Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 163


__ADS_3

"Assalamu'alaikum ... Ayah pulang ....!" seru Ray menggema begitu memasuki rumahnya.


Sepi, ke mana anak dan istrinya? Mbok Ijah juga tak terlihat batang hidungnya. Apa lagi Suster Rini, sama sekali tak nampak.


"Pada ke mana sih, suami pulang bukannya disambut malah ditinggal pergi," dumel Ray menggerutu.


Pria itu menaruh jas kebesarannya dan tasnya asal. Tangannya merogoh saku mengambil ponsel. Lekas mencari nomor istrinya lalu medial sekali tekan.


Panggilan tersambung tetapi tidak diangkat sama sekali, membuat pria itu mengomel sendiri.


"Ya ampun ... ini kenapa nggak diangkat sih!" gerutu Ray uring-uringan sendiri. Rasa lelah bercampur kesal menjadi pria itu marah-marah kurang kerjaan.


"Kamu di mana sih Sayang ... Juan, aku tuh udah seneng banget, pulang cepet biar bisa ketemu sama kalian, kenapa malah pergi tanpa pamit."


Ray menghela napas panjang, berusaha berpikir positif, kali aja istri dan anaknya tengah berbelanja bulanan. Ya, mungkin saja. Lebih baik Ray mandi lalu menyambutnya pulang dengan senyum kerinduan.


Pria itu pun bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Ada yang aneh di sini, Ray yang kebiasaan diurus istri hingga pakaian gantinya mendadak tercenung ketika habis mandi tidak menemukan pakaian ganti.


"Duh ... kebiasaan ini mah, istriku memang luar biasa, tak nampak beberapa jam di mataku aku bagai burung tanpa sayap, tak bergairah," gumam pria itu seraya berjalan menuju ruang ganti.


Pria itu terkejut kala mendapati lemari istrinya kosong. Pakaian di sana hanya tinggal beberapa lembar saja.


"Apaan ini, kok pakaian Rania nggak ada?" gumam Ray bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


Ray yang masih bertelanjang dada keluar kamar begitu saja menuju kamar Juan. Rapi, tapi sama pakaian Juan juga banyak yang nggak ada di tempatnya.


"Tidak mungkin, tidak mungkin, Rania dan Juan tidak mungkin meninggalkan aku. Tidak mungkin!" sangkal Ray menyakinkan hatinya.


Pria itu kembali berlari ke kamarnya. Menyambar ponselnya lalu mencoba menghubungi istrinya kembali.


"Sial!" umpat Ray mendapati ponsel istrinya tidak bisa dihubungi sama sekali.


"Astaghfirullahalazim ... aku salah apa, ya Allah ya Rabb, tolong jangan beri aku ujian seberat ini. Aku tidak bisa kehilangan anak dan istriku." Ray mulai kacau.


Pria itu menelpon Axel, asisten pribadinya nampak menjawab dengan sigap seperti biasanya. Kurang dari dua puluh menit pria itu sudah menghadap atasannya di rumah yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Dok, apa yang terjadi?" tanya Axel tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Dokter sudah cek CCTV?"


"Astaghfirullah ... belum Xel, saking cemasnya sampai lupa."


Ray langsung ke ruang control di mana komputer CCTV-nya terhubung di sana. Pria itu segera meneliti komputer yang menampilkan keberlangsungan aktivitas hari ini.


"Dok, ini Bu Rania bawa-bawa koper, sama Juan juga dan dua pembantu Dokter, macam mau pergi saja. Mungkin Dokter ada salah yang tidak disengaja? Kenapa Bu Rania minggat tanpa pamit?"


"Aku? Salah sama istriku? Salah apa? Aku tidak merasa berbuat sesuatu yang fatal, ataupun menyakitinya. Seinget aku sih, tidak ada."

__ADS_1


"Perempuan itu hatinya sangat sensitive, kali aja Dokter ada salah, tanpa sengaja yang membuat Bu Rania diam-diam marah."


"Nggak ada Xel, bahkan tadi pagi aja baik, kita pamitan krk biasanya. Aku salah apa ya Tuhan ....!"


"Mohon maaf, Dok? Kalau Dokter merasa tidak punya salah? Kalau Bu Rania pergi, jangan-jangan Bu Rania merasa bosan dengan Anda."


Ray mendelik tajam ke arah Axel yang bermulut julid itu.


"Waduh ... ampun Dok, itu hanya prasangka terburuk kemungkinan yang bisa saja terjadi atau nggak sama sekali."


"Kamu bisa nggak sih kasih solusi yang bener!" bentaknya kesal. Ray mengacak rambutnya frustrasi.


"Dok? Ya ampun ... ini kan SW-nya Bu Rania, dia lagi dinner sama siapa? Kok romantis banget!" Axel bagai kompor bledug.


Ponsel di tangan pria itu secepat kilat berpindah posisi ke tangan Ray.


"Astaghfirullah ... siapa sih nih cowok, berani bener ngajakin istri orang dinner. Bosan hidup kayaknya. Cabut Xel, aku tahu tempatnya."


Dengan rasa panas bergemuruh di dada, pria itu akan menciduk istrinya yang terang-terangan bersama seorang pria. Hatinya begitu panas melihat semua itu. Dengan langkah lebar, Ray setengah berlari begitu mobil terparkir dengan benar. Suasana restoran nampak beda dari semenjak pria itu memasuki ruangan.


Terlihat Ray datang menghampiri meja di mana ia duduk dengan seorang pria. Tapi di mana pria itu, kenapa sekarang tidak ada.


"Kamu ngapain di sini? Di telepon nggak diangkat, malah kluyuran nggak jelas. Mana anak kita? Di mana pria yang tadi bersamamu?" murka Ray nyaris tak ada sabar.

__ADS_1


"Mas, datang-datang kok langsung marah-marah? Duduk dulu Mas?" ujar Rania lembut.


__ADS_2