
Ray menutup teleponnya ketika sudah tidak ada sahutan. Rania sudah tertidur, pria itu tersenyum sembari melihat wajahnya yang ayu dan menggemaskan. Seandainya di dekatnya, sudah pasti pipi itu basah dihujani kecupan.
Pria itu mencharger ponselnya lalu tertidur. Tak lupa setting alarm supaya bisa bangun tepat waktu. Kalau sudah begini berasa sekali merasa nelangsa, tak ada guling yang bisa diajakin main, tak ada yang bisa diusek-usakin manja dan pastinya tak ada kecupan good morning.
Baru beberapa hari berlalu sudah merasa gersang, haus kasih sayang dan rindu belaian. Sayang sekali belum bertemu dengan hari libur serta jarak yang lumayan jauh membuatnya harus bisa menahan diri dari gemuruh yang melanda.
"Kusut amat Bro tuh muka persis pakaian lecek belum disetrika," ledek dokter Raka usai tugas. Mereka menyempatkan waktu berdua.
"Capek," jawab Ray datar.
"Bisa aja lo ngalihinya, gimana kalau malam ini futsal?" ajak pria itu semangat empat lima.
"Pengen, tapi takut nggak kuat," jawabnya lebay.
"Astaga, bucin akut lo. Bisa demam kalau ditinggal lama-lama terkena sindrom rindu," seloroh Raka menggeleng tak percaya.
"Lo nggak ngerasain gimana lagi sayang sayangnya, lagi anget-angetnya ditinggal berjauhan. Nggak enak banget, kalau dekat udah aku susulin setiap hari. Lha ini lumayan jauh, mana bisa."
Ray selalu merasa kurang semangat sehabis kerja. Jam operasionalnya kadang bentrok dengan Rania yang bisa pagi sampai malam. Jadi komunikasi mereka tidak bisa suka-suka selain malam. Itu pun disisa energi yang harusnya untuk istirahat.
"Gue tahu banget lah, gimana harus terpisah dengan orang yang kita sayangi. Apa lagi perpisahan ini untuk selamanya, itu jelas nggak enak. Tapi kembali lagi, kita punya porsi masing-masing dalam hidup ini, kalau masanya memang harus difase ini, ya jalani aja sambil berdoa, semoga selalu bisa," jawab Raka mendadak melo.
Sejenak Ray menjadi merasa bersalah dan terlihat begitu lebay. Satu bulan itu bisa banget cepet kalau diselingi dengan hal-hal yang positif. Apalagi pekerjaan Ray berkaitan dengan orang banyak. Berinteraksi dengan mereka yang sedang membutuhkan dirinya lewat campur tangan Tuhan.
"Sorry Bro, nggak ada maksud buat ngingetin lo tentang itu. Maaf banget, sabar ya?" ujar Ray menepuk punggungnya memberi kekuatan.
Pria itu merasa jadi cemen dan begitu lebay bila mengingat apa yang terjadi dengan Raka. Kalau Ray merasa nelangsa gagal menikah dua kali, dan ditinggal LDR masa kini. Raka malah harus ditinggal kekasih hatinya selamanya disaat putra mereka masih bayi, suatu pukulan dan ujian berat untuk seorang bapak yang berjiwa luar biasa. Masih waras aja sudah untung alhamdulillah.
"Oke, jadinya kita futsal nih, calling-calling teman lainnya dong, kita ke Graha Shaba."
__ADS_1
Salah satu cara buat ngalihin agar pikirannya teralihkan ya dengan berkegiatan yang positif. Salah satunya berolahraga bersama teman-teman, dan itu terbukti ampuh.
"Bagaimana kalau weekend besok kita susulin, kita bikin surprise buat Jeje dan istri lo. Jangan bilang mau ke sana, datang aja langsung," ujarnya penuh rencana.
"Ide bagus, apakah kalian semakin dekat?" tanya Ray kepo.
"Penjajakan, gue bukan hanya cari istri, tapi juga ibu buat anak gue, jadi gue harus memastikan calon gue nanti benar-benar bisa menerima anak gue nantinya," ujar Raka.
"Bener banget, gue setuju, apa lagi anak lo masih kecil, semoga mendapatkan jodoh kedua sesuai apa yang lo harapkan."
"Aamiin," jawabnya semangat.
Kalau Ray mencoba membunuh rasa kangen itu dengan berkegiatan positif di luar jam kerja, Rania sendiri malah terlihat sibuk, namun bisa banget terlihat happy.
Perempuan itu dan juga teman koas lainnya mengikuti jadwal senam pagi setiap selasa sampai jumat setelah apel pagi. Bersama pasien rehab lainnya berkumpul dan melakukan senam sesuai arahan instruktur senam.
