
"Bilas Mas, aku mau pulang, nggak usah diantar aku mau pulang sendiri."
"Jangan, biar hafal jalannya besok juga aku mau datang."
"Serius, nggak di Jakarta aja, emang Om Wira bisa?"
"Bisa lah, buat anak kesayangan masa nggak bisa sih, kamu siap-siap ya, aku akan melamarmu. Cie ... lamaran," ledeknya pada diri sendiri.
"Kamu kenapa ngeyel banget sih, kenapa nggak di Jakarta aja, mama sama papaku juga pasti akan pulang kalau kakek sudah sembuh. Sementara mereka tinggal di sana, sembari mengurus bisnis keluarga."
"Biar yakin aja, kalau udah ada pertemuan orang tua kan itu artinya kamu sudah terikat secara tidak langsung, dengan begitu kamu tidak bisa lagi menggunakan hak bebasmu mengembara cinta atau pun menerima cinta dari pria lain."
"Aku sudah mengembara di hati kamu kali Mas ....!"
"Baru jalan-jalan, belum sepenuhnya singgah. Pastikan tetap tinggal, jangan coba-coba untuk berubah, kecuali rasa sayangnya yang bertambah."
"Kamu sweet banget sih Mas, aku nggak ngerti kenapa mantan-mantan kamu pada ninggalin kamu," ucap gadis itu sembari menangkup kedua pipinya.
"Mungkin, itu cara Tuhan menyatukan kita, tidak berjodoh dengan yang lainnya, tapi berjodoh denganmu," ucap Rayyan menumpuk tangan gadis itu yang masih menangkup pipinya. Keduanya saling menatap dalam senyuman. Lalu pria itu membawa tangan itu dalam genggaman dan mengecupnya dengan penuh perasaan.
"Makasih udah datang di saat waktu yang tepat," ucapnya begitu dalam.
"Walaupun kamu datang sedikit rusuh, tapi aku akui, aku semakin tidak bisa berpaling dari kamu walau sejenak kalau sikapmu kaya gini terus."
"Sayang, aku boleh tanya nggak?"
"Apa? Boleh kok, soklah jangan bikin aku penasaran."
"Sorry sih kalau rada sensitif, aku nggak pa-pa juga sih kalau memang sudah terjadi, karena aku mencintaimu kamu dan masa lalumu."
"Aku juga akan belajar itu," jawab Rania yakin.
"Mm ... beneran jangan marah ya, terus harus jawab jujur," ujarnya cerewet sekali.
"Kamu udah pernah ML?" tanya Rayyan serius. Dirinya benar-benar ingin memahami pasangannya nanti.
__ADS_1
"Ih ... ngomong apaan sih, emangnya aku cewek apaan!" Rania nampak tak terima. Perempuan itu langsung berdiri namun Rayyan menahannya.
"Dibilangin cuma pengen tahu, jangan ngambek."
"Kamu kok tanyanya gitu, jelas belum lah!" jawabnya meninggikan suaranya.
Rayyan tersenyum mendengar jawaban calon istrinya.
"Alhamdulillah ... makasih atas jawaban jujurnya," ungkap pria itu semakin melebarkan senyumannya
"kenapa? Kamu udah pernah ya, pasti udah sering," tuduh Rania penuh selidik.
"Belum juga, tapi pengen. Haha. Sama kamu ya?"
"Eh, baru juga bener udah oleng lagi, bohong, buktinya omes gitu."
"Beneran sayang, aku kalem!" jawab Rayyan yang membuat Rania muntah udara.
"Kok ekspresinya gitu, nggak percaya? Butuh test drive?"
"Aku mandi dulu ya? Kamu sekalian aja, ini udah basah. Kamu kalau takut aku macem-macemin, boleh pakai kamar mandi atas. Aku pakai yang bawah," ujarnya bijak.
"Nggak, mau mandi di rumah aja, biar kamu nggak deket-deket sama aku, banyak tegangan," celetuknya.
"Cie ... rupanya kamu juga merasakan," godanya tepat sekali.
"Ya ampun ... aku normal kali, tapi otak aku tuh masih waras. Nggak kaya kamu, setengah konslet terkontaminasi oleh—"
"Oleh apa, Ra?"
"Nggak jadi, cepetan mandinya Mas."
"Kamu duluan, udah setengah basah itu, nanti masuk angin. Nurut dong sayang."
"Kamu nanti ngintipin, nggak aman!"
__ADS_1
"Astaghfirullah ... nggak, sumpah!"
"Beneran ya? Aku mandi sekarang."
Saat Rania mandi di kamar bawah, Rayyan lebih dulu mengambil koper milik keduanya lalu membawanya ke rumah. Setelahnya pria itu memakai kamar mandi lainnya. Hari semakin sore dan pria itu tidak ingin ketinggalan momen sedikit pun.
"Kok Mas udah rapih aja, aku kan udah bilang pulang sendiri aja," ujarnya hendak pamit saat pria itu tengah mandi malah gagal sebab pria itu mendahului.
"Kamu mau minggat 'kan? Kebaca pikiran kamu, jangan coba-coba. Haha."
"Ih ... apaan sih, aku mau pulang."
"Ayo aku antar, sekalian boleh dong numpang makan malam," ujarnya penuh harap.
"Dih ... ngarep, orang mama nggak undang."
"Ya kamu lah yang bilang, mama kasihan calon suami aku sendirian, aku ajak ke sini ya, gitu," ujarnya mendrama.
"Lihat nanti, sepertinya mama nggak masak. Udahlah jangan banyak berharap. Eh, kita mau ke mana? Salah jalan Mas!" tegur Rania menatap penuh tanda tanya. Saat ini mereka sudah di mobil sedang dalam perjalanan.
"Ikut aja sayang, nanti juga ngerti," ujarnya santai.
Rupanya Rayyan membawanya menuju ke sebuah toko perhiasan yang berada di mall.
"Mas, kita ngapain ke sini?"
"Cari cincin buat kamu, kita 'kan mau tunangan. Berhubung mendadak, ya udah sekalian aja. Pilih yang kamu suka, Ra, yang boleh juga buat aku pakai. Setidaknya aku tahu ukuran kamu, kalau harus pesan dulu."
Benar saja, dua cincin putih berbahan sterling silver, dipesan sesuai ukiran namanya harus menunggu. Rayyan akan mengambilnya esok hari.
"Deal ya, buat cincin tunangannya. Aku harap cincin ini nantinya akan terus mengikat hubungan kita selamanya."
"Aamiin."
"Pengalaman mengajarkan aku untuk lebih menjaga apa yang aku punya. Maaf kalau aku sedikit over protective, tapi aku benar-benar nggak mau kehilangan lagi. Sudah cukup dua kali gagal menikah, itu sakit, semoga kali ini aminku dan amin mu bertemu menjadi satu," ujarnya mengunci tatapan itu.
__ADS_1