
Lelehan bening itu tak berhenti dari mata sembab Rania. Rayyan yang masih berdiri di dekat Ranjang mendekat, tangannya terulur ingin menghapus air mata itu, namun Rania menepisnya dengan kasar. Pria itu tak mengindahkan penolakannya. Ia duduk merapat di dekat Rania dengan muka santai.
"Kamu mau marah, mau pukul aku, atau mau maki aku, atau mengumpat apapun tentang aku, silahkan Ra, pukul aku, tampar aku!" ucap Rayyan santai. Terlihat lebih tenang tanpa emosi.
Mereka berdua sama-sama terdiam, hingga menit berlalu. Rania bergerak, mengayunkan kakinya untuk turun dari ranjang, namun Rayyan menahannya. Gadis itu menoleh, menemukan mata Rayyan yang juga berkaca-kaca. Sepasang mata sayu itu bertemu, saling mengunci dalam diam.
Rania sungguh tidak mengerti dengan orang ini. Hampir dua bulan mengenalnya, ia seperti menemukan pribadi ganda dalam dirinya. Terkadang akan bersikap lembut dan sangat manis, namun juga bersikap pemaksa dan sangat otoriter.
"Ra, mama mau jodohin aku sama seseorang," curhatnya setelah beberapa menit hanya diam.
Pria itu terlihat rapuh, bahkan seperti tidak bersemangat kala mengutarakan hal itu. Rania masih terdiam, ia bingung menanggapinya.
"Kenapa tidak Dokter coba saja, mengenal dulu lebih baik," jawab Rania mencoba menanggapinya.
"Kamu mau mencoba?"
"Aku? Apa maksudnya?" Rania balik bertanya, mukanya jelas bingung.
"Kalau dalam waktu dekat ini aku tidak bisa menyakinkan seorang perempuan untuk dijadikan istrinya, mama yang akan mencarikan jodoh untukku," curhatnya sendu.
"Dokter kenalan saja dulu, siapa tahu suka dengan pilihan orang tuanya," ujarnya memberi solusi.
"Aku sudah kenal," jawab Rayyan spontan.
"Terus, kenapa tidak coba jalani dulu," ujarnya menanggapi.
__ADS_1
"Aku maunya nikah sama kamu," ucap Dokter Rayyan blak-blakan.
Rania mendengus lelah, ia hendak berdiri dari bed namun lagi-lagi Rayyan menahannya. Merangkum bahu Rania agar menghadapnya.
"Aku belum mau menikah sebelum lulus nanti, lagian orang tuaku tidak bakalan setuju aku menikah sebelum aku lulus," ujarnya yakin.
"Bagaimana kalau aku bisa menyakinkan orang tuamu, apakah kamu mau berubah pikiran?"
"Kamu lupa aku punya pacar?"
"Ingat kok, tolong beri aku kesempatan, setidaknya sampai kamu bertugas di sini, kamu bisa memilih antara aku atau pacar kamu itu yang paling pas untuk menjadi pendamping hidupmu."
"Aku nggak mau, aku belum siap menikah," jawab Rania bangkit dari sana.
"Kamu tidak ingin mencobanya, kali ini lupakan saja semua tentang penekanan yang aku beri. Aku minta satu malammu, dan semua aku kembalikan pada kehidupan di mana aku dan kamu tidak saling mengenal, atau mau berakhir di pelaminan. Aku pastikan kamu akan bertugas di sini dengan tenang."
"Ra!" seru Rayyan memanggil namanya. "Dengerin dulu, sayang."
"Nggak mau, lepas!" Rania menatap tajam dan menepis kasar saat lagi-lagi Rayyan menahannya.
"Kalau kamu keluar dari sini tanpa kesepakatan apapun, kamu akan menyesal!" ancam Rayyan cukup gamblang.
"Dokