Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 152


__ADS_3

Usai mengadakan resepsi yang cukup meriah itu, kini Ray dan Rania semakin dikenal banyak orang dengan pasangan paling mentereng di bumi Medika. Perempuan berparas ayu itu tidak canggung lagi keluar masuk Medika menyusul suaminya di tempat kerja sebagai nyonya Wirawan generasi kedua.


Kesibukan Ray yang semakin padat, tidak serta merta membuat keduanya kehabisan moment saat-saat berdua. Pria yang sebentar lagi akan dipanggil ayah itu selalu menyempatkan waktunya berdua di setiap kesempatan.


"Selamat pagi calon Papa, selamat bekerja dengan jabatan baru, amanah baru semoga bisa membawa kemajuan di tempat kerja dan semakin bermanfaat untuk orang banyak," ucap Rania fasih menyambut suaminya yang baru saja melek.


"Pagi sayang, aminin dulu, aamiin. Kalau boleh jujur, masih pengen menikmati hari-hari seperti biasanya aja. No ribet-ribet, tapi apalah daya, tugas sudah dititahkan semoga aku bisa."


"Pasti bisa dong Mas, kan ada aku yang selalu akan menemanimu dalam suka dan duka," jawab Rania menyemangati dan cukup bijak sekali.


"Terima kasih, Sayang, kamu luar biasa. Sini cium dulu," ujar pria itu merentangkan kedua tangannya. Ray masih duduk di atas kasur dengan muka bantalnya.


Rania mendekat, tidak masuk dalam pelukan. Pagi-pagi rawan bila saling menempel. Ia cukup mawas diri mengingat suaminya itu tingkat kemesumannnya akan meningkat bila awal waktu begini. Jadi Rania hanya menciumnya kilat untuk menggugurkan keharmonisan pagi ini.


"Eh!" protes Ray menatap dengan gelengan kecil saat istrinya langsung kabur setelah memberikan kecupan sayang.


"Mandi Mas, nanti telat. Aku udah siapin airnya, keburu dingin."


Ray turun dari ranjang dengan wajah datar. Bersiap mengguyur tubuhnya dengan air yang selalu disiapkan istrinya penuh doa dan penghayatan. Diawali dengan rasa syukur yang dalam.

__ADS_1


Sementara Rania menyiapkan ganti, dan membuatkan sarapan. Perempuan itu harus memastikan gizi suaminya terpenuhi sebelum sibuk dengan urusannya sendiri. Saat ini Rania fokus kuliah S2 untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dokter spesialis sekaligus dosen di universitas kedokteran.


Perempuan itu juga aktif berkegiatan sosial di dunia medis. Turut mengikuti beragam aksi sosial bersama organisasinya yakni, bergabung di Women International Club (WIC). WIC sendiri, merupakan perkumpulan yang diikuti para perempuan dari berbagai negara dengan fokus kegiatan sosial dan berbagi kultur antarnegara.


Kegiatan sosial tersebut seperti gerakan sekumpulan para penderitaan HIV AIDS, para penderitaan kusta dan bantuan sosial serta memberikan edukasi. Circle pertemanan yang semakin luas, semakin banyak bermanfaat untuk sesama pastinya.


Ray pun mendukung penuh apa yang diharapkan istrinya. Rania itu berpotensi dan cukup pintar, jadi sangat cocok dengan kriteria Ray. Apalagi menurut penelitian, kecerdasan seorang anak turunan dari ibunya, jadi sangat tepat dan berharap anaknya nanti secerdas ibunya saat ini.


"Sayang ... rapihin dasi aku," ujar Ray mendekat. Setiap pagi sudah menjadi pekerjaan wajib seorang Rania memastikan penampilan suaminya sempurna.


Pria itu sedikit menunduk, kalau biasanya Rania yang berjinjit, sekarang Ray yang sedikit membungkuk untuk memudahkan istrinya karena perutnya yang membuncit.


"Makasih," jawab pria itu sembari menyambar satu kecupan jail.


Keduanya sarapan dengan khusuk. Rania rencananya juga akan ambil internship di rumah sakit suaminya setelah lahiran. Perempuan itu akan sangat sibuk, namun tetap terkontrol dengan jadwal yang ada. Lebih fokus dengan kehamilan dan pendidikan. Bukan berarti tidak butuh bekerja, namun Ray sendiri menyarankan agar tidak terlalu capek mengingat ia tengah berbadan dua dengan kisaran beberapa bulan lagi lahiran.


Jadi, praktis setiap hari kalaupun muncul di rumah sakit tidak untuk bekerja melainkan melakukan kunjungan khusus di ruangan suaminya sambil ngrecokin suaminya yang cukup sibuk itu.


"Nanti ada kuliah?" tanya Ray sembari makan.

__ADS_1


"Ada, habis itu ada kelas ibu hamil. Aku mau kamu yang nemenin nanti, kemarin ditanya gini. Suaminya mana Bu?"


"Terus jawab apa?" tanya Ray cukup antusias.


"Sibuk ngurusin pasien, istrinya sendiri nggak diurus," jawab Rania bergurau.


"Serius?" tanya Ray tak percaya.


"Huum, salah ya?" tanya Rania tanpa merasa berdosa.


"Astaghfirullah ... salah, tapi bener juga sih. Oke deh, nanti aku usahain buat nemenin kamu. Pokoknya sabtu minggu nanti waktunya full buat kamu."


Belakangan Ray memang cukup sibuk mengingat padatnya jam kerja baru yang harus dipelajari. Sebagai pemimpin baru tentunya harus lebih aktif lagi.


"Oke sayang, aku berangkat dulu ya, baik-baik di rumah atau kalau berkegiatan di mana pun berpijak. Selalu berkabar dan assalamu'alaikum ....!" pamit Ray. Seperti biasa Rania menyalim takzim dan Ray balas menciumnya.


Rania mengangguk dengan senyuman, perempuan itu berkegiatan di luar rumah diantar supir, agar Ray semakin tenang saat bekerja.


"Nanti aku usahain sesuai jam kelasnya, tolong kabari saja," ujar Ray sembari beranjak.

__ADS_1


__ADS_2