiri.


Saat suasana tengah ngantuk-ngantuknya, dan Rania pun ikut tertidur di kursi jaga, seseorang nampak membelai rambutnya dengan sayang. Entah itu perasaan Rania saja, atau memang halusinasi tingkat tingginya yang menyapa.


"Astaghfirullah ....!" Rania tergeragap. Menilik jam di tangan lirinya pukul lima dini hari. Sudah kaya orang kesetanan yang harus dibom bardir siap siaga sebem tinggi tong waktunya selesai karena harus langsung sambung shif paginya.


"Je, bangun Je, kita berdua KO, alias teler." Sebagai teman sejawat yang baik hati, Rania langsung membangunkan sahabatnya, menepuk pelan pipi Jeje yang mengecap lipatan tangan.


"Hah! Gimana-gimana?" Gadis itu tergeragap kaget langsung membuka matanya, berdiri kaya orang linglung.


"Je, kita ketiduran," sesalnya tak ada pilihan.

__ADS_1


"Beneran? Astaga laporan jaganya." Mereka berdua mendadak panik.


"Oke tenang Je, ngumpulin nyawa dulu, kaget jadi pening nih. Bersih-bersih dulu kali ya. Laporan jaga nyusul."


"Ngalamat kena semprot ini mah, ngeri-ngeri nikmat!"


"Bungkus lah, dengerin aja, gue mau mandi dulu. Bodo amat lo jaga sembari nyalahin laptop!" titah Rania melesat menuju kamar mandi.


Rania juga penasaran sebenarnya dengan Dokter Rayyan yang sepertinya semalam tidak pulang. Sebelumnya ia pun mengintip, ternyata benar Rayyan tertidur di ruangannya dengan nyenyaknya.


Saat Rania hendak berbalik, tanpa sadar menyenggol buku dan menjatuhkannya hingga membuat dentuman. Saat itu pula mata Rayyan terbuka dan menemukan sosok Rania di sana.


"Ra, ngapain di situ?" tanya Rayyan sembari mendekat.


"Nggak ada Dok, tadi mau ke kamar mandi aja, sorry saya duluan," ujarnya mendadak kikuk dan tak enak.


"Bohong, kamu sengaja datangi ruangan aku 'kan?" tanyanya penuh selidik.


"Bukannya setiap pagi saya emang selalu datang ya, Dok, Dokter lupa."


"Kali ini kamu beda, kenapa Ra?" tekan Rayyan mengikis jarak.


"Nggak ada Dok, maaf, saya sudah lancang seharusnya memang saya masuk sesuai jadwal yang sudah ditentukan," sesalnya cemas. Rayyan terlihat tidak suka dengan kedatangan Rania yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Keluar!" titahnya dingin. Pria itu berusaha menahan diri. Rasanya gemas sendiri saat didekatnya namun tak bisa menyentuhnya.


__ADS_2