
Rania berhambur dalam pelukan. Ray mendekapnya begitu erat sambil terpejam. Seakan merasakan betapa damainya hari itu dalam dekapan yang syahdu.
"Aku kangen banget, Sayang," ucap Ray lalu mencium keningnya.
"Aku juga, Mas, rindu, sangat merindukanmu," jawab Rania masih dalam posisi yang sama.
Sementara Jeje dan Asa melongo di tempat, keduanya gemas dengan adegan live sweet tersebut.
"Huh ... so sweet ....! " ujar Jeje dan Asa berpelukan. Menirukan duo sejoli yang jelas membuat kedua sahabatnya baper.
Sementara teman yang lainnya tanpa sengaja mengabadikan moment romantis tersebut.
"Mas, kok bisa tepat waktu gini, sejak kapan sampai?" tanya Rania seraya mengurai pelukan itu.
"Aku udah dari tadi nungguinnya, sengaja banget bikin kejutan biar surprise. Eh, berhasil! Bagaimana tadi ujiannya? Selamat ya sayang," ucap Ray tersenyum penuh kelegaan.
"Terima kasih Mas, kamu suami yang luar biasa. Lusa tinggal mempersiapkan ujian kompetensi mahasiswa program profesi (UKMPPD). Do'ain ya semoga lancar," ujar Rania.
"Pasti dong Sayang, pikirkan itu nanti saja, yang penting kita bisa bareng-bareng lagi. Aku lega banget, akhirnya selesai juga LDR-nya."
"Ish ish ish ... kalian bener-bener bikin jomblo gigit jari, tidak berperasaan!" Jeje dan Asa kompak melayangkan protes.
"Kalian mau bareng sampai kost?" tawar Ray cukup baik hati.
Dengan senang hati kedua sahabat Rania mengiyakan. Mereka langsung bertolak ke rumah singgah mereka yang sebentar lagi akan ditinggalkan.
"Kamu ambil cuti lagi?" tanya Rania tak percaya.
"Nggak dong sayang, sabtu kan emang jadwal aku kosong. Minggu jelas libur, jadi aman dua hari ini," jawab Ray santai.
Sedari tadi senyum menawan terus tercipta di bibirnya. Perasaan yang begitu lega pastinya bisa berkumpul kembali dengan orang terkasih.
"Makasih Dok, tumpangan yang menyenangkan," ucap Jeje yang diangguki Asa.
Mereka langsung menuju kamar masing-masing. Ray sendiri mengekor istrinya.
__ADS_1
"Kamu udah makan?" tanya Ray sambil menaruh HP di atas meja.
"Belum, sampai lupa lapar habis ketemu sama kamu," seloroh Rania tersenyum. Menaruh perlengkapan yang baru ia bawa.
Ray mengikis jarak, memeluknya dari belakang. Pria itu menempel seraya menciumi tengkuknya dengan gemas. Rania cukup menikmati itu, ia juga merasakan rindu yang sama.
"Aku mandi dulu, Mas," ujar perempuan itu menahan geli yang menggelitik hatinya.
Nampaknya Ray begitu rindu, hingga ia tak berjarak sedikit pun.
"Aku kangen banget, sumpah, rasanya nggak kuat," ucap Ray menarik dalam dekapan.
"Iya, ngerti kok, nanti ya, rileks dulu. Teman-teman juga tadi ngajak makan di luar, takut nanggung mereka datang, nggak asyik banget."
"Oke deh, nanti chek in aja, biar aman dan nyaman. Aku rindu des@han kamu yang manja," bisik Ray seduktif.
Rania tersenyum, "Kamu terlalu jujur, Sayang." Perempuan itu menggeleng malu.
Sambil mengobrol, Ray membantu Rania mengemas barang yang akan dibawa pulang. Lebih cepat lebih baik. Sore itu Rania ditemani dokter Ray pamit meninggalkan kost serta mengembalikan kunci rumah singgah pada pemiliknya.
"Sepertinya iya, kita jadi makan-makan dulu nggak?"
"Ngikut Jeje aja, tapi kalau lo dah mau pulang kapan-kapan aja nggak pa-pa," ujar Asa pengertian.
"Suami gue nurut kok, sambil cari makan sambil pulang paling. Bareng nggak pa-pa."
"Kita kayaknya besok, say. Satu malam lagi di kota Klaten," ujar Jeje sumringah.
"Nungguin Dokter Raka ya?" tebak Rania tepat sasaran.
Jeje hanya nyengir tak bisa mengelak, sepertinya perjodohan mereka sukses.
Usai mengepak barang beserta koper ke dalam mobil, Rania dan Ray beserta dua sahabatnya meninggalkan kost Mereka sengaja mencari makan malam santai bersama.
Cukup lama bersantai sambil mengobrol. Wajah-wajah ceria bercampur dengan pikiran yang sebenarnya masih banyak tahapan yang mereka lalui. Tapi setidaknya kelegaan telah menyapa karena masa perkoasan telah berakhir.
__ADS_1
Terharu biru pastinya, selama kurang lebih satu setengah tahun mereka berjibaku dalam suka mau pun duka. Tak jarang betkongsi dalam satu kelompok walaupun pada akhirnya akur. Julid-julidan bahkan sensi tingkat tinggi. Tapi kebersamaan itu akan selalu dikenang. Menjadi memori yang indah di hati masing-masing.
"Terima kasih Dok, sering-sering aja gratis kita," seloroh Jeje.
"Mau bungkus juga boleh Je, kalau masih kurang," ujar Ray basa-basi.
Mereka tersenyum bersama. Dua teman Rania memang menjadi ikut akrab dengan Ray semenjak jadi suami sahabatnya itu. Walaupun masih ada canggung yang jelas, tapi tidak sehoror dulu. Di mana Dokter Ray yang terkenal dingin dan cukup misterius.
"Kalau langsung pulang hati-hati ya, sampai ketemu di Jakarta," ucap Jeje dan Asa mengucap salam perpisahan sementara.
Mereka baru saja usai makan bersama. Jeje dan Asa kembali ke kost sementara Ray dan Rania sesuai rencana.
"Kalian juga hati-hati! Sorry banget nggak bisa nganter pulang."
"It's oke Ray, santai ... kita mau jalan-jalan dulu. Secara ini malam minggu juga kan, siapa tahu terakhir di kota ini dapat kejutan."
"Apa pun itu, semoga terbaik untuk ke depannya."
Lambaian tangan sebagai pemungkas pertemuan mereka.
"Jadi kan Dek?" tanya Ray mengerling.
"Terserah Mas aja, tapi emang baiknya istirahat dulu, emang Mas nggak capek bawa mobil Jakarta - Klaten?"
"Capek aku hilang kalau udah ketemu kamu, serasa menguap gitu aja. Apalagi setelah dapat pelukan dan ciuman, udah lupa kalau habis perjalanan jauh," seloroh Ray tersenyum.
"Oke deh, nanti aku pinetin plus plus. GO Mas!" seru Rania tersenyum.
Ray benar-benar mengajaknya chek in, membuatnya senyum-senyum sendiri berjalan saling merangkul di sepanjang koridor hotel. Berasa seperti tengah bulan madu romantis.
"Bersih-bersih dulu ya?" ujar Rania memberi jeda.
"Bareng ya, sepertinya berendam di air hangat akan cukup mengasyikkan." Ray mengerling.
"Kamu menggoda imanku, ayo Mas ....!" Rania tersenyum sambil berkedip nakal.
__ADS_1
Ray langsung menggendongnya menuju kamar mandi, setelahnya ... besok ya guys ....!