Jangan-jangan mereka ikut gangguan jiwa? Mungkin saja. Rania seperti memahami diri sendiri di sana. Kadang perempuan itu jadi menalar-nalar hal apa yang membuat ia sedih, kenapa sering merasa cemas dan lain-lain. Perempuan itu bisa mengaku bahwa dalam dirinya sendiri pun ada gangguan jiwa. Tapi, kadarnya mungkin berbeda. Masih bisa mengendalikan dirinya sendiri. Berbeda dengan mereka yang harus dikendalikan dengan pikirannya sendiri.
"Ra, bagaimana setelah hampir dua minggu di sini? Apakah tambah bahagia?" seloroh Dokter Daniel spesialis skiater. Beliau begitu disiplin, tapi setelah mengenal lama-lama dokter pembimbing Rania begitu baik dan aware luar biasa. Belajar menjadi begitu nyaman, dan pastinya mengharapkan nilai lebih.
"Iya Dok, setelah dijalani ternyata lebih dari di luar ekspektasi," jawab Rania terkekeh.
Dibandingkan stase yang lainnya cenderung merasa tertekan dan stress karena banyaknya tugas dan juga praktik, stase jiwa ini lebih terlihat santai, walau tetap nggak santai-santai amat karena ada deadline tugas juga.
"Besok presentasi ya, kamu bisa cari pasien yang udah kamu tangani selama di sini. Kamu bisa wawancara kasus yang kamu peroleh," ujar Dokter Daniel.
"Siap Dok," jawab Rania dengan senyuman.
Hari ini Rania kebetulan jaga di bangsal, perempuan itu berkesempatan untuk mengobrol-ngobrol langsung dengan pasien yang tidak diisolasi untuk cari kasus. Calon dokter itu siap menjadi pendengar yang baik bagi pasien yang mereka dekati.
__ADS_1
"Mbak Dokter, kira-kira kapan saya boleh pulang, Dok? Saya rindu dengan keluarga saya," tanya salah satu pasien bernama Nur. Gadis itu mengalami depresi karena ditinggal kekasihnya menikah. Terpaksa dibawa ke rumah sakit jiwa untuk diberikan terapi.
Sejenak terlihat biasa dan juga bisa mengobrol. Kadang berwajah sedih, kadang tampak afek datar, kadang lagi tampak senang.
Rania pun mulai merenung, membatin, sebenarnya apa yang mereka rasakan? Apa yang ada di otak mereka. Notabene, tanpa kelainan di otak/mental organik, mereka sehat. Bisa jadi lebih sehat dari pada Rania sendiri. Terus mereka kenapa?
Jiwa mereka yang sakit, jiwa mereka yang perlu diobati. Mereka nggak bisa menentukan apa yang mereka rasakan. Kebanyakan mereka mengalami delusi kontrol, dimana mereka merasa dikendalikan oleh sesuatu, dibisikkan suara-suara, entah menyuruh mereka bunuh diri, atau apa pun. Ini lebih buruk daripada diteror orang, karena mereka diteror oleh untaian pikiran yang ada di dalam diri mereka sendiri.
Hmm, awalnya Rania pikir, berapa banyak di sekitar yang mengalami gangguan jiwa. Perempuan itu pikir, jumlahnya cuma sedikit. Kalau stress doang mungkin banyak. Bahkan sesama teman koas, atau ya diri mereka sendiri sering banget menghadapi yang namanya stress. Tapi syukurlah Tuhan memberikan suatu mekanisme pertahanan jiwa yang matur, hingga boleh berdiri sampai saat ini.
Ternyata mereka bisa rindu, mereka bisa menyayangi, ingat keluarganya, di saat orang normal jaman now bisa aja berbuat tega. Itu baru orang-orang dengan kelainan psikotik yang sulit membedakan realita. Bagaimana dengan orang neurotik? Mereka yang akal sehatnya masih ada, tapi selalu depresi, selalu disuruh bunuh diri, merasa hidupnya hampa, useless, merasa rendah.
Atau mereka yang cemas, yang panik, yang tidur aja butuh obat.
Jiwa itu nggak kelihatan. Jiwa itu sulit didefinisikan. Jiwa bisa sehat, bisa kuat. Namun sekalinya rapuh, untuk hidup aja rasanya harus berjuang keras. Sama dengan penyandang kanker, penyakit genetik, dan lainnya.
Sejenak gadis itu teringat orang-orang di rumah, suami tercintanya yang mungkin saat ini sudah menunggu teleponnya.
"Ah, jadi kangen sama Mas Ray," gumam perempuan itu. Bersiap pulang ke kost setelah kelar shiff.
"Dek Rania?" sapa Dokter Daniel yang kebetulan melintas. "Mau pulang?"
"Eh, Dokter? Iya Dok," jawab gadis itu mengangguk ramah. Perempuan itu tengah menunggu ojol pesanannya.
"Bareng aja, searah 'kan?" tawar pria itu ramah.
"Wah ... nggak usah Dok, terima kasih, lagi nunggu ojol," tolaknya merasa tak enak.
"Cancel aja, ayo naik!" titahnya serius.
__ADS_1