Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 162


__ADS_3

Kedua orang tua baru itu tengah menikmati masa-masa menjadi orang tua untuk putranya. Di mana harus pandai membagi waktu antara dunianya dan pekerjaannya. Ray juga mulai sibuk kembali mengemban tugas sesuai profesinya.


Pagi hari akan menjadi hari yang begitu riweh, selain mengurusi si kecil, Rania harus mendahului Ray terlebih dahulu. Terutama menyiapkan segala keperluannya. Mulai dari bangun tidur, menyiapkan ganti hingga menemani sarapan adalah menu wajib dirinya.


"Kopinya Mas," ujar Rania menyajikan di atas meja.


Pria itu menjadi begitu manja dan enggan minum kalau bukan dibuat dari tangannya. Katanya selain lebih nikmat, tentu pahala untuk wanita spesial dalam hidupnya itu.


"Makasih sayang," jawab Ray sumringah.


Pagi yang cukup membuatnya melebarkan senyumnya, setelah lebih dari satu purnama terlihat dengan senyum tanggung.


"Kenapa? Kayaknya hari ini semangat banget," ujar Rania penuh selidik.


"Semangat menjemput rezeki dong Sayang," ujarnya nyengir.


Perempuan itu merasa aneh mendeteksi gelagat suaminya yang terlihat aneh tapi nyata.


"Lampu hijau deh kayaknya, jadi wajar dong kalau aku semangat," jawab Ray penuh kejujuran yang hakiki.

__ADS_1


"Owh ... kamu jeli bener Mas, aku aja masih terlalu nyaman dengan suasana aku kali ini."


"Nyaman bukan berarti tenang dan tentram, Sayang, ada yang meronta meminta belaian. Tolong persiapkan yang spesial untuk aku nanti malam ya."


"Realy? Aku masih pengen bebas satu purnama lagi boleh, entah lah aku merasa grogi buat nglakuin itu."


"Owh tidak diizinkan dong sayang, bisa-bisa senjataku karatan. Ini aja rasanya aku pengen ngurungin kamu di kamar kalau nggak ingat kerja."


"Satu minggu lagi masih bisa ditahan nggak?" nego Rania merasa perlu. Walau ada rasa rindu akan sentuhannya, namun bayangan sekelebat melahirkan masih begitu terasa mendominasi.


"Jangan khawatir Sayang, aku pemain handal, kamu akan merasakan sentuhanku begitu candu sampai melenakan," ucap Ray yakin.


"Oke, kita lihat nanti, semoga hari ini harimu menyenangkan dan malam ini menjadi keberuntungan untukmu."


"Makin embul aja nih pipinya, cepet besar sayang, nanti mau punya adek berapa ya?" gurau Ray sembari mengelus kepala si mungil yang tengah asyik meminum sumber air kehidupannya.


"Nggak usah banyak-banyak, dua anak cukup deh kayaknya," ujar Rania menimpali.


"Kurang ramai, masa cuma dua, bila perlu tiga empat lima enam hingga belasan," guraunya terkekeh pelan.

__ADS_1


"Hooh yang delapan anak tetangga yang lagi main. Kamu enak banget tinggal request, akunya kapan istirahat."


"Ahai, kamu tidak tahu ya Sayang, berawal dari kesebelasan goal-goal itu tercetak dari sebuah harapan. Kalau kemarin masih di titik tertentu besok mungkin kita harus selangkah lebih maju, seperti misalnya apa yang sedang kamu inginkan untuk setahun ini?"


"Kamu dan Juan, serta anak-anak kita adalah mimpi terindahku yang terukir satu-satu. Namun, aku juga punya goals untuk merampungkan study dan juga merampungkan masa magang yang sempat tertunda."


"Apa kamu tidak bahagia?"


"Demi Allah ... aku bahagia lahir batin, tidak harus tepat waktu asal kesempatan itu masih teraih, aku adalah orang yang harus banyak pandai bersyukur. Kamu suami yang luar biasa Mas."


"Kamu juga istri yang luar biasa dan lebih dari spesial. Kayaknya kata yang paling cocok untuk aku sematkan adalah, wanita istimewanya Mas Ray yang hakiki."


"Kamu terlalu berlebihan Mas, mleyot beneran lama-lama kakiku lemes denger gombalan recehmu."


Ray tersenyum sembari mencium puncuk kepalanya. Saat ini mereka masih di kamar dengan Rania yang masih sibuk memberi ASI.


"Aku berangkat dulu, baik-baik di rumah," pamit Ray menyambar pipi kanan dan kirinya dengan kecupan sayang. Setelah istrinya menyalim tangannya.


"Iya Mas, hati-hati di jalan, jangan pulang terlambat. Semoga harimu menyenangkan."

__ADS_1


"Telepon aku saat jam istirahat, jangan telat makan siang sambil inget wajahku yang rupawan. Love you ... assalamu'alaikum!" pamit Ray selalu manis.


"Waalaikumsalam ... love you too."


__ADS_2