
"Sayang, kamu nggak pa-pa?" tanya Ray mendekat. Menemukan istrinya yang terlihat lemes tak berdaya.
"Pusing Mas, perutku seperti diaduk-aduk. Sepertinya aku masuk angin dan mabuk kendaraan," jawab Rania lemas.
Ray langsung menggendongnya ke kamar. Tidak biasanya Rania mabuk kendaraan. Atau jangan-jangan memang masuk angin lantaran berendam terlalu lama? Bisa jadi.
Pria itu membaringkan istrinya dengan hati-hati, melepas sepatunya, lalu menyelimutinya. Terlihat perempuan itu memejamkan matanya, berusaha untuk tidur.
Ray sendiri, meninggalkan kamar. Membantu memasukkan barang yang masih berserakan.
"Udah semua mbok?" tanya pria itu meneliti barang bawaannya.
Mengambil barang-barang penting Rania untuk dibawa ke kamar.
"Mbok, tolong buatkan burjo ya? Dikit aja pakai gula aren!" titah pria itu sebelum beranjak.
"Siap, Den!" jawab Mbok Ijah bergegas.
Saat Ray memasuki kamarnya, tidak menemukan istrinya di ranjang. Namun, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Menandakan ada aktivitas di dalamnya.
Ray langsung masuk begitu saja, semenjak menikah keduanya jarang mengunci kamar mandi. Membebaskan masuk tanpa privasi.
"Dek, ngapain?" tanya Ray keheranan.
"Mandi bebek, dingin banget padahal airnya anget!" jawab Rania santai.
"Kalau sakit nggak usah mandi, tetep cantik kok," seloroh pria itu tersenyum.
__ADS_1
"Badan aku lengket, mana tahan tidak mandi. Kamu mandi juga, jangan deket-deket kalau nggak mandi!" peringatnya galak.
"Hmm," jawab Ray tenang. Melepas pakaiannya begitu saja tanpa aba-aba.
Rania membuang muka malu, walaupun sudah berkali-kali melihat seutuhnya tubuh suaminya, tetap saja ia malu kalau dihadapkan dalam situasi yang seperti ini.
"Dek, mandi bareng?" tawar pria itu menyeringai nakal.
Rania tanpa menjawab dengan muka nunduk langsung ngacir ke luar. Ray sendiri hanya terkekeh-kekeh kecil melihat istrinya yang masih malu-malu saja padahal sudah hafal luar dalam sebagai mainan baru untuknya.
Rania langsung memakai baju ganti, lalu kembali lagi ke kasur. Tubuhnya masih kurang nyaman, namun sudah lebih seger. Hanya perasaannya karena sedikit merasa eneg. Padahal sudah muntah lumayan banyak. Perempuan itu ngringkuk di atas kasur sembari berselimut rapat.
Ray yang baru keluar dari kamar mandi tak menanggapi polah istrinya. Melirik sekilas sebelum masuk ruang ganti. Baru mendekati ranjang setelah memakai pakaian lengkap ala rumahan.
"Sayang, apa masih kurang nyaman? Ada yang sakit?"
"Butuh istirahat, aku capek, kepalaku sedikit pening," sahut Rania lirih di bawah gelungan selimutnya.
"Sepertinya kamu perlu Mas periksa, Sayang," ujar Ray mengeluarkan stetoskop. Lantas pria itu bergerak melakukan pemeriksaan.
"Debaran jantung kamu tidak normal, pikiran kamu terkontaminasi oleh hal-hal lain, dan perut kamu merespon dengan manja." Ray tersenyum dalam diam.
"Diagnosa macam apa itu? Nggak jelas!"
"Kamu terkena serangan jatuh cinta akut, yang menjalar menjadi virus bucin. Hehe!" Pria itu terkekeh., lalu menatap istrinya serius.
"Kapan terakhir masa periode?" tanya Ray serius.
__ADS_1
Rania terdiam sejenak, pikirannya langsung menyangkal. Namun, ia memang tidak menemukan masa itu selama koas di Klaten.
"Hah, masa sih!" Rania mulai mengingat dan menghitung kapan terakhir perempuan itu mendapatkan bulanan.
"Aku terakhir sebelum ke Klaten itu Mas, tapi bukannya Mas pakai pengaman ya? Setahuku hanya pas di Klaten aja yang enggak karena udah keburu emosi dan marah."
"Nggak, siapa bilang emosi dan marah. Cuma mengeluarkan risalah kedongkolan hati, itu pun dikit. Masih jauh dari kata ngamuk, nggak ada pertumpahan darah," kilah pria itu berekspresi datar.
"Ish ... orang jelas-jelas kamu tuh marah, sampai bentak-bentak aku. Lihat aku dianter sama dokter—"
"Shhttt ... jangan berani menyebut nama pria lain di depan aku, hanya ada Mas Ray seorang," potong Ray menyumpal mulutnya dengan kecupan sayang.
"Serius Sayang, maaf, bahkan saat malam perpisahan sebelum berangkat ke Klaten aku tidak pakai pengaman. Aku terbawa suasana begitu syahdu, dan bisa jadi—"
Ray dan Rania saling tatap, lalu Ray memeluknya begitu saja tanpa permisi sambil berbisik, "Apakah kamu sudah telat?"
Rania sendiri masih terdian, tapi memang ia belum menjumpai masa periodenya semenjak itu. Terlalu sibuk juga membuatnya tidak begitu perhatian dengan dirinya.
"Kok diem?" Ray mengurai pelukan itu lalu menatap istrinya dengan penuh tanda tanya.
"Bisa jadi aku—" Ray menanti jawaban istrinya dengan tidak sabar.
"Jangan excited dulu, belum tentu juga kan hasilnya positif."
Ray kembali menarik kedua sudut bibirnya menampilkan deretan giginya yang putih.
"Ayo kita ke rumah sakit, aku mau pemeriksaan yang lengkap," ujar Ray semangat.
__ADS_1
"Besok aja ya, aku masih capek. Pingin istirahat, kalau hasilnya belum, kamu kecewa nggak?"
"Nggak, kita 'kan bisa coba lagi! Lagi dan lagi!" Pria itu terkekeh gemas sembari mencium-cium sayang perut istrinya.