Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 167


__ADS_3

"Hehe ... suamiku yang baik hati, kayaknya nggak deh, bisa diulang lain waktu. Masih nggak nyaman banget rasanya," tolak Rania lembut. Berharap suaminya mau mengerti, bukan tidak mau tapi rasanya benar-benar aduhai.


Ray memanyunkan bibirnya, namun tak sampai marah. Pria itu paham betul kondisi Rania saat ini yang bahkan perlu energi ekstra menjaga putra mereka. Jadi, sangat tidak mungkin membuatnya tidak bisa berjalan.


"Oke deh, kita coba besok lagi aja, kamu perlu istirahat," ujar Ray mengalah cukup pengertian. Menempelkan bibirnya pada kening istrinya lalu mendekapnya dengan sayang.


"Makasih, kamu juga istirahat Mas," ujar Rania balas memeluk.


Keesokan paginya, keduanya terbangun di awal waktu. Setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, Rania menyiapkan keperluan kerja suaminya. Perempuan itu lebih dulu memberi ASI untuk Juan lalu menitip pada suster untuk diasuh. Pagi full memprioritaskan kebutuhan suami, mulai dari menyiapkan pakaian ganti, sarapan, dan memastikan apa saja yang sekiranya akan dibawa ke tempat kerja.


Perempuan berparas cantik itu begitu menikmati perannya sebagai seorang ibu baru. Bahkan, demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putranya Rania tetap fokus selama enam bulan ini. Perempuan itu sudah banyak menyetok ASI di frezzer khusus agar Juan tetap terpenuhi kebutuhan susunya mengingat ia harus melanjutkan studinya yang berpacu dengan waktu.


Beruntung suaminya itu begitu perhatian dan ikut membantu di tengah padatnya kegiatan sebagai pemimpin rumah sakit. Rania menyempatkan kuota yang disediakan rumah sakit Medika untuk peserta calon internship. Tahun ini alhamdulillah mulai menjalani kesibukan baru, dan tentu saja semua itu dilewati dengan suka duka sebagai ibu baru dan istri yang siap sedia.


"Mas, kopinya," ujar Rania di pagi hari.


"Makasih Sayang, nanti habis praktik pulangnya tunggu aku ya," pinta Ray seperti biasa. Mereka selalu menyempatkan diri untuk memanfaatkan waktu di tengah himpitan kerja.


"Kalau lama aku pulang duluan, biar Axel yang antar, kasihan Juan butuh orang tuanya," ujar Rania bijak. Sebisa mungkin kegiatan di luar tidak mengurangi intensitas kedekatannya dengan putra mereka.


"Oke, ayo berangkat Sayang!" ajak Ray mengingat hari sudah siang.


Pasangan dokter itu berangkat bersama, sesampainya di rumah sakit akan terpisah menuju tempat masing-masing. Ray ke ruangannya, Rania sesuai jobdisk yang tengah diemban. Sebagai dokter umum tentu menangani hal-hal umum pasien yang ada di sana.


Selama satu tahun menjalani internship dan baru dizinkan praktik sendiri. Perempuan itu akhirnya memilih sebagai dokter spesialis kulit dan kecantikan. Ia juga beberapa tahun terakhir ini selain disibukkan dengan jadwal kedokteran menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas ternama di Jakarta.


Aktivitasnya yang padat kadang harus juga mencuri waktu dengan suaminya. Mereka punya cara khusus untuk menyiasati itu semua. Seperti halnya ketika sampai di rumah, berarti ia telah pulang dan waktunya untuk keluarga. Tidak boleh membahas apa pun tentang rumah sakit yang sekiranya tadi siang cukup menyita waktunya.

__ADS_1


"Sayang, aku mengambil cuti beberapa hari," ujar Ray jauh hari.


"Lha kok, kenapa?" tanya Rania bingung sendiri.


"Mau ngajakin kamu dan Juan jalan-jalan sambil menikmati akhir pekan," ujarnya sumringah.


"Kamu sudah tentukan tanggalnya, Mas?"


"Aku mengikuti jadwalmu, jadi aku menunggu persetujuanmu," ujar Ray bijak.


"Syukurlah, aku rang-rang dulu waktuku yang tidak bentrok. Aku tetap usahain kok, apa sih yang enggak buat kamu."


