Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 85


__ADS_3

"Ma, Rania pamit ya, maaf nggak bisa cuti lama-lama. Mama baik-baik ya di rumah."


"Iya sayang, kamu juga sehat-sehat di sana. Sering berkabar dan selalu bisa jaga diri. Pamit dulu sama Nenek," ujarnya penuh wejangan.


"Siap Mah, duh ... benernya masih kangen dan berat banget ninggalin Mama di saat gini." Rania kembali memeluk ibunya dengan sayang. Rasanya alot meninggalkan beliau saat hatinya masih diselimuti duka.


"Pah, titip Mama, awas kalau bikin Mama nangis, aku berangkat dulu."


"Kamu kok ngraguin pa-pa, Ra, bahkan separuh jiwaku terpatri pada mama kamu. Mana mungkin Papa bikin nangis. Iya kan sayang," jelas Biru pada istri dan anaknya. Inggit hanya menanggapi dengan senyuman.


"Ingat pesan Papa ya, Ra, Rayyan udah Papa telepon sih, supaya jangan macem-macem. Awas aja kalau tuh anak nakal. Perempuan harus pandai menjaga diri, contoh tuh mama kamu. Perjalanan karir kamu masih panjang, setidaknya kamu punya bekal sebelum benar-benar mengarungi mahligai pernikahan. Tolong jangan kecewain kami yang sangat menyayangimu," pesan Papa Al yang mendadak membuat Rania sendu.


Masih ingat selalu untuk senantiasa menjaga amanah itu. Semoga bisa lulus ujian kehidupan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


"Kamu minta diantar Kenan aja. Atau mau bawa mobil sendiri asal jangan urakan lagi, boleh."


"Nggak usah Pah, aku udah panggil taksi. Nanti pakai travel aja nggak pa-pa. Kost aku dekat kok, bisa pakai motor eyang. Berangkat dulu, assalamu'alaikum ....!" pamit Rania pada seluruh isi rumah.


Selalu mengharukan setiap ada perpisahan. Padahal masih bisa berhubungan via ponsel, tapi selalu saja mellow dan kebersamaan dengan orang-orang tercinta itu selalu Rania rindukan.

__ADS_1


Begitupun dengan kekasih hatinya yang kurang lebih tujuh puluh dua jam telah menahan rindu. Pria itu bahkan sudah menunggunya di kost Rania saat gadis itu tiba. Seakan tak ingin melewatkan sedetik pun dari kisah cerita mereka. Sore itu, sepasang sejoli yang telah berikrar cinta demi waktu yang siap menyaksikan perjalanan mereka. Bersaksi demi jarak yang sebenarnya sedang membangun sekat agar senantiasa terjaga. Demi kasih agar tetap utuh hingga keduanya halal dalam satu rindu.


"Mas, kamu nggak ngantor? Kok di sini? Rumah sakit butuh dokter bedah tuh," selorohnya menggeleng kecil.


"Sayang, please ... aku bela-belain ke sini pulang kerja karena benar-benar udah rindu. Tolong jangan diusir." Rayyan mengikis jarak hendak berhambur dalam pelukan, namun gadis itu segera mundur.


"Eh, cut, cut! Jaga jarak aman. Dilarang menempel, bahaya tegangan tinggi!" selorohnya menahan tubuh pria itu.


"Apaan sih, nggak jelas banget," jawab Rayyan menarik tangan Rania hingga tubuh itu sempurna dalam dekapan.


"Kangen, Dek, peluk aku sebentar saja, janji sebatas itu, lebih sedikit cium juga boleh. Aku rindu dengan rasa salivamu," kata pria itu sembari memeluk dengan penuh perasaan.


"Baru di kasih rambu-rambu dilarang menempel, eh malah minta disayang-sayang. Bagaimana ceritanya ini."


"Nggak ada yang menarik, selain cerita kita. Ayo sayang, aku tunjukan sesuatu untukmu," ujar Rayyan sedikit maksa.


"Apaan? Nggak mau ah, capek mau siap-siap nata barang-barang. Lagian besok masuk, tugas aku banyak, please jangan modus!"


"Astaghfirullah ... aku tuh nggak akan ngerecokin, cuma mau bikin kamu nyaman. Jangan diturunkan apa pun yang ada di koper, kemas semua barang-barang kamu. Kamu diusir dari kost!" ucapnya spontan.

__ADS_1


"Hah! Beneran? Ngadi-ngadi kamu, orang aku bayarnya juga tepat waktu. Bohong banget."


"Oke, gini aja deh, ikuti aturan aku, nurut, nanti aku jelasin, yang penting kemas semua barang yang tersisa di kost."


"Aku nggak mau tinggal bareng kamu, aku mau di sini aja."


"Nggak, bukan tinggal bareng sama aku, cuma tinggal di apartemen yang udah aku beli untukmu. Kamu pakai ya, biar tempat singgah kamu nyaman. Lagian itu dekat dengan hunian aku, jadi aku bisa kontrol kamu berapa jam pun yang aku mau. Di sana sistem keamanannya juga baik, jujur aku kepikiran Jo bakalan datang dan merusak suasana. Please ... tolong jangan tolak."


"Aku tinggalnya nggak bareng sama kamu, 'kan? Aku nggak mau kalau serumah, nanti kita dikira pasangan kumpul meong. Meresahkan sekali!"


"Nggak, Dek Rania sayang. Aku tetap tinggal di rumah aku, kamu tinggal di apartemen. Kita boleh mengatur jadwal pertemuan kita kalau kamu merasa tidak nyaman, tapi—mungkin hati kamu yang nggak aman. Udah terlanjur bucin," ujarnya yakin.


"Kayaknya kamu deh yang bucin, nempel mulu bawaannya. Awas aja kalau di rumah sakit bak frezzer berjalan. Gue sumpahin jomlo seumur hidup!"


"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah! Jangan! Ralat sayang, jahat banget mulutnya!" pekik Rayyan tak terima.


Pria itu merapatkan diri dengan cengiran devil di wajahnya.


"Serem amat, sih! Iya iya, maaf, aku yang akan menemanimu nantinya melewati setiap lembaran-lembaran yang akan kita ukir bersama! Hingga maut memisahkan!" kata Rania puitis.

__ADS_1


__ADS_2