Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 76


__ADS_3

"Subhanallah ... calon istriku cantik banget," puji pria itu seraya mengulum senyum.


Mereka baru saja keluar dari rumah Rayyan dan akan langsung berangkat pagi itu juga. Pria itu membuka bagasi mobilnya lebih dulu, lalu memasukkan koper miliknya dan punya Rania. Dengan wajah semangat berbinar senang, membukakan pintu mobil untuk sang pacar barulah dirinya masuk, duduk dengan siap di belakang kemudi.


"Mas, aku kok deg degan ya? Nanti kalau mama sama papa nggak suka sama kamu, gimana?" tanya Rania gusar. Mendadak iya tak yakin atau belum siap lebih tepatnya mengenalkan kekasihnya dengan orang tuanya.


Rayyan tersenyum menanggapi kecemasan tambatan hatinya itu. Dirinya juga sebenarnya merasa gugup, namun menyangkalnya dan berusaha tenang. Menikmati perjalanannya dulu sembari berpikir apa yang pertama ingin ia lakukan jika nanti pertama kali bertemu.


Tangan kiri pria itu terulur menggenggam tangan Rania. Lalu membawa dalam kecupan.


"Kayaknya ini tugas kamu buat marketingin aku nanti di depan orang tua kamu. Kalau aku pastinya, banyak-banyak berdoa, semoga aku adalah salah satu calon menantu yang diinginkan mama sama papa kamu," jawabnya kalem.


"Kalau misal orang tuaku tidak setuju gimana? Mama itu over protective, beliau tidak gampang menerima kalau sekali lihat, apalagi papa, perfeksionis."


"Ya ... kita kawin lari lah!" jawabnya spontan.


"Hah! Senekat itu?" Rania dibuat speechless dengan jawaban pria di sampingnya.


"Ya nggak lah, aku bakalan yakinin orang tua kamu bahwa aku ini layak jadi menantu idaman," ralat pria itu dengan yakin.


Mobil mereka terus melaju, matahari juga semakin meninggi. Rania merasa cacing dalam perutnya berdisko minta amunisi. Mereka pun memutuskan untuk menepikan mobilnya di salah satu warung makan pinggir jalan.

__ADS_1


"Sarapan dulu, kamu lapar 'kan?" ujarnya sembari memarkirkan pada posisi yang benar.


Rania mengangguk, mengiyakan. Keduanya turun dan langsung masuk menempati tempat yang kosong. Rayyan langsung memesan dua porsi nasi padang yang cukup menggugah selera untuk makan.


"Nggak pa-pa 'kan makan di sini? Kamu malu nggak, atau merasa nggak nyaman?"


"Nggak pa-pa Mas, aku bisa makan di mana aja asal tempatnya bersih. Lagian ini cukup bersih kok," jawab Rania cuek.


Terlahir dari keluarga Sultan tidak menjadikan gadis itu manja. Walaupun ayahnya seorang pengusaha yang cukup sukses di kotanya, Rania tetap membelanjakan uang sesuai kebutuhan. Orang tuanya juga membatasinya.


"Ra, apa sebelumnya sudah pernah ada orang yang kamu kenalkan dengan orang tuamu?" tanya Rayyan di sela menunggu pesanan.


"Jo sih paling, itu pun pas bareng sama teman-teman. Ada main bersama karena emang niat ke Bandung buat liburan, terus mampir aja ke rumah," jawab Rania jujur.


"Mama tahunya kita teman sih, datangnya bareng-bareng juga 'kan ya, cuma beliau sering aja pesan untuk tidak pacaran dulu, fokus sekolah, jodoh akan datang di saat yang tepat."


"Mungkin aku adalah orang yang tepat yang ditunggu Mama kamu," seloroh pria itu penuh harap.


"Bisa jadi," jawabnya sembari tersenyum.


Usai sarapan, mereka berdua kembali menguasai jalanan. Banyak mengobrol yang ternyata, Rayyan itu sama sekali tidak ada jaim-jaimnya. Cerewet bahkan gadis itu hampir lupa kalau ia pernah bersikap dingin dan galak padanya karena sekarang semuanya mencair. Tak ada lagi Rayyan yang cool, Rayyan yang sok cuek, Rayyan yang pendiam, kalau mesumnya ya masih tetep sih, cuma sekarang lebih bisa menunjukkan kasih sayangnya.

__ADS_1


"Mas kok berhenti, 'kan belum sampai?" protes Rania tak tahu lagi maksud harus berhenti lagi yang ke dua.


"Sayang, kamu lihat deh view di sekitar sini, indah banget kan, pohon-pohon hijau dengan pemandangan gunung yang begitu terang terpampang nyata. Kita foto dulu yuk, kayaknya seru banget ambil gambar di sini," ujar pria itu berbinar.


"Iya sih, pemandangannya bagus, oke siapa takut," tantang Rania mencari posisi yang paling pas.


Keduanya sama-sama narsis di depan kamera. Banyak mengambil gambar dengan gaya berbeda-beda. Mulai dari gaya kalem saat berdua, sedikit rusuh mencuri ciuman, sampai sengaja yang paling romantis versi keduanya.


Mencoba gaya sendiri-sendiri yang tak kalah ngeksis. Dari melayang di udara pas di jalanan, sampai duduk lesehan, berjalan dengan gaya cuek, dan berguling di aspalan. Benar-benar enjoy dalam sekejap. Healing yang cukup sederhana, keduanya cukup puas dengan hasil karyanya yang ternyata hasil jepretannya tak kalah saing sama fotografer dadakan.


"Sayang, lanjut lagi ayok, mataharinya udah tinggi," ajak Rayyan sembari merangkum bahunya.


"Iya Mas, aku kabari mama dulu ya, enaknya aku langsung ke rumah sakit atau nengok rumah dulu," ujar Rania galau sendiri.


"Aku cari penginapan dulu deh, nggak mungkin 'kan kalau aku nginep tempat kamu. Kalau boleh sih mau banget, tapi aku perlu tempat istirahat untuk malamnya. Nanti kita bisa ketemuan di sana," ujarnya penuh dengan agenda.


"Oke deh," jawab Rania sembari memberi kabar ibunya.


Keduanya memutuskan langsung ke rumah sakit karena bertepatan dengan jam besuk. Kebetulan juga keluarga sedang berkumpul di sana.


"Sayang, kita beli buah tangan dulu ya," ujar Rayyan menginterupsi.

__ADS_1


Saatnya action di depan camer dan keluarga besarnya. Sedikit grogi namun itulah yang sangat ditunggu-tunggu Rayyan. Apalagi niatnya ikut menjenguk kakeknya yang tengah sakit, tentu itu sebuah nilai plus tersendiri. Setelah membeli parsel buah di sekitar rumah sakit, keduanya langsung menuju ruangan di mana kakek Tama dirawat.


"Assalamu'alaikum ....!"


__ADS_2