Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 71


__ADS_3

Rania nampak bingung, ia terdiam untuk beberapa saat. Sementara Rayyan dan Jo menatap perempuan itu dengan seksama, berharap memberikan jawaban yang bisa membuat hatinya tenang.


"Maaf, Jo, hubungan kita telah berakhir, terima kasih waktu setahun lebih ini kamu sudah memberikan warna untuk hidupku. Aku yakin ini yang terbaik, raihlah cintamu bersama Yumna, dia tulus mencintaimu. Bahkan aku mungkin tidak pernah bisa mencintaimu sedalam dan sebesar Yumna. Hargailah selagi ada, seseorang yang begitu tulus menyayangi kamu. Semoga kamu bisa lapang dengan keputusan ini," papat Rania panjang kali lebar.


"Kamu beneran udah nggak mau perbaiki hubungan ini, Ra? Terus itu artinya kamu milih dia?" tunjuk Jo pada Rayyan dengan muka tak ramah.


Rania menatap Rayyan, lalu memindai pada Jo dengan anggukan kepala yakin. Entahlah jawaban itu benar atau salah, namun hatinya saat ini terpaut pada pria yang selalu mesum terhadap dirinya itu di setiap kesempatan.


"Oke, fine!" jawab Jo kesal. Mundur selangkah, menyorot keduanya sengit.


"Brengsek!" Jo menghadiahi pukulan telak pada wajah Rayyan yang tampan hingga pria itu sedikit bergeser ke belakang.


Rayyan yang tidak terima sontak membalasnya dengan cepat. Pria itu memukuli Jo dengan kesal. Rania sendiri hanya menjerit histeris kebingungan.


"Berhenti, tolong! Tolong! Ya ampun ... tolong!" jerit Rania histeris menyaksikan adegan live keduanya beradu kekuatan layaknya di area boxing.


Beberapa orang nampak bergerumun, termasuk warga sekitar kost yang berlalu lalang. Mereka bahu membahu memisahkan keduanya yang nampak babak belur tak betaturan. Kedua napas pria itu memburu, masih ingin maju jika tidak ditahan oleh orang-orang yang menolongnya.


"Bubar-bubar! Semuanya pulang!" ucap seorang warga melerai keduanya. Jo meninggalkan lokasi dengan mengacungkan jari tengah penuh permusuhan, sementara Rayyan hanya menyorotnya sinis tanpa minat meladeni.


Beberapa warga membubarkan diri, tinggal Rania dan Rayyan yang akhirnya tidak jadi pergi dan memilih kembali ke kost. Rayyan masih terlihat sangat kesal, duduk dengan kasar menyeret kursi dekat ranjang. Walaupun sudut bibirnya pecah, dan muka tampannya lebam, setidaknya hati pria itu tersenyum senang karena Rania memilih dirinya.


"Kenapa senyum-senyum, udah bonyok juga, masih bertingkah!" omel Rania menatap pria itu sengit.


"Enggak boleh ya, makasih ya udah pilih aku, itu artinya kita resmi jadian ya?"


"Kapan aku ngomongnya, perasaan aku belum mendeklarasikan serangkaian perkataan," jawab Rania membuang muka. Lebih tepatnya menghindari tatapan Rayyan yang selalu bisa membuatnya tak berkutik.

__ADS_1


"Ikh ... kok gitu sih sayang, kamu jangan bohongi hati kamu kalau kamu tuh sebenarnya udah sayang, 'kan? Sama aku?"


"Nggak, sebel banget malah, sok jagoan pakai berantem segala, emang aku seneng apa?"


"Dia yang nyerang aku duluan, Dek Rania sayang, terus aku musti diem gitu?" tekan pria itu menghela napas panjang.


"Ya menghindar 'kan bisa, kalau gini kan jadi nggak tampan lagi!" Rania menyentuh dagu pria itu, meneliti lukanya.


"Awww! Sakit sayang ....!" desis pria itu meringis.


"Sakit beneran?"


"Beneran lah, aduh ... tolong obatin ya Bu Dokter, ini sangat perih," keluh pria itu mendrama.


"Ish ... bohong banget sih, tadi aja senyum-senyum, sekarang ngeluh, dasar omes!" cibir Rania sengit.


"Periksa dulu, sayang, ini tuh beneran luka, obatin ya?" pintanya manjah. Sembari mengusak lembut ceruk leher jenjang perempuan itu.


"Ya lepas Mas, aku mau ambil obat, awas ya mesum lagi aku getok kepala kamu."


"Jangan! Kasihan Mas Rayyan yang tampan ini butuh kasih sayang!"


Rania merotasi bola mata malas, perempuan itu beranjak mengambil obat di kotak p3k yang tersedia. Lekas beranjak mendekati pria itu yang duduk tenang memperhatikan segala gerak-geriknya.


"Yah, acaranya gagal deh!" keluh pria itu menyayangkan.


"Emang kita mau ke mana?"

__ADS_1


"Dinner romantis lah, Jo ngerusak acara saja!" keluh Rayyan kesal.


"Ya udah kapan-kapan aja," ujar perempuan itu seraya mengobati lukanya.


"Aww, pelan sayang, pakai perasaan dong, yang lembut biar feelnya dapat. Gini nih!" pria itu mengikis jarak lalu menyambar bibirnya sekilas.


"Astaga, mesum banget sih, lagi sakit juga!" protes Rania tak habis pikir.


"Habisnya kamu tuh lama jawabnya, kapan sih bilang sayangnya, disakitin mulu!" Rayyan pura-pura merajuk, namun Rania tak peduli. Perempuan itu malah mrncubit kedua pipinya dengan gemas.


"Cemberut aja sih Mas, ayo jadiin aja dinnernya aku lapar," ujar Rania semangat.


"Beneran? Ya udah ayok!" jawab pria itu full semangat.


"Eh, tapi nggak jadi ding, ini udah lewat jam sembilan malam, kamu pulang aja Mas!" usir perempuan itu serius.


"Adoh ... sayang, sepertinya kepalaku pusing akibat pukulan Jo ini, tolong, aku pusing sayang!"


"Bohong, tadi aja semangat, pulang Mas!"


"Ya udah pulang, tapi sama kamu juga ya, pindah tempat aku," ujar pria itu penuh harap.


"Nggak mau, kamu nakal, entar digrepe-***** pas bobok," jawab Rania jelas menolak.


"Nggak sayang, janji deh, nggak macem-macem! Ayo pulang!" ajak pria itu ngeyel sekali.


"Nggak mau, kamu yang pulang, Mas."

__ADS_1


"Ya udah, aku nggak mau pulang," kata pria itu cuek.


__ADS_2