Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 66


__ADS_3

"Oke, silahkan!" kata Rayyan menatapnya lekat.


Tatapan netranya yang dingin, namun sangat menghunus itu seakan menelan ia hidup-hidup. Sumpah demi apa pun, Rania sangat tidak nyaman dalam posisi ini. Kalau bukan karena masalah pekerjaan, Rania pada level yang malas dan enggan menemui.


"Kenapa diam, tidak jadi? Membuang-buang waktu saya saja, kamu tahu pintu untuk keluar, 'kan?" sentak Rayyan yang seketika membuat Rania menelan ludah gugup.


"Ya ampun ... galak amat sih! Orang cuma mau konsul serius juga!" batin Rania mengelus dada.


"Tuhan, kapan sih sepuluh minggu ini berakhir, rasanya aku ingin minggat dari sini dan katakan say good bye!" gumam Rania lirih.


"Kenapa Ra? Bisa dijelaskan sekarang?" tanya Dokter Rayyan menurunkan kadar egonya. Memberikan kesempatan perempuan itu menjelaskan kasus yang ia tangani saat ini.


"Iya Dok, terima kasih, jadi saya menemukan pasien dengan gejala ileus obstruktif," jelas Rania tenang. Berusaha menekan sabar, dan menahan emosi yang bergejolak di dada.


Perempuan itu menceritakan gejala yang ditemukan dalam diri pasien secara detail lengkap dengan diagnosa yang ia temukan. Dokter Rayyan menyimak dengan serius semua laporan Rania yang langsung ia cerna detik itu juga.


"Oke, Ra, bisa lanjut ke prosedur operasi sekarang," jawab Rayyan begitu saja. Sejatinya pria itu merasa gemas sendiri dengan perempuan yang ada di depannya itu, namun ia tahan-tahan sendiri.


Rania menatap seseorang di depan matanya yang masih menyorotnya serius. Rania melempar senyum bahagia karena diagnosanya benar. Perempuan itu bahkan lupa kalau saat ini masih setengah kesal karena sikap dingin dan ketusnya. Tentu saja Rania menyampingkan hal itu, ia bahagia karena sebentar lagi dapat menolong penderitaan pasien itu. Ia dapat perintah operasi cito laparotomi eksplorasi (buka perut) hari itu juga.

__ADS_1


Tidak ada senyum yang lebih bahagia ketika bisa bermanfaat untuk orang lain. Senyum itu terpancar begitu saja saat membayangkan orang-orang yang sakit bisa sembuh atas izin Allah melalui perantara tangan dirinya.


Perempuan itu keluar dari ruang Dokter Rayyan dengan senyum tipis dan menggumamkan terima kasih beserta harapan-harapan besar untuk diri pasien.


"Ya ampun ... gue kenapa sih, kacau beud!" gumam Rayyan setelah perempuan itu meninggalkan ruangan. Bergegas ke ruang bedah dengan langkah pasti, ikut senang juga terbayang wajah Rania menampilkan deretan giginya yang putih meninggalkan ruangan tadi. Walaupun Rayyan bahkan hanya menatapnya datar, rupanya debaran hatinya selalu berbeda saat menghadapi perempuan yang sudah sah menjadi tambatan hatinya.


Sementara pasien urgent yang ditangani Rania sudah dinaikan ke ruang bedah setelah melewati beberapa prosedur. Pasien akan dibius oleh dokter anestesi, ini posisi yang paling krusial tugas dokter anestesi, di mana pasien akan dibius total atau keseluruhan. Jadi, otomatis paru-paru juga terbius. Napas pasien ada di tangan dokter anestesi.


Rania sudah siap dengan pakaian dan menjalankan prosedur di ruang OK dengan steril. Berdiri sebelah kanan pasien sebagai asisten operator, saat itulah konsulen datang lalu berdiri di sebelah kiri pasien. Di sebelah kanan Rania ada perawat ahli instrumen.


Konsulen yang menangani adalah Dokter Rayyan, pria itu menatap sekitar memastikan semuanya benar dengan kesiapan lengkap dan steril. Lalu menatap Rania begitu lekat hingga beberapa detik, Rania balas menatapnya dengan tenang.


"Hai Ra, sudah siap?" tanya Rayyan meyakinkan. Seakan membuka komunikasi untuk membuatnya lebih rileks dalam ruangan.


"Oke, kita mulai ya," kata Dokter Rayyan seraya menggaris perut pasien dengan pisau scalpel.


Rania memegang kasa seraya menekan pendarahan kecil yang muncul dari kulit.


"Ra, pernah nggak kamu merasa hampa dan pada posisi tidak nyaman?"

__ADS_1


Pertanyaan macam apa ini?


Perempuan itu sedikit kaget lalu menatap Dokter Rayyan.


"Pernah Dok, baru saja," jawab Rania jujur.


Saat tengah serius sekalipun dengan kesibukan, nyatanya Rania mulai merasakan kehampaan dalam dirinya kala pria itu tidak lagi bersikap seperti biasanya, merasa ada yang hilang dan merasa hatinya kosong.


"Kamu tahu penyebabnya, apa?"


"Tahu Dok," jawab Rania dengan polosnya. Suka-suka konsulen sajalah mau menanyakan hal apa? Rupanya ranah yang lainnya juga bisa dan sah-sah saja, asal tetap fokus menangani pasien.


"Kalau tahu, kenapa tidak mencoba untuk menjelaskan?"


"Jelaskan?" Rania bingung.


Dokter ngomong apa sih? batin Rania menerka-nerka.


"Jelaskan tentang diagnosis Ileus obstruktif, menurut kamu apa penyebab Ileus obstruktif yang terjadi pada pasien ini?" tanya Dokter Rayyan seperti sedang memberi ujian lisan.

__ADS_1


Rania pun menjawab dengan yakin. "Macam-macam Dok, kemungkinan Intususepsi (usus menelan usus), bisa jadi usus terpuntir, atau bisa juga tumor usus. Hernia juga bisa, tapi pada pasien ini bukan hernia."


"Yakin cuma itu? Kamu nggak merasa ada suatu hal yang harus kamu jelaskan?" Rayyan menatapnya tajam.


__ADS_2