"Cie ... mulai deh. Wan, tuh bundamu sekarang pintar ngegombal," adu Ayah Ray pada putranya yang tengah asyik sibuk sendiri bermain mini lego.


Bocah tiga tahun itu tidak menimpali, sibuk sendiri dengan mainannya.


"Sepertinya kita perlu bulan madu yang kedua, aku ingin kamu hamil lagi, kita program ya siapa tahu kali ini dapat dua."


"Jadinya kita ke mana? Pilih saja tempat yang kamu suka, aku ikut kemauanmu."


"Aku tidak punya pilihan selain dirimu, Mas. Semuanya mentok di kamu. Hahaha!" Rania malah balas dengan gurauan.


"Kamu sekarang pinter ya godain aku, pantes aja aku makin cinta," ujar pria itu terkekeh manja. Keduanya asyik bersenda gurau di sore hari sehabis pulang kerja.


"Kayaknya kita nggak usah pergi jauh-jauh deh, dekat asal berdua juga pasti hasilnya nikmat," ujar Rania benar adanya.


"Emangnya nggak pengen gitu keliling dunia, ke mana gitu. Aku pernah baca di catatan kamu, katanya seorang istri yang hobby menulis dan bermimpi jalan-jalan keliling dunia, gitu."

__ADS_1


"Kemarin-kemarin iya, tapi sekarang bahkan mimpi itu ada di depan mata. Saat aku menjalani hari-hariku bersamamu, dan menemukan satu persatu impian yang berharga dalam hidupku. Ini lebih dari cukup, karena sebenarnya pusat duniaku itu kamu, Mas. Terima kasih sudah mencintaiku sebesar ini, mungkin aku belum bisa membalasnya banyak, tetapi aku akan berusaha untuk bisa membuat Mas selalu merasa nyaman dan berharga bersamaku."


"Ya Allah ... haru banget!" Ray menarik istrinya hingga terduduk di pangkuannya. Posisi mereka tengah duduk di bibir ranjang.


"Raniaku, istriku yang dulu jutek banget, kenapa sekarang begitu manis dan santun. Terima kasih Sayang, kamu adalah wanita terhebat dalam hidup aku. Terima kasih sudah menerima lelaki seperti diriku yang banyak kekurangan. Semoga Allah senantiasa menjaga cinta kita," ucap pria itu seraya menatapnya dalam. Tangan kanannya mengelus pipinya sementara tangan yang lain mendekap pinggangnya, hanyut dalam suasana.


"Aamiin ....!"


"Promilnya dimulai dari sekarang aja, berhenti minum pil untuk hari ini," ucap Ray sungguh-sungguh. Rania mengangguk setuju, ia tersenyum lembut sambil menatapnya penuh arti.


Seperti memahami bahasa tubuh mereka, keduanya tahu satu sama lain cara berkomunikasi lewat tautan netra mereka. Ray dengan sigap sudah merubah posisinya dan menggulingkan Istrinya menjadi tepat di bawahnya. Pelan, tatapan mata itu membimbing keduanya untuk saling mengisi sore itu juga. Keduanya nampaknya siap dengan mempertemukan bibir mereka.


"Bunda ....!" pekik Juan menghampiri ayah dan ibunya. Bocah kecil itu berlari mendekat menuju ranjang dan langsung merusuh acara dinas mereka. Spontan Ray dan Rania saling melirik memberi jarak, lalu terkekeh bersama. Gantian mengusili putra mereka, Juan Daniswar Wirawan, merasa gemas yang berada di tengah-tengah keduanya.


.


END


.


Hallo all ... akhirnya sampai juga di episode ini. Love you full buat teman-teman semua yang sudah memberikan dukungan penuh dengan cerita ini. Terima kasih banyak sehat-sehat terus kalian ya ....


Buat sahabat Asri Faris yang pengen tahu kisahnya Juan jangan lupa mampir ya di karya author di fizz* dengan judul "Belenggu Gairah Semalam"


ikuti keseruan mereka (Juan Daniswar Wirawan dan Ayumi Syasaki)


Salam sayang semuanya jangan lupa mampir juga di karya terbaru author "Pengantin Pengganti CEO Arogan"

__ADS_1


😍😍😍😍😍



__ADS_2