
"Makasih Jo, atas waktunya aku kerja dulu," pamit Rania melempar senyum.
Pria itu mengangguk dengan senyuman. Walau ada rasa tak rela, selalu seperti ini. Jo merasa tidak ada waktu untuk keduanya, bahkan di hari libur pun Rania tetap masuk seperti ini membuat Jo tak bisa berbagi hanya ingin sekedar memadu kasih.
"Oke," jawab Jo melepas kepergiaan kekasihnya.
Kesibukan keduanya memang cukup membuat hubungan mereka renggang. Jo sibuk kuliah dan bekerja, sedang Rania juga sama, apalagi pekerjaan Rania tidak mengenal waktu, bahkan pagi malam pun, semuanya dibabat jika waktunya bertugas. Jo benar-benar suka merasa kesepian. Tidak bisa dipungkiri, ia pun butuh sekedar have fun untuk bersama.
Rania pun merasakan hal yang sama, ketika dituntut dengan pekerjaan yang tak mengenal lelah, kadang masih harus mengerjakan seabrek tugas merasa butuh semangat dari orang terdekatnya, tetapi kadang Jo menghilang begitu saja bahkan tanpa pesan dan kabar. Membuat gadis itu merasa kehilangan, dan orang yang selalu mengisi memberi warna justru orang lain, yaitu Rayyan. Walaupun sifatnya pemaksa, tapi jujur Rania sudah mulai nyaman dan sering memikirkannya.
Ngomong-ngomong soal Rayyan apa yang sedang pria itu lakukan? Rania pun tersenyum sendiri sambil berjalan menyusuri bangsal, membayangkan betapa murkanya pria itu mengetahui fakta yang ada dirinya terkunci.
Tak mau ambil pusing, gadis itu pun melangkah gontai menuju ruang perawatan. Mulai bekerja pagi ini seperti biasanya. Sementara Rayyan yang baru saja selesai mandi, mengganti pakaiannya dengan santai bahkan pria itu bersenandung ria saat menata rambutnya.
Seketika senyum dengan batin bahagia itu lenyap kala mendapati dirinya terkunci dari luar. Rayyan mencoba membukanya tapi tak bisa, dan tak bisa.
"Sial! Rania ngerjain gue!" batinnya mengumpat.
Pria itu pun meneliti jam di ponselnya yang sudah menunjukkan di angka delapan. Pria itu harus praktik nanti jam sepuluhan. Bahkan ada jadwal operasi untuk pasien hernia.
__ADS_1
"Ra, kamu dalam masalah!" umpatnya kesal. Menghubungi telepon Rania berkali-kali namun tak ada jawaban. Mengirim pesan namun tak ada balasan. Karena gemas dan harus kerja, pria itu pun memutar otaknya dengan sedikit jengkel menelepon seseorang yang bisa membantu permasalahannya.
Pria itu memanggil tukang, untuk membukakan pintunya. Setelah penantian panjang yang memakan waktu berjam-jam akhirnya bisa keluar juga dengan bantuan si ahli pintu ajaib. Bahkan pria itu menduplikat kunci rumahnya, dengan begitu Rayyan bisa masuk ke kost itu kapanpun ia mau.
"Makasih Pak," ujar Rayyan sembari menyodorkan pembayaran.
"Sama-sama, terima kasih atas kerja samanya."
Rayyan tersenyum devil meninggalkan rumah kost Rania. Dirinya bahkan sudah mengantongi kuncinya.
"Kamu kena sayang," batinnya sumringah. Menyiapkan jebakan indah untuknya.
"Ra, lunch yuk!" ajak Jeje semangat. Menarik tangan sahabatnya.
"Bentar beb, aku mau ke belakang dulu," ujarnya mlipir menuju kamar mandi.
Ia membuka ponsel dan betapa banyaknya panggilan dan pesan dari Rayyan. Rania pun sedikit kepikiran tentang masalah yang mungkin akan ia hadapi, sungguh ia tak berani pulang ke kost sendirian sore ini.
Waktu istirahat mereka yang sebentar menjadikan mereka berganti jaga. Kadang sedang asyik makan tiba-tiba ada pasien datang yang cukup genting, atau tetiba ada tindakan yang harus disegerakan. Membuatnya berperang dengan waktu.
__ADS_1
Rania tengah menyantap nasi lauk di kantin rumah sakit tetiba netra mereka bertemu. Ternyata pria itu tengah memperhatikan dirinya dari arah berlawanan, menatapnya begitu tajam dan dingin.
"Astaghfirullah!" Gadis itu tersedak begitu saja mendapati Rayyan ada di sana.
"Pelan-pelan dong Ra makannya, kamu kenapa sih, habisin pelan aja perlu lah istirahat sejenak, udah kaya robot aja pikiran dan tenaga kita terkuras siang malam ampe nggak konsen makan, pikirannya hanya ujian dan praktik."
"Gue beneran mendekati stress deh, kayaknya mau mundur aja jadi dokter nggak kuat," jawab Rania mendrama.
"Semangat dong beb, kita berjuang sama-sama!" ucap Jeje menyemangati.
"Je, nanti pulangnya nebeng ya, terus lo anter gue ke kosan, gue mau pindah."
Ingin sekali rasanya Rania minggat dan menghilang, di mana tidak ada orang yang bisa menemukan dirinya. Sayangnya itu tidak mungkin, dirinya bahkan masih harus menyelesaikan beberapa stase ke depan untuk sukses menjadi dokter sungguhan.
Sore harinya Rania benar-benar meminta bantuan Jeje dan pulang ke rumah neneknya. Tidak dekat juga, tetapi lebih dekat dari pada harus pulang ke rumah. Di rumah Eyang Rasdan, Rania sedikit lebih aman setidaknya ia tidak akan dikunjungi Rayyan pada malam hari. Walaupun menghindar bukan solusi, setidaknya ia butuh ketenangan untuk memulai kegiatan esok hari. Apalagi Rania ada ujian esok hari, gadis itu perlu menyiapkan dengan belajar tenang malam harinya.
Benar saja, malam harinya Rayyan kembali menyambangi kost Rania. Pria itu mendapati ruangan itu kosong bahkan tak ada barang Rania pun yang tertinggal.
"Kamu beneran nantangin aku, Ra!" gumamnya jengkel.
__ADS_1