
Bangun, mandi dan bersiap berangkat ke RS Medika. Pagi hari pertama setelah mengambil cuti, dengan semangat empat lima tanpa hambatan, gadis itu melajukan motor scoopynya ke rumah sakit. Seperti biasa hari masih gelap karena matahari masih pada orbitnya. Suasana dingin yang mencekam membuat gadis itu membalut tubuhnya dengan jaket lumayan tebal. Lekas memarkirkan si kuda besi yang menjadi teman setia hari ini.
Hari ini Rania kembali ke rumah sakit, sedari pagi gadis itu sudah keliling bangsal untuk follow up pasien plus menulis SOAP dan GV (ganti verban), semua ia kerjakan dan berlaku untuk seluruh pasien bedah di mana pun berada kecuali di VIP.
Sekitar pukul enam, ikut visit konsulen. Entah disengaja atau kebetulan sekali pagi ini adalah Dokter Rayyan. Kendati demikian, mereka menjalankan dengan profesional.
"Kenapa senyum-senyum, Dek, serius sayang kita mau periksa pasien. Laporan yang tadi nanti aku cek," bisik Rayyan menginterupsi.
"Siap, Dok!" jawab Rania merasa ada yang berbeda.
Sedikit aneh ketika berjalan di koridor rumah sakit yang masih begitu pagi hanya berdua. Sungguh kerajinan sekali mereka. Eits ... ralat, itu sebagian dari tugas kesibukan yang melanda.
Rania mengikuti Dokter Rayyan ke mana pun, visit dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya. Setelah memeriksa pasien, Dokter akan bertanya-tanya tentang perkembangan hari ini. Semua laporan yang ia buat diserahkan padanya untuk ditinjau berdasarkan kondisi pasien saat ini.
Setelahnya mulai pukul tujuh lewat akan disibukkan di ruang OK bagi yang bertugas di ruang OK.
"Turut berduka cita, Boo, maaf kita nggak bisa nyusul," ucap Jeje berhambur memeluk sahabatnya setelah berjumpa. Mereka baru saja selesai apel pagi dan siap tugas hari ini.
Seperti biasa, IGD selalu hectic dengan pasien baru dari berbagai kasus. Beberapa menit yang lalu baru saja kedatangan pasien perempuan dengan luka bakar di separuh wajahnya. Perempuan yang tengah diperiksa itu terus mengaduh kesakitan lantaran melepuh akibat luka bakar yang cukup parah.
"Dokter! Panas Dokter!" pekik pasien itu uringan-uringan.
"Tenang, Kak, sedang kami periksa," jawab Rania menenangkan pasien yang sedikit labil itu.
__ADS_1
"Boo, tensi Boo!"
"Siap, lukanya mengenai kulit terdalam yang bisa menyebabkan cacat fisik permanen, mungkin bisa kita rujuk ke meja operasi," ujar Rania sembari memberi suntikan pereda rasa nyeri.
"Dokter, muka gue! Aaa ... panas!" Pasien berkisaran dua puluh lima tahun itu mengamuk dan rusuh tak karuan. Hingga beberapa dokter dan perawat yang berjaga ikut terjun menanganinya.
"Silahkan masuk prosedur pendaftaran, dulu Bu, sembari menunggu pemeriksaan keputusan tim medis untuk prosedur selanjutnya," ucap Jeje menginstruksikan pada keluarganya.
Semua yang berjaga merapat sibuk akibat pasien itu mengamuk. Bahkan tak sengaja mendorong Rania hingga kepentok tembok.
"Astaghfirullah ... duh ....!" ringis Rania menahan bahunya yang tiba-tiba terasa pegal akibat bersilaturahmi dengan dinding pembatas.
"Lo nggak pa-pa?" tanya Jeje mendekat. Ikut membantu sahabatnya pada posisi tegak.
"Bahaya nih, kayaknya stress!" ucap Jeje menggeleng pelan. Pasien sampai di loper ke dokter jaga lainnya.
"Itu namanya kecelakaan kerja, sabar Boo, stase ini hampir berakhir," ucap Jeje menyemangati.
Hari itu juga pasien langsung ditangani. Masuk ke ruang Ok dengan dokter spesialis bedah plastik. Kasus ditangani tim lain, sedang Rania kembali ke IGD. Berjaga hingga sore hari pukul empat. Sebelum pulang, perempuan itu menyempatkan diri ke kantin untuk mengisi perut akibat tadi siang belum sempat makan. Bersama teman sejawatnya menghabiskan sore hari di kantin rumah sakit.
"Gila sih, pasiennya ditangani malah histeris."
"Dia lebih kena ke mentalnya kayaknya, syok berat menyadari mukanya yang hancur. Wajar sih, denger-denger model, aset jualnya 'kan di wajah."
__ADS_1
"Kasihan, semoga operasinya berjalan lancar. Sepertinya Tama dan Asa yang tugas di ruang OK. Tegang-tegang deh tuh orang."
"Konsulennya siapa?"
"Kurang tahu, Dokter Ayu sepertinya."
"Ya Allah ... semoga ujian besok bisa dapat konsulen yang baik hati, ramah dan tidak pelit nilai. Aamiin."
"Dokter Rayyan, killer, moga gue nggak sama dia," imbuh Jeje diakhir doa.
"Siapa pun konsulennya moga lancar. Sumpah gue deg degan aja, nervous duluan kalau masuk meja operasi."
"Tegang, tapi tantangannya banyak. So kita berdoa aja semoga dipermudah dan lancar."
Sementara Rayyan sendiri nampak sibuk dengan beberapa operasi untuk hari ini. Sepuluh meja operasi di ruang OK penuh dengan berbagai kasus yang berbeda. Lelah, sudah pasti, istirahat adalah waktu yang paling tepat untuk memanjakan tubuhnya.
[Sayang, besok ujian ya, jangan lupa belajar]~ dr. Ray
Rania yang saat itu tengah sibuk di depan laptopnya menangkap tulisan di layar ponselnya dengan embusan napas panjang. Setiap perjalanan di setiap stase, akan ditutup dengan ujian tertulis, lisan, dan praktik. Semua harus dinyatakan lulus. Berdasarkan pengalaman koas kakak senior tahun lalu, ujian di stase bedah yang paling sulit dan banyak sekali yang mengulang dan itu membuat Rania sedikit waswas menghadapinya.
Seminggu ini Rania bahkan sudah belajar, karena berdalih fokus, perempuan itu juga sampai menolak pertemuannya dengan Rayyan selain di rumah sakit. Mereka hanya berkomunikasi mesra lewat ponsel, selebihnya saling menjaga dalam pandangan. Di rumah sakit keduanya banyak terlibat di tempat yang sama, namun keduanya bersikap profesional dan rapat menyembunyikan hubungan mereka. Setidaknya sampai lulus nanti walaupun banyak desas desus yang mulai curiga. Mengingat suka diam-diam diperlakukan istimewa di saat jam lainnya.
Masuk ke ruangan yang cukup dingin karena ber-AC dengan tatapan konsulennya yang cukup serius.
__ADS_1
"Udah siap Ra?"
"Siap, Dok!"