
Rania langsung disambut tim medis dibawa ke ruang bersalin VVIP yang sudah disiapkan khusus menyambut generasi penerus Wirawan. Semua dokter dan perawat nampak siaga empat lima.
"Mas ... aku tidak mau tiduran, sakitnya tambah kerasa, seperti menikmatinya," ujar Rania menarik diri. Memilih mondar-mandir jika nyeri itu kembali muncul.
Dokter dara juga menyarankan untuk aktivitas kecil sesuai kenyamanan calon ibu.
"Mas ... sshhh ... usap yang kenceng Mas, punggungku panas pegel, rasanya mau patah," keluh Rania tak karu-karuan. Ternyata kontraksi luar biasa sakit. Perempuan itu memilih normal karena memang tidak ada kendala suatu apa pun dan semuanya sehat.
Semua keluarga besar Wirawan dan Albiru nampak sudah hadir di sana. Mereka ikut bahagia sekaligus cemas menanti cucu pertama untuk dua keluarga besar mereka lahir ke dunia.
"Sayang, kamu pasti bisa! Rasa sakit ini akan segera hilang berganti dengan bahagia setelah melihat anak kamu lahir nanti. Mama mendoakan kamu dari sini, Nak, bismillah. Bisa sayang istighfar yang banyak kalau lagi kenceng," pesan dan wejangan Mama Inggit dan Ibu Wira ikut juga mendampingi persalinan mereka.
Kedua calon nenek itu merasakan kecemasan yang sama. Sebelum akhirnya menunggu di luar harap-harap cemas menanti kelahiran cucu mereka.
Rayyan kembali mendekati istrinya yang masih sibuk berjalan ke sana ke mari untuk menyamarkan rasa nyeri yang kembali menyapa.
"Mas!" panggil perempuan itu. Mukanya mrengut dan mendung, bukan marah tetapi tengah berjuang menahan rasa yang semakin lengkap campur aduk. Pegel, nyeri, panas, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Semua rasa sakit itu seakan menjadi satu.
__ADS_1
"Istighfar sayang ... sini aku usap-usap," ucap Ray memberikan semangat. Pria itu tak sekalipun beranjak dari sana. Ia terus mendampingi Rania yang kadang mengeluh, ngedumel, dan mengucap istighfar beberapa kali ketika rasa nyeri kembali menyapa.
"Mas ... ini semakin sakit," keluhnya dengan muka merah padam menahan gejolak yang menghampiri.
Dokter Dara kembali memeriksa pasien yang ternyata sudah pembukaan tujuh. Belum lengkap tetapi rasa mulesnya semakin terasa. Rania juga nampak sudah mengatur napas dipandu dokter Dara yang menemani persalinan.
"Dok, aku mau kamar mandi dulu," ujar Rania merasa sesuatu ingin keluar.
Rayyan sigap membantu. Pria itu memapah istrinya dengan telaten, darah juga sudah merembes dari jalan lahir. Usai dari kamar mandi Rania dibimbing kembali ke bad. Rasanya sudah tidak karu-karuan. Ingin segera menyudahi rasa sakit itu.
"Nggak nangis, tetapi ini sakit banget," jawab Rania lirih. Menjatuhkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Rania duduk di pinggir ranjang sembari gelendotan di tubuh suaminya, sementara Ray berdiri sambil mengelus-elus punggungnya. Sesekali mencium puncak kepalanya dengan sayang.
Tidak tega melihat itu, tetapi juga tidak bisa berbuat banyak calon bapak itu selain memberikan dukungan dan doa. Berkali-kali pria itu mengelus perutnya yang bentuknya bahkan sudah tidak simetris.
"Rebahan kanan, Dek, sini aku usap," ujar Ray membimbing. Tidur miring akan mempercepat kontraksi.
"Ssshhh ... Mas, ini semakin sakit, kenceng banget ya Allah." Seketika Rania merasa basah, air ketubannya sudah pecah.
__ADS_1
Dokter Dara dan tim medis yang membantu sudah siaga di tempat itu. Dokter Dara juga sudah bersiap dengan memakai apron dan sarung tangan steril. Rania sendiri sudah merasakan lebih sakit dan lebih sering nyeri itu terasa.
"Siap Ibu, tolong ikuti aba-abanya ya?" kata Dokter Dara mulai membimbing. Setelah sebelumnya kembali memeriksa dan ternyata sudah pembukaan lengkap.
Rania mengangguk ngerti, rasa sakit yang luar biasa kembali menghampiri. Perempuan itu mulai mengejan dengan bimbingan dokter. Seketika Rania mengingat perjuangan ibunya. Ternyata melahirkan seorang generasi penerus luar biasa seperti ini. Membuatnya terpacu semangat dan ingin berusaha lebih sayang lagi pada sang Mama bila ada kesempatan.
Ray sampai tak tahan melihat perjuangan ini. Ia menangis seraya menggenggam tangan istrinya. Mulutnya tak berhenti melafalkan doa kebaikan. Berbisik doa tepat di samping kepalanya.
"Ayo ibu ... tarik napas ... keluarkan! Rileks dulu, nanti setelah terasa kencang dorong dengan tenaga ibu. Bismillah ibu ... kencang dorong!" ucap Dokter memberi aba-aba.
"Kenceng Dok! Huh ... huh ....!"
"Ayo ibu dorong yang kuat, lebih kenceng, kepalanya sudah mengintip. Semangat ibu ayo sambut dedeknya!"
"Yes ... alhamdulillah!" pekik dokter bersahut syukur terucap seiring suara tangis bayi menggema di seisi ruangan.
Ray tak berhenti menciumi Rania dengan perasaan lega luar biasa saat bayi mungil itu telah keluar. Rania pun merasa pegal itu telah lenyap berganti dengan bahagia dan haru. Hari ini telah menjadi ibu mendapat gelar baru dan amanah baru.
__ADS_1