Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 22


__ADS_3

"Ra, kamu lucu banget sih, sampai pucet gitu," goda Rayyan mengulum senyum. Semenjak ketemu gadis itu, ia seperti menemukan jiwa muda dan semangatnya kembali. Ternyata menggodanya menjadi booster tersendiri untuk jiwanya yang tengah galau merana.


Rayyan membuka pintu kamar mandi sedikit, menemukan asisten rumah tangganya hampir rampung mengemas kamar.


"Mbok, keluar sebentar ya, aku mau ganti, atau beresinnya nanti saja," pinta Rayyan mengusir sopan.


Mbok Ijah lekas mengerti, perempuan yang tak lagi muda itu bergegas keluar kamar dan menyiapkan sarapan yang ia bawa dari rumah Bu Wira. Mbok Ijah itu pembantu orang tuanya Rayyan juga yang akan berkunjung di hari-hari tertentu untuk membersihkan rumah anak majikannya itu.


"Keluar Ra, udah aman, cepetan mandi, kita sarapan di jalan saja atau kalau nggak bawa bekal nanti," ucapnya sembari mengenakan pakaiannya sendiri.


Rania bergegas keluar dari ruang yang memenjara dirinya beberapa menit itu. Gadis itu keluar dengan cepat, dan langsung menuju kamarnya. Mandi kilat, dan segera mengenakan pakaiannya.


"Ra, udah?" tanya Rayyan yang sudah menunggu di depan pintu kamar. "Ayo berangkat!"


Rania bergeming, ia masih malu dan bingung sebenarnya dengan kejadian yang tadi, tetapi sepertinya Dokter Rayyan yang rada-rada itu sudah melupakannya atau bersikap biasa saja. Membuat gadis itu pun, harus tebal muka dan bersikap cuek, layaknya tidak terjadi hal yang tidak enak dikenang.


"Lho, Den Rayyan? Nggak sendirian to ternyata," tegur Mbok Ijah kebetulan melewatinya.

__ADS_1


"Iya Mbok, Rayyan berangkat dulu ya," ujar pria itu sembari menyambar bekal yang sengaja dibuatkan untuknya dari mama.


"Makasih ya Mbok, tolong bilangin ke mama," ucap pria itu sembari menarik tangan Rania untuk cepat memasuki mobil, sementara Mbok Ijah senyam-senyum penuh arti melihat majikannya punya pacar baru.


Mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


"Ra, tolong itu bekalnya dibuka, terus dimakan, itu buatan mama yang selalu dibawakan Mbok Ijah setiap kali datang, kamu makan cepat kok malah bengong, kamu nggak bakal sempat sarapan," titah Rayyan melirik bekal yang sengaja ditaruh di foldable car cup holder.


Pria itu tahu betul suka dukanya anak koas jika sudah di rumah sakit, yang kadang tidak sempat makan karena banyaknya pasien, berasa dikejar-kejar deadline kesehariannya.


Rania mengeryit, serasa aneh saja ternyata Dokter Rayyan yang tampan, rupawan, dan mesumnya nggak ketulungan itu anak mami yang masih sangat diperhatikan, wow sekali, bahkan dirinya saja tidak ingat kapan mama Inggit memberinya bekal, mungkin pas taman kanak-kanak. Perempuan itu pun mengulum senyum, berasa lucu dan tidak menyangka. Dengan sedikit meragu, gadis itu mengambilnya dan membukanya. Ingat betul susahnya menyela untuk waktu istirahat, apalagi pas pasien lagi banyak-banyaknya. Gadis itu makan di mobil, Rayyan meliriknya dengan senyuman.


"Dokter jadi nggak makan dong, padahal ini ibunya Dokter pasti udah niat banget masakin buat Dokter."


Nggak pa-pa Ra, mama pasti seneng yang makan calon mantunya. Hehe, edisi oleng. Com.


"Boleh nyicip nggak Ra, enak kayaknya," ujar pria itu membuka mulutnya.

__ADS_1


Rania menatapnya ragu, namun dengan tindakan pasti akhirnya tangan itu terulur untuk menyuapi pria itu. Tentu saja Rayyan mengunyah penuh semangat.


"Kamu juga dong, makannya cepetan dikit, nanti bisa telat." Pria itu mengambil sendok dari tangan Rania lalu menyuapinya tanpa ragu. Jadilah tanpa sadar mereka saling menyuap, membuat batin pria itu berjingkrak senang.


"Aku kenyang Dok," tolaknya saat Rayyan hendak menyuap entah yang ke berapa.


"Ya sudah, biar aku habisin dulu," jawab Rayyan menghabiskan sisa makan mereka.


"Makasih Dok, saya duluan ya." Rania mengangguk sopan. Rayyan membalas dengan senyuman.


Gadis berparas ayu itu langsung menuju ke poly obgyn. Seperti biasa mengisi daftar kehadiran. Tepat pukul tujuh mengikuti apel pagi rutin sebelum memulai kegiatan. Barulah sekitar jam sembilan poly terlihat ramai.


Menjalani koas harus siap tenaga dan mental kuat, karena harus siap presentasi dadakan oleh konsulen. Banyak koas yang pasti menghadapi hal ini tentunya. Seperti Rania harus terpaksa mengerjakan tugas referat yang kadang sampai larut malam hanya karena mempersiapkan kalau-kalau besok paginya disuruh presentasi dadakan.


Gadis itu merasa lelah karena berdiri terlalu lama, satu koas mengikuti satu konsulen karena kebetulan dokternya banyak. Hingga pukul dua siang ia merasa lelah luar biasa. Lelah membantu menangani pasien gawat darurat, sampai lelah dicecar pertanyaan-pertanyaan yang cukup banyak, sampai di mana Rania tidak bisa menjawab dan dijadikan PR untuknya.


"Belajar lagi ya Dek!" pesan dokter masih terngiang-ngiang hingga menjelang istirahat sore ini.

__ADS_1


Baru saja gadis itu menghela napas lega, vibrasi handphonenya memekik mengusik atensinya. Nama dokter tampan terpampang di layar ponselnya, dengan sedikit tidak minat, gadis itu menggeser tombol hijau lalu mendekatkan benda kesayangan sejuta umat itu ke telinganya.


"Ke ruangan aku, Ra, aku tunggu nggak pakai lama!" telepon dimatikan sepihak tanpa gadis itu berbicara.


__ADS_2