Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 160


__ADS_3

Setelah dirawat di rumah sakit menjalani masa pemulihan selama dua hari akhirnya Rania dan bayinya hari ini pulang ke rumah. Ray mengantar khusus istrinya dengan Axel menjadi driver untuk keluarga kecil mereka. Semenjak keluar dari rumah sakit, ibu muda itu memang sudah menjadi banyak sorotan dan tranding topik di kalangan dokter, perawat, medis, staf, dan pegawai struktural lainnya.


Rania berjalan gontai meninggalkan rumah sakit dengan Ray menuntunnya. Sementara bayi mungil itu dalam gendongan Bu Wirawan. Semua terlihat begitu bahagia menyambut kepulangan anak Sultan tersebut. Cucu pertama dari keluarga Al Biru Rasdan dan juga Wirawan sudah mencuri perhatian lewat kedudukan keluarga besar orang tuanya. Jadi tak heran kalau adik Juan sudah menjadi idola bahkan semenjak masih dalam kandungan.


Ray membantu istrinya masuk ke mobil dengan membukakan pintu untuknya, lalu ia ikut masuk dengan bayi mungilnya yang dipindah dari tangan neneknya. Sementara Bu Wira ikut mobil di belakangnya.


Bayi mungil itu terlihat anteng dalam gendongan neneknya, mendadak jejeritan begitu sampai di tangan ayahnya. Ah, sepertinya Papa Ray masih terlalu kaku hingga membuat putra mereka tidak nyaman.


"Mas, kalem dong, jangan digemesin, dia nggak suka sama kamu."


"Astaga! Mana mungkin tidak suka sama ayahnya. Muka kita aja sebelas dua belas belas, begitu mirip dan kegantengannya melebihi maksimal," jawab Ray dengan penuh percaya diri.


"Serah deh, sini nggak usah gendong, dia nggak nyaman dalam gendongan papanya."


Rania mengambil dari dekapan Ray, lalu menimangnya dengan penuh kasih sayang. Bayi itu langsung terdiam, seperti menemukan ketenangan kembali.


"Heh bayi? Kecil-kecil kenapa udah pinter, maunya deketan mamam terus," kata pria itu terlihat lucu. Mengusap dengan lembut, yang diusap cuma ngeliatin sambil gilir-gilir gemes.


"Dia tahu Mas, nyamannya sama ibunya. Sama bapaknya digemesin terus ya rewel. Aku aja kalau diganggu terus jengkel. Juan juga gitu, bayi juga tahu kesel kali ya. hehe."

__ADS_1


"Aku kan gemes sayang, dia terlalu comel, perpaduan antara aku dan kamu. Matanya bulet dan tajam kaya kamu, bibirnya kaya aku banget. Gantengnya fix aku pake banget, kalau rambutnya kaya kamu, kulit kaya kamu, hidung kaya aku. Dia memang kombinasi sempurna dari Tuhan. Dibuatnya dengan doa dan penuh cinta, dibumbui dengan ramuan kasih sayang jadilah penerus harapan. Semoga kelak tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab dan selalu taat pada sang Pencipta. Aamiin."


"Aamiin!"


"Dia langsung bobok kalau digendong gini, anget kali ya nyaman."


"Alhamdulillah sudah sampai rumah," ujar Ray girang. Suasana yang terik siang itu membuat Ray sedia payung sebelum panas.


Turun lebih dulu membukakan pintu untuk istrinya. Berjalan pelan, satu tangan merangkul mesra satu tangan lainnya memayungi istri dan anaknya.


"Selamat datang di rumah kita tercinta sayang ....!" seru Ray dengan wajah sumringah.


"Sayang, mereka semua pegawai kita, mulai sekarang Juan ada susternya sendiri. Itu Rini, dia yang akan bantuin kamu ngurus Juan."


"Selamat siang Ibu, saya Rini Setyo Utami, siap membantu dengan sepenuh hati."


"Siang, Sus, makasih sambutannya."


"Wah ... ini adek Juan ya, biar saya gendong Bu." Rini langsung ambil alih bayi mungil itu dari gendongan Rania.

__ADS_1


"Surprise!" pekik Mama Inggit, Papa Al, dan Eyang Rasdan beserta adik bungsu Rania, Rasya. Semua berkumpul di ruang tengah menyambut kepulangan baby Juan dan ibu baru itu.


Bukan hanya itu, nampak di sebelah Rasya berdiri dua perempuan yang selama ini menjadi sahabatnya. Jeje dan Asa ikut menyambut kepulangan baby embul itu.


Senyum bahagia dan haru langsung terpancar dari perempuan yang baru beberapa hari menjadi ibu itu. Mereka langsung berhambur menyambut orang-orang tersayang dalam lautan haru.


"Makasih," ucapnya berkaca-kaca. Suasana rumah juga terdapat banyak dekorasi baru yang sengaja didesain untuk menyambut istri tercinta.


"Jangan nangis dong Dek, sedih nih aku," ujar Ray demi melihat istrinya mewek karena haru.


"Makasih Mas, surprise kamu anti gagal, aku nangis beneran. Semua ngumpul di sini, love you so much."


"Wah ... dapat pengakuan cinta dari ibunya Juan. Me too," jawabnya sumringah.


"Cuma itu?"


"Masih kurang?


"Lebih dari seluruh jiwa dan ragaku, kalau cuma ngomong doang mah bisa, yang penting bukti nyata. Tetap menjaga cinta kita, walaupun rintangan di depan sana tak semulus pahamu, Dek!"

__ADS_1


"Astaghfirullah ... gumush!"


__ADS_2