Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 126


__ADS_3

Pertama kali datang ke rumah sakit jiwa, tentu saja amazing. Ini adalah kali pertama Rania datang ke RSJ karena sebelumnya belum pernah sama sekali. Tentu saja perempuan itu sudah siap siaga dengan bayangan yang ada di otaknya. Ngeri-ngeri sedap.


Rania dan teman satu koasnya yang puji syukur masih bareng di stase luar biasa ini. Datang ke rumah sakit jam tujuh pagi untuk mengikuti apel pagi. Karena new otomatis mereka masih tahap pengenalan dan pembagian tugas apa saja yang harus dikerjakan di stase jiwa.


Usai apel, para dedek koas lebih pengenalan lingkungan pekerjaan, semua dokter dan praktikan serta perawat di sana.


"Je, lo ngerasa nggak di sini horor?" tanya Rania sedikit cemas.


"Banget, yang waras aja sensi apalagi ini, semoga lima minggu nggak lama ya. Belum kawin lagi takut nggak kelar gegara ngibrit duluan."


"Wah ... dokter mudanya ganteng-ganteng coy, banyak tikungan dan belokan. Yang LDR harus tahan godaan iman." Asa memperingatkan.


"Cuci matalah, yang di sana mumpung nggak lihat. Astaghfirullah ... ini baru hari pertama kenapa otak udah nggak beres. Ampun ya Allah ... semoga selalu dalam lindungan-Nya." Rania berdoa dengan tulus.


Uforia di sana ternyata berbeda, bayangan yang entah pun terpatahkan. Namun, tetap saja yang pertama itu pasti punya tantangan tersendiri. Perasaan Rania bahkan kayak pertama kali ngeliat mayat. Kesan pertama, takut. Selanjutnya, ketagihan. Hahaha. Mungkin sudah mulai tidak beres.


Ternyata, orang gila itu beda banget dari bayangan Rania selama ini. Rania kira, orang dengan gangguan jiwa itu susah diajak komunikasi dan bakal diamuk kalau sok-sok deket. Mereka ternyata sama aja dengan orang-orang lainya, bedanya, kalau yang nggak gila menganggap nyi roro kidul itu cuma mitos, kalau mereka bahkan ada yang merasa bahwa nyi roro kidul itu istri mereka.


Siapin mental dengan uji nyali seribu persen, otomatis iyain aja biar komunikasinya nyambung lancar tanpa hambatan. Dari pada deg degan karena gagal paham salah-salah ngamuk.

__ADS_1


Tetapi kalau udah tenang ternyata mereka nurut, sejinak kucing tetangga.


Hari yang cukup indah, seindah bayangan sendiri. Sesedap indomie kalau lagi pengen. Mulai eror nih, entahlah berkumpul dengan mereka memang harus ikut happy dan slow spaneng-spaneng.


Seperti bisa kaya pengalaman di antara stase yang pernah dilakoni. Jadwal di stase jiwa pun ada shiffnya. Pagi jaga bangsal, dan siang jaga IGD sampai jam setengah sembilan malam, bisa juga lebih. Untung saja kost-kostannya tidak terlalu jauh walaupun masih tetap lima menitan pakai motor.


Sampai kost setelah bebersih Rania harus laporan kegiatan dan segala ugo rampenya mengenai kegiatan hari ini pada sang suami yang teramat antusias menanti teleponnya. Walaupun capek melanda, perempuan itu tidak pernah absen memberi kabar.


"Kangen ....!" ucap pria itu saat tengah bervidio call.


Tepat jam sepuluh Rania baru bisa menghubungi setelah berkegiatan.


"Ya ampun ... Mas, baru juga mulai udah kangen aja. Hahaha." Perempuan itu terkikik sendiri.


"Lagi ngapain? Kok maemnya malam banget?" tanya Ray demi melihat istrinya menenteng nasi bungkus.


"Baru sempat ya gini makan malamnya. Kamu udah makan?"


"Udah, tapi belum kenyang," ujarnya tak semangat.

__ADS_1


"Kenapa? Mau aku suapin?" tawar Rania menunjuk isi piringnya.


"Maem sama apa?"


"Tadi beli nasi padang, aku vc-nya sambil makan ya? Mas kalau udah ngantuk bobok aja nggak pa-pa, aku nina boboin dari sini," hibur Rania di ujung telepon.


"Berasa banget nggak enaknya, nggak berasa usapan lembut kamu Dek, tapi setidaknya udah bisa lihat muka kamu hari ini baik-baik aja alhamdulillah."


"Dienakin aja Mas, biar hatinya tenang. Aku setia kok, walau di sini tahan godaan sih. Hehe."


"Eh, maksudnya apa?"


"Nggak ada Sayang, Mas Ray selalu memenuhi hatiku, udah sana tidur. Aku mau gosok gigi, cuci tangan dan tidur."


"Nggak usah dimatiin, biar kita kaya tidur bareng gitu Dek, biarin aja siapa yang nanti tidur duluan yang masih terjaga matiin ponselnya," ujar pria itu penuh solusi.


Hampir setiap malam mereka menghabiskan bervidio call semalaman sampai salah satu tertidur. Tentu saja untuk mengobati rasa rindu yang masih lama dan perlu ditampung. Menunggu kesempatan bertemu yang entah itu kapan. Karena jadwal keduanya yang cukup sibuk, bahkan Rania tidak menjumpai hari libur. Alias minggu dan tanggal merah tetap stay dengan tugas dan berangkat.


Tak jarang Ray mengomel bila pesannya tak kunjung dibalas, atau teleponnya tidak diangkat, dan itu membuat stress tersendiri untuk keduanya menghadapi lika-liku LDR yang tengah mereka jalani saat ini.

__ADS_1


__ADS_2