
Pasangan romantis nan manis itu tiba di rumah eyang langsung disambut seisi rumah yang sudah menunggu. Mama dan papanya, Eyang Rasdan dan juga mertuanya yang begitu menyanyanginya. Semenjak mengetahui Rania hamil, tentu saja keluarga besar Wirawan sangat bahagia menyambut calon cucu pertama mereka.
"Assalamu'alaikum ... Ma, Pa!" sapa Rania menyalim seluruh anggota keluarga yang nampak tengah mengobrol.
"Waalaikumsalam ... alhamdulillah ... anaknya udah datang. Bagaimana ujiannya Sayang? Lancar?" tanya Mama Inggit mewakili semua orang yang sama kepo.
"Alhamdulillah ... lancar Ma, ada yang susah tapi banyak yang bisa. Insya Allah aman," jawab Rania yakin.
"Syukurilah ... seneng dengernya. Masih mual muntah?"
"Kadang-kadang aja Ma, kalau pas lagi kebetulan makan apa gitu ngerasa nggak sreg ya mual, sama pagi hari itu lumayan sering tapi udah nggak parah," curhat perempuan itu sembari mengambil sikap duduk.
Ray mengikuti jejak istrinya, namun ia memilih duduk lesehan di karpet berbulu sembari gelendotan di kaki istrinya. Mereka tengah berkumpul di ruang tamu. Sengaja memilih rumah eyang dari pada di resto atas permintaan eyang tentunya.
Dua keluarga itu saling berembug, berhubung Rania juga sudah selesai menjalani masa koas yang cukup menyita waktu dan tenaganya, mereka sepakat mengadakan pesta pernikahan mereka akhir bulan ini saja sekalian pemindahan jabatan Ray sebagai pengganti ayahnya yang ingin pengsiun. Atau lebih tepatnya ingin banyak meluangkan waktu di rumah bersama keluarga. Tinggal menuai panen dengan santai menikmati masa tua.
"Terserah Papa saja, kita ngikut," ujar Rayyan setelah mencapai keputusan mufakat.
"Semoga saja acaranya lancar ya Sayang, sehat-sehat selalu baby kalian. Apa sudah diperiksa terus tahu jenis kelaminya?" tanya Bu Wira antusias.
"Belum kentara Ma, aamiin ... terima kasih doanya, Ma. Besok insya Allah ... chek up lagi."
__ADS_1
Setelah berdiskusi eyang menjamu tamu besan dengan berbagai makanan yang cukup banyak. Perempuan sepuh itu begitu antusias menyambut tamu besan hari ini. Semua beralih ke meja makan dan menempati kursi yang telah tersedia.
"Mas, mau pakai sama lauk apa?" tanya Rania meladeni suaminya.
"Ambilin porsi sedang, Dek, lauknya .... " Rayyan bingung sendiri. Beragam menu tersaji di sana.
"Cap cay seafood sama burrito isi daging dan sayur aja," ujar Ray menentukan pilihan.
Rania sengaja mengambil satu porsi besar untuk berdua. Rasanya kangen makan sepiring berdua, bahkan sesendok bersama.
"Banyak banget sayang, aku separonya aja," protes Ray menggeleng.
"Sama buat aku, Mas, sini aku suapin," ujar Rania perhatian.
"Ray, kamu manja bener, ini mah kebalik, seharusnya Rania yang disuapin," protes Bu Wira gemas melihat keuwuan anak dan menantunya.
"Barengan Mah, biar lahap makannya," jawab Ray santai.
Usai jamuan Bu Wira dan Pak Wira pamit undur diri. Sementara Rania masih ingin berlama-lama di rumah eyang. Bertemu dengan Mama Inggit selalu membuat Rania terbawa suasana bahkan susah pulang.
"Nginep aja ya Mas, aku masih kangen," rengek Rania enggan balik ke rumah.
__ADS_1
"Nggak pa-pa kalau main dulu, nanti pulang agak malam kalau masih kangen,, ujar Ray tak setuju.
Rania pun menjadi tidak tenang dan leluasa. Menikmati waktu bersama orang tuanya yang hanya sebentar-sebentar.
"Besok Mama yang main ke rumah, janji deh sekalian bikin bahan rujak. Besok Mama yang belanja, sekarang pulang dulu nggak pa-pa kasihan suamimu udah capek," ujar Mama Inggit cukup pengertian.
Persis seperti Papa Al kalau nginep di rumah Romo, musti banget tuh orang nggak bisa lama-lama. Sekarang saja baru bisa. Jadi mengerti betul kalau mungkin merasa kurang nyaman selain tidur di ranjangnya.
"Musti banget harus cepet-cepet itu kenapa sih Mas, pengen nginep," protes Rania manyun.
"Besok kan mama mau main ke rumah, bisa ketemu lagi. Udah jangan cemberut," ujar Ray menenangkan. Mengusap lembut kepalanya lalu mencium pipinya. Ray dan Rania sudah di dalam mobil hendak pulang.
Rania pun mengiyakan, jika suaminya sudah bertitah ia bisa apa selain mengiyakan. Sampai rumah cukup malam. Rania langsung masuk kamar. Menaruh tasnya dan melesat ke kamar mandi. Ray mengikuti jejak istrinya, pria itu menyambar handuk menyusul bebersih juga.
Kepenatan seharian langsung rontok usai bersih-bersih. Sebelum menuju tempat pembaringan, Rania menyempatkan diri dulu memanjakan mukanya dengan sentuhan krim malam dan perlengkapannya. Sementara Ray sendiri sudah lebih dulu menuju kasur. Pria itu tengah menyibukkan diri dengan ponselnya sembari menunggu istrinya.
Ray langsung mematikan ponsel lalu menyinggahi begitu istrinya merangkak ke ranjang. Pria itu menyambutnya begitu hangat.
"Sini Dek," ujar Rayyyan menepuk satu lengannya agar menjadi bantalan. Rania pun mendusel lembut di sana tanpa penolakan. Seketika membuat Ray merasa begitu lega. Akhirnya malam ini bisa tidur merapat dengan penuh keromantisan.
.
__ADS_1
Bersambung.
Kisah ini masih berlanjut ya gaes tapi tinggal daily life yang unyu2 saja. Terima kasih yang masih mengikuti. Silahkan lihat juga novel lainya dengan klik profil aku. Yang belum baca "Main Hati With Iparku" kepoin yuk ... seru banget loh! Kenalan sama Mas Gama dan Nessa