Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 91


__ADS_3

Rania terlelap dalam posisi yang sangat tidak nyaman. Mereka tertidur bersama, dengan Rayyan masih betah di pangkuannya. Kedua tangannya memeluk posesif. Hingga entah di jam berapa, Rayyan terjaga, merasa kasihan dengan calon istrinya yang masih terduduk. Ia pun segera menarik diri, lalu membenarkan posisi tidur Rania, menyelimuti, dan memperhatikan garis wajahnya yang tak pernah bosan ia pandang. Rayyan tersenyum simpul, menempelkan bibirnya di keningnya lalu ikut terlelap lagi hingga pagi di ranjang yang sama.


Keesokan paginya, saat Rania terjaga, dirinya hampir saja menjerit menemukan seorang pria di ranjang yang sama dengan bertelanjang dada. Spontan ia menutup mulutnya demi menghalau hati agar tenang, meneliti dirinya sendiri dan alhamdulillah tidak terjadi suatu apa pun. Ya, semalam mereka kembali tidur satu ranjang, namun tidak ada hal lebih selain sebatas menghangatkan.


Rania langsung bergegas ke kamar mandi, melakukan aktivitas pagi seperti biasa, ibadah, mandi dan juga mengganti pakaiannya. Baru ia kembali beranjak, membangunkan seseorang yang masih terlelap begitu nyaman di bawah gelungan selimutnya.


"Mas, bangun! Calon imam, bangun dong udah subuh!" Rania mengelus-elus pipinya dengan lembut.


"Dek, kamu udah rapih aja, jam berapa?"


"Setengah lima Mas, bangun dong, mau jadi calon imamnya Rania nggak? Aku mau nikah cepat, tapi perbaiki dulu pagimu yang buruk, besok harus bangun lebih awal sebelum subuh terus rajin ibadah, dan juga bisa menahan diri."


"Iya iya sayang, aku bangun. Ya Allah pagi-pagi udah dapat siraman rohani." Rayyan langsung melesat ke kamar mandi, membersihkan diri dan berganti pakaian yang telah Rania siapkan. Menunaikan sholat yang sudah tertinggal.


Sementara Rania sendiri, terlihat sibuk di dapur, membuat sarapan dan menyeduh dua minuman hangat untuknya.


"Jangan berani-berani memelukku dari belakang, awas aku lagi mode galak!" ancam Rania mendapati calon suaminya yang datang dan hendak menempel di pagi hari.


"Dih ... galak amat, nggak gitu juga kali konsepnya, masa cuma peluk aja nggak boleh!" ujar Rayyan tak terima. Dirinya bergerak manja di balik punggungnya hendak memberi kehangatan, namun Rania segera menghindar dan berpindah posisi.


"Dibilangin jangan nempel-nempel Mas, bisa nggak sih! Kok nggak ngerti-ngerti, pulang aja sana!" usir Rania galak sekali. Rayyan sampai tersinggung melihat perubahan sikapnya, pria itu mengira Rania tengah menjauhi darinya, padahal itu merupakan siasat menghindari dari diri ini terlibat semakin banyak dosa.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, aneh banget, apa ini ada hubungannya dengan Jo, iya, kamu terhasut oleh pria itu?" tuduhnya membawa-bawa orang lain.


"Kok marah-marah? Kenapa harus bawa-bawa orang lain, kamu nggak ngerti banget, aku tuh takut Mas, takut kita melampaui batas. Please ngerti nggak sih, kita cuma berdua." Rania meninggikan suaranya.


"Iya aku tahu, aku nggak akan apa-apain kamu kok, aku nggak mungkin kan berbuat memaksa, aku bisa ngontrol diri, kamu sensitif banget lagi PMS ya?" Rayyan melunakkan suaranya. Ia mendekat, namun Rania menjauh.


"Dek, aku salah apa, please jangan gini, semalam kita bahkan tidur berdua juga aman-aman aja."


"Maaf Mas, aku ingin kita menjaga jarak satu sama lain. Setiap kali aku terlalu dekat denganmu, aku merasa berdosa pada kedua orang tuaku, dan jujur aku takut aku khilaf. Bisa paham!" jelas Rania yang membuat Rayyan terdiam.


"Oke, aku paham. Nanti kita ke rumah orang tuamu ya, aku juga tidak ingin menunda lagi, takut lama-lama nggak kuat!" ucapnya jujur.


Saat keduanya tengah berseteru sengit, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Siapa yang pagi-pagi begini kerajinan sekali bertamu. Rania hendak beranjak, namun Rayyan mencegahnya, pria itu berjalan lebih dulu membuka pintu.


"Wao ... pagi-pagi sekali Anda bertamu!" celetuk Rayyan mendapati Jo sudah berada di depan pintu.


"Nggak salah, yang ngomong bukannya lebih pagi, merusak pemandangan saja," jawab Jo santai.


Rayyan tersenyum sinis, tidak memperbolehkan pria itu menerobos masuk.


"Ra, ini Jo, Ra!" pekiknya di ambang pintu. Rayyan yang tengah kesal bertambah kesal saja.

__ADS_1


"Siapa Mas?" tanya Rania yang menyusulnya. Merasa penasaran dengan tamu yang datang di pagi hari.


"Nggak penting Dek, nyasar!" ucap Rayyan sengaja.


"Ra, ini aku Jo, Ra!" pekiknya sekali lagi. Membuat pria itu mempunyai celah untuk mengobrol sebentar.


"Pagi Ra, sorry ganggu waktu kamu, aku cuma mau ngasih sarapan buat kamu, diterima ya sebagai ungkapan rasa terima kasih aku padamu karena semalam udah bantuin aku," ucapnya dengan nada lembut. Jelas sekali menekan sabar.


"Owh ... nggak usah repot-repot Jo, gimana keadaan ponakan kamu?" tanya Rania basa-basi.


"Demamnya udah turun, udah mendingan, anaknya nanyain kamu lho, mau nggak kamu jengukin dia lagi, pasti seneng."


"Makasih ya Jo, iya insya Allah nanti aku ke sana." Rayyan mendelik dan tak habis pikir melihat kelakuan Rania yang terlihat akrab saja dengan mantan pacarnya.


"Oke, aku tunggu ya?" ujar pria itu lalu beranjak. Sama sekali tidak merasa terusik dengan keberadaan seorang pria yang menghalangi dirinya di depan pintu.


"Dek, kok kamu terima makanan dia gitu aja sih, kalau isinya ada apa-apanya gimana? Serbuk obat mungkin? Atau sejenis obat tidur, bahkan terparah obat perangsang. Jangan coba-coba menyentuhnya!" ancam Rayyan galak.


"Kita nggak boleh nolak pemberian orang lain Mas, kasihan nanti tersinggung. Kalau kita tidak suka dengan makanannya, kita bisa kasih ke orang yang lebih membutuhkan, asal jangan sampai tahu saja."


"Kamu begitu pandai menjaga perasaan orang lain, tapi kenapa sama aku galak mulu perasaan?"

__ADS_1


"Astaghfirullah ... gini nih, cobaan orang kalau mau nikah, marahan mulu!"


__ADS_2