
"Mati aku!" gumam Rania panik sendiri melihat Rayyan yang masih terlelap di ranjang.
"Sial! Kenapa nih domes malah nginep di sini sih, Jo di luar lagi, tamat riwayat gue!" gerutu Rania panik sendiri. Turun dari ranjang dengan muka bingung.
Serasa ingin membangunkan Ray tetapi nanti bisa berulah, atau mengusir Jo namun sungguh tidak mungkin. Rania dilema sendiri, mendadak kepalanya mumet dan nyut-nyutan tujuh keliling.
"Rania!" Pria itu terus mengetuk pintunya
"Iya Jo, bentar!" sahut Rania tak tahu harus melakukan apa. Menggigit bibir bawahnya sembari memegang kepalanya mencari solusi.
"Lagian kenapa sih tuh pacar kerajinan amat pagi-pagi pakai jemput segala, biasanya juga nggak pernah. Duh ... bikin ribet hidup gue aja!" Gadis itu mondar-mandir tak tenang.
"Ra, buka dong sayang, masih tidur ya!" seru Jo tak sabaran.
"Udah bangun kok, bentar ya Jo, aku siap-siap dulu, aku mandi bentar!" sahutnya merasa tak aman.
"Siapa Ra?" Tiba-tiba Rayyan terbangun dan bersuara membuat Rania seketika membungkam mulutnya.
"Apa sih, aku susah napas sayang, pagi-pagi jangan bikin gemesh."
"Shhhttt ...! Bisa diem nggak sih, di luar ada Jo jemput aku, tolong kerja samanya. Please ....!" bisik Rania memohon. Hatinya diliputi gelisah yang mendalam.
"Owh ... ada Jo, bagus dong bisa kenalan sama aku," jawab Rayyan santai.
"Kamu gila, aku nggak tega bikin dia sakit hati, please ... jangan nekat!" mohon Rania di titik nadir.
"Apa imbalanya buat aku kalau aku tetap menyimpan rahasia ini," ujar Rayyan memanfaatkan kesempatan.
__ADS_1
"Terserah!"
"Beneran terserah?"
"Iya, iya, bawel banget sih, bisa diem nggak sih!"
"Oke, nanti malam ikut ke rumah mama ya terus bilang kamu siap nikah sama aku. Deal!"
"Kok gitu, nggak mau, nggak deal!" tolak Rania gemas.
"Ya udah aku mau keluar, terus bilang kalau kita punya hubungan dekat lebih dari rekan kerja."
"Dokter ngeselin banget sih!" Rania mencebik kesal.
"Ya udah kalau nggak mau, aku keluar sekarang," ucapnya beranjak sembari merapikan rambutnya yang lumayan berantakan.
"Bentar Jo, bentar aku mandi dulu," jawab Rania mondar-mandir kurang kerjaan.
"Gimana sayang, bikin pengakuan sama mama atau memilih ke grebek pacar," ujar Rayyan santai.
"Oke, aku mau," jawab Rania di titik buntu. "Awas aja kalau berani melanggar, aku mau mandi dulu," pamitnya mlipir.
"Bareng, aku juga mau mandi," ujar Rayyan santai tanpa dosa.
"Gila ya, ngapain? Please Mas Ray sayang jangan ngadi-ngadi."
"Kenapa Ra, takut banget ya aku nekat?" Rayyan tersenyum santai. Sementara Rania mendelik kesal.
__ADS_1
"Oke sayang, anggap saja hari ini aku sedang berbaik hati, bahkan sangat baik. Beri aku semangat pagi ini, aku mau kamu yang berinisiatif sendiri membuat aku melayang."
Brengsek nih orang! Emang nggak bisa gue biarin, Oke, gue bakalan balas nanti tunggu saatnya tiba! batin Rania jengkel.
Rania yang putus asa didesak dan kepepet akhirnya memutuskan mengikis jarak dan mencium pria itu dengan seduktif. Gila, ya katakan saja mereka gila, di saat di luar sana ada orang yang menunggu dengan sabar menanti seseorang, yang ditunggu bahkan tengah sibuk bertukar saliva. Sungguh perangai kekasih lucknut sangat tepat menjadi gelar dalam dirinya.
Rania melepas pagutan itu dengan jengkel, sedikit mendorong dada Rayyan yang enggan melepas penyatuan mereka.
"Kamu mengesankan kalau sedikit nakal, makin cinta nih aku, udah sana keluar nggak usah mandi nggak pa-pa, mau ketemu Jo nggak usah cantik-cantik, aku mau pakai kamar mandinya. Love you sayang," ucap Rayyan nyengir tanpa dosa. Melenggang masuk menyerobot ke kamar mandi tanpa perasaan. Ingin sekali Rania menendang pintu itu, lalu berteriak memakinya, sayangnya itu tidak mungkin atau Jo akan mendengarnya.
Perempuan itu mengepalkan kepalan tangannya gemas dengan gigi saling menekan. Kemudian menghirup udara banyak-banyak, mengeluarkan perlahan sembari menekan sabar. Hatinya penuh dendam tak berkesudahan, dengan apa adanya Rania akhirnya pagi ini berangkat ke rumah sakit tanpa mandi terlebih dahulu. Bahkan ia mencuci mukannya dengan air galon yang tersedia di kamar.
Poor you Rania Isyana
"Jo, maaf aku sedikit terlambat, ayo sayang berangkat," ujarnya bergegas.
"Pintunya nggak dikunci?" tanya Jo mengingatkan.
"Eh, iya lupa." Seketika Rania mempunyai ide gila untuk mengerjai pria itu dengan mengurungnya di kamar.
"Rasain, mampus lo!" batin Rania tertawa jahat.
"Kenapa sih sayang kok senyum-senyum sendiri," tanya Jo aneh melihat kekasihnya terus menarik sudut bibirnya semenjak keluar rumah.
"Nggak pa-pa seneng aja akhirnya kesampaian juga pagi hari dijemput pacar. Kamu sweet sekali Jo."
"Owh aku terharu, makasih sayang," ujarnya tersenyum sembari menggandeng tangannya.
__ADS_1