Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 154


__ADS_3

Usai selesai kelas ibu hamil, Ray dan Rania tidak langsung pulang. Mereka menyempatkan kulineran sebentar guna mengisi perut yang sudah lumayan lapar.


"Mas, pengen makan seblak," ujar Rania di tengah perjalanan pulang.


"Seblak? Oke itu mah gampang Sayang, kita cari seblak yang paling mantul," jawab Ray santai.


"Aku nggak mau seblak sembarangan, aku pengen seblaknya Pak Wal yang suka mangkal di gang cinta itu loh Mas, nggak jauh dari rumahnya Romo putri."


"What! Maksudnya di Bandung?" tanya Ray sampai menghentikan laju mobilnya.


"Duh ... pelan-pelan dong! Kaget Mas!" omel Rania mrengut.


"Aduh ... maaf sayang, maaf, ini lagi mikir otaknya. Pengennya sekarang banget atau bisa nanti aja."


"Pengen makan itu, wah ... pasti enak banget. Dulu kalau pas lagi pulang kuliah liburan ke rumah Romo, suka beli, ayo Mas ke Bandung!" ajak Rania cukup mendadak. Seketika Ray pun menatap horor.


Ini anak sudah mau lahir, kenapa mintanya aneh-aneh. Bisa dinego nggak ya??


"Mas! Ya ampun ... bengong lagi, gas Mas kita sambil jalan-jalan," ujar Rania santai.


"Sayang, kamu di rumah aja, duduk manis menunggu dengan tenang. Seblaknya biar besok dicariin sama Axel, oke?"


"Gimana ceritanya besok Mas, aku bahkan pingin makannya sekarang. Ayo kita siap-siap! Terus berangkat!" ujar perempuan itu cukup ngeyel.

__ADS_1


Ray pun mendengus pasrah. Titah istrinya seperti sesuatu yang tidak bisa ditolak, apalagi diulur-ulur. Hari sudah sore dan untuk perjalanan ke luar kota dengan perut yang sudah lumayan besar membuat Ray khawatir. Takut-takut di jalan istrinya mendadak kontraksi bagaimana?


"Sayang, kamu itu kan hamil besar, saya khawatir kamu nanti capek, jadi nunggu di rumah aja ya? Biar Axel yang cari."


"Mas, aku tuh pengen makan di tempatnya langsung. Aku kangen juga sama abang seblaknya. Dia sangat tampan, hehehe."


Seketika Ray mendelik mendengar pernyataan istrinya. Bisa-bisanya memuji pria lain di depan matanya.


"Emangnya ada yang lebih tampan dari aku?"


"Ada, si tukang seblak itu, tapi lebih tampan kamu sih, asal jangan pundungan aja." Rania nyengir.


"Abang seblaknya tuh idolanya cewek-cewek sekomplek. Namanya Waluyo, biasa dipanggil Bang Wal, saat berjualan seblak, dia juga sambil nyambi kuliah Mas, menginspirasi banyak anak muda pada masanya. Ayo Mas, kita ke sana, aku beneran pengen makan seblaknya," rengek Rania tak sabaran.


Jadilah sore itu menjelang maghrib, setelah bebersih dan siap-siap, Ray menghubungi Axel untuk menjadi driver. Ray tidak mungkin menyetir sendiri mengingat sudah cukup lelah. Ekspektasinya, pulang setelah yoga bisa bersantai, makan di tempat biasa yang ada di Jakarta. Terus pulang di rumah penuh kehangatan dan kemesraan. Eh, ini malah berpetualang menuruti keinginan istri yang luar biasa.


Axel tergopoh-gopoh setengah berlari setelah memarkirkan motornya dengan benar.


"Lama amad sih, Xel! Istriku ngamuk gegara kamu nggak gercep!" omel Ray begitu pria itu sampai di kediamannya.


"Maaf Dok, ini saya sudah berusaha cepat. Go!"


"Nggak pa-pa kok, Xel, nggak usah didengerin kalau suami saya lagi marah. Nyimak aja, anggap aja nggak terlalu serius, dari tadi marah-marah mulu."

__ADS_1


"Kamu nggak usah ikut aja Mas, biar Axel yang baik hati ini yang nganter," ujar Rania sengit.


"Eh! Apaan, aku udah siap-siap kaya gini," protes Ray tak terima.


"Kamunya ngomel mulu, berasa nggak ihklas, jadinya dari pada nanti di jalan bikin kuping aku panas, mending nggak usah ikut sekalian."


Sebenarnya Ray tuh merasa nggak nyaman semenjak Rania mengutarakan risalah tentang abang seblaknya. Takut ibu hamil itu minta yang aneh-aneh. Minta disuapin penjualnya mungkin yang katanya ganteng itu. Atau minta dielus-elus perutnya yang gendut. Sungguh Ray tidak ikhlas!


"Apaan sih, ngajak berantem beneran? Diem aku antar! Xel cepetan keburu kemalaman ini!" teriak Ray tak sabaran.


Baru saja mobil melaju setengah perjalanan, bertepatan dengan waktu maghrib. Memutuskan rehat sebentar untuk mencari masjid di pinggir jalan. Axel pun segera menepikan mobilnya. Mereka menunaikan jamaah di masjid pinggir jalan.


Saat Ray dan Axel sudah keluar rupanya Rania belum muncul. Pria itu menanti di halaman masjid dengan santai.


"Xel, istriku sholat kok lama amad, udah belum ya?"


"Coba cek ke dalam Dok, siapa tahu ketiduran," ujar Axel.


Ray kembali memasuki masjid, pria itu langsung menuju bilik wanita. Hanya ada beberapa orang saja di sana dan Rania nampak masih di antara orang-orang yang tersisa.


"Dek, kamu kenapa?"


"Mas, perutku nggak enak banget, suka kenceng kek gini. Menurut yang aku pelajari, sepertinya kontraksi Mas," jelas Rania dengan santai. Mengatur napasnya perlahan.

__ADS_1


"Hah! Kok malah diem sih, ayo bangun kita ke rumah sakit!" ujar Ray mendadak panik sendiri.


__ADS_2