Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 149


__ADS_3

"Sayang, kalau mau ambil internship di Medika saja. Aku nggak mengijinkan kamu tugas jauh-jauh dari rumah," ujar Rayyan.


Pria itu sedikit waswas takut-takut istrinya akan mengambil tugas magang di rumah sakit luar yang jam kerjanya pasti tidaklah sama. Mengingat ia tengah hamil juga yang kadang moodnya rewel kadang juga ingin menempel.


"Hmm ... aku rasa anak kita juga tidak suka jauh darimu," jawab Rania benar adanya. Ia merasa selalu ingin dekat dengan suaminya di kehamilan menjelang empat bulan ini.


"Anaknya atau ibunya? Aku tidak yakin kalau itu murni anaknya, kamu juga iya kan?" seloroh pria itu tersenyum.


Rayyan bagai mendapat durian runtuh yang matang. Di mana ia dibucinin istrinya sendiri seperti yang ia harapkan dan idam-idamkan selama ini. Istrinya merasa membutuhkannya, merasa mencintainya dan merasa takut kehilangannya.


"Sayang, nanti aku nyusul sekalian bawa bekal makan siangnya," ujar Rania meraih uluran tangan suaminya. Lalu menciumnya dengan takzim.


Rania masih sedikit santai, ia malah fokus ke kehamilannya dulu. Lebih suka menghabiskan waktu di rumah, dan akan menyusul ke rumah sakit setiap waktu saat dirinya merasa kangen.


Seperti hari ini, jarum jam pendek masih stay di angka sepuluh ketika perempuan itu sudah sampai di rumah sakit. Tiba-tiba merasa rindu dengan percaya dirinya langsung menyusul.


"Mas!" ujar perempuan itu sembari menenteng cup tiramisu boba di tangannya.


"Eh, calon mama udah datang," seloroh Ray menyambut kedatangan istrinya.


"Gabut, nanti siang mau ke butik coba bajunya, sepertinya kekecilan karena perutku semakin besar," cerocos Rania sembari mengambil duduk.


"Kamu nggak ada operasi hari ini? Kok santai beud."


"Dihandle sama yang lain, tugas aku banyak, harus mempelajari ini semua limpahan tugas dari papa," ujar Ray sibuk sendiri dibantu Axel.


Pria itu semakin sibuk saja semenjak Pak Wira melimpahkan pekerjaannya pada putra semata wayangnya.


"Perlu bantuan?" ujar Rania sok yes.


"Nggak usah, cukup aku yang pusing saja, kamu hanya perlu duduk manis menemaniku. Nyiapin cemilan juga boleh."


"Kenapa nggak minta Axel untuk membelikan sesuatu, kamu mau apa biar aku pesan saja."

__ADS_1


"Nggak ada, minta bobanya boleh juga." Ray mengambil cup di tangan Rania lalu menyeruputnya.


"Ich ... jangan yang ini, nanti aku beliin."


Rania manyun, mengambil tisu lalu mengelap sedotan bekas mulut Ray. Membuat pria itu mendelik tak percaya.


"Kok dilap?" tanya pria itu melirik sengit.


"Nggak pa-pa, emangnya kenapa?" ujar Rania santai.


Karena gemas Ray menyeruput kembali lalu mentrasfer minuman itu ke mulutnya seraya *****@* habis bekas bibirnya. Rania gelagapan menelannya. Pria itu menyeringai dengan puas.


"Mas!" Perempuan itu menimpuk dengan gemas. Sementara Ray hanya nyengir tanpa dosa. Menarik istrinya hingga terduduk di pangkuannya.


"Ish nggak boleh gitu, kok dimasukin ke mulut sih!" protes Rania tak percaya.


"Kenapa? Cuma berbagi minum, biasanya juga berbagi saliva dan peluh. Hehehe."


"Jangan coba-coba membuat sekat di antara kita!" peringatnya dengan nada mengancam. Mengambil tangan istrinya menguncinya dalam genggaman.


"Jorok ach!"


"Nggak lah, kan barengan sama istri sendiri."


"Dokter Rayyan yang terhormat, kuman di mulut Anda bisa berpindah padaku. Paham!"


"Nggak," ujar pria itu gemas.


"Dek!" panggil pria itu menatap dalam.


"Kenapa?" balas perempuan bingung adanya.


"kamu membuat yang di bawah sana meronta," ujar Ray seduktif.

__ADS_1


"Mesum!" Rania hendak beranjak dari pangkuan Ray. Namun, pria itu menahannya.


"Yuk!" Pria itu mengkode dengan yakin.


"Di sini? Serius?"


Pria itu mengangguk yakin.


Ray baru saja merapat, dan hendak memulai tetiba pintu ruangan itu terbuka begitu saja. Siapa lagi pelakunya, Axel yang sedikit tak tahu aturan itu.


"Permisi Dok—!"


"Astaga! Astaga! Bisa nggak sih kalian tahu tempat, bikin yang jomblo nelangsa saja," protes Axel melihat Ray dan Rania yang bucin nggak ketulungan. Bak remot dan TV ngintilin mulu ke mana pun sensor tayangan itu pergi.


"Apa Xel, gangguin aja," keluh Ray menggerutu kesal.


"Emergency Dok, nyonya besar dua menit lagi sampai," lapor Axel sungguh lebay.


"Mama?"


"Ish ... Mama kan biasa ke sini? Kenapa jadi heboh."


"Dua Mama maksudnya Dok, Nyonya Wira dan mamahnya Dokter Rania."


"Mama Inggit?" sahut Rania cepat.


"Benar sekali, Dok," jawab Axel yakin.


"Tumben duo mama kompak, ngapain ya?"


"Ketemu Dokter lah, ngapain lagi. Saat ini tengah di ruangan Pak Wira."


"Ada-ada aja calon nenek itu, nggak tahu apa lagi mode mesra," gumam Ray bergegas. Ray dan Rania kompak menemui ibu mereka. Ada apakah gerangan hingga dua ibu habat itu muncul di rumah sakit dalam waktu bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2