
Suara sapaan salam yang menggema mencuri atensi semua orang yang ada di ruangan itu. Semua mata tertuju pada sumber suara yang baru saja masuk.
"Waalaikumsalam," jawab orang-orang yang ada di ruangan.
Pak Albiru, Mama Inggit, Nenek Tami, dan juga Kakek Tama, menyambut sumringah perempuan yang baru saja datang. Siapa lagi kalau bukan Rania, si cantik kebanggaan keluarga.
"Ma," sapa Rania langsung berhambur menyalim ibunya yang pertama. Mencium pipi kiri dan kanan setelah mencium punggung tangannya dengan takzim.
"Siapa sayang?" bisiknya salah fokus melihat pria tampan di belakang putrinya.
"Temen deket, Rania Ma," jawabnya lirih dengan senyuman.
Selanjutnya menyalim Papa Al, Nenek, dan Kakek.
Rayyan nampak mengikuti Rania, menyapa dengan hormat dan sopan di belakang Rania. Walaupun ia masih sedikit bingung dan canggung karena gadis itu belum mengenalkan untuk dirinya. Saking exited bertemu keluarga langsung menyambut mereka terlebih dahulu. Walaupun wajah-wajah kepo nampak sudah jelas menyambangi kedua orang tua Rania.
"Om, Tante, Nenek!" sapa pria itu dengan sopan. Lalu menyapa Kakek yang tengah sakit seraya menaruh buah tangan di atas nakas.
"Semoga lekas sehat, Kek, saya Rayyan, temannya Rania," sapa pria itu dengan percaya diri penuh. Walaupun hatinya grogi dan deg degan juga, apalagi melihat tampang Papa Al versi nyatanya, lagaknya pria itu super galak.
Sebelum beranjak sempat berbasa basi sedikit dengan kakek Tama, memberikan doa dan semangat seperti semboyan dokter pada umumnya. Semangat sembuh untuk sehat. Sedikit memberikan tips untuk kakek Tama yang tengah sakit, sebelum akhirnya kembali berdiri canggung di antara keluarga besar kekasihnya.
"Mmm, sayang itu siapa?" tanya Mama Inggit mewakili kedua manusia yang sesungguhnya sama-sama kepo.
__ADS_1
"Eh, iya Ma, Pa, Nenek, semuanya, kenalin ini Mas Rayyan, dia—" Rania nampak bingung mengenalkan pria itu sebagai apa.
"Dia adalah seorang dokter juga di rumah sakit tempat Rania koas, kami teman dekat, Ma, Pa," sambung Rania sembari mengenalkan pria itu.
"Saya Rayyan, Om, Tante, salam kenal," ucapnya sopan.
"Al, Ayah Rania," jawab Albiru. Mereka berjabat tangan season kedua setelah sapaan yang pertama basa basi perkenalan sendiri.
"Inggit, mamanya Rania, kamu yang nganter anak Tante, emang tidak masuk kerja?" tanya Mama Inggit lekas mengintrogasi.
"Kebetulan jadwal untuk hari ini memang sela, Tan, dan untuk hari berikutnya libur. Jadi, saya bisa bersilaturahmi ke sini, alhamdulillah bisa ketemu langsung dengan Om, Tante, dan keluarga," ujarnya kalem.
"Ngobrolnya nggak enak banget sambil berdiri, teman aku nggak disuruh duduk, Ma?" kata gadis itu menginterupsi.
Rania menarik tangan Rayyan mendekati sofa. Diikuti Inggit dan Biru yang nampak ikut duduk di sana. Sementara Nenek berbincang di dekat ranjang pasien menemani kakek Tama.
"Sudah berapa lama kenal Rania?" tanya Papa Al menatap tegas pria yang kini tengah duduk di samping putrinya.
"Beberapa bulan, Papa, semenjak aku koas," jawab Rania mewakili Rayyan.
Mulut pria itu sudah berkedut hendak mengeluarkan suara, terpaksa mingkem kembali demi mendengarkan jawaban kekasihnya mewakili dirinya.
"Ra, Papa tanya Rayyan, kenapa jadi kamu yang jawab, sejak kapan kamu jadi jubirnya," tanggap Papa Al menyorot tak setuju.
__ADS_1
"Beberapa bulan ini Om, sebelumnya kami sempat bertemu, dan akhirnya kami dipertemukan kembali di tempat yang sama, rumah sakit," jawab Rayyan tenang.
Pria itu berusaha bersikap seadanya saja, sesopan mungkin, dan tidak banyak gaya. Stay kalem menghadapi camer yang sepertinya galak. Pria berkisaran empat puluh tahun lewat itu terus bertanya-tanya banyak hal padanya. Semacam mengintrogasi dengan detail. Sungguh pengalaman hidup memang harus menikmati prosesnya.
Rayyan pernah mendapati jenis orang tua mantan pacarnya yang beragam-ragam. Untuk kali ini, termasuk yang paling deg degan, entahlah, tetapi yang jelas pria itu merasa Rania sedikit sulit untuk digenggam.
"Rayyan, kamu boleh berteman dengan anak saya, terima kasih sudah mengantar ya?" ucapnya ambigu sekali.
"Mmm, Om, Tante, mohon maaf, mungkin ini waktunya kurang tepat, tetapi saya harus menyampaikannya biar tidak menjadi ganjalan dalam hati," ujarnya mode serius.
"Apa Ray?" tanya Biru menanti jawaban pria yang tergolong cukup berani ini.
"Sebenarnya kedatangan saya bersilaturahmi ke Bandung, ingin mengenal Om dan Tante lebih dekat, perkenankan saya melewati jenjang yang serius dengan putri, Om. Saya mencintai Rania, Om, dan saya berniat ingin menikahinya dalam waktu dekat ini," ujarnya dengan tenang.
Rania sampai melongo mendengar kegigihan kekasihnya yang sering ia tangkap sebagai guyonan belaka. Ternyata Rayyan memang benar-benar serius ingin meminang dirinya.
Speechless tentunya untuk keluarga Albiru Rasdan, ia pun tersenyum bahkan hampir ingin tertawa mendapati seorang pemuda begitu percaya diri sekali di tengah situasi kondisi keluarganya ada yang tidak sehat.
"Kamu sedang melamar anak saya?" jelas Pak Al sedikit tak percaya.
"Iya Om, lebih tepatnya meminta restu untuk menjadikan Rania sebagai istri saya," jawabnya yakin.
"Tidak mengurangi rasa ketidak sopanan kami, dan kami sangat menghargai niat tulus Nak Rayyan, tetapi—"
__ADS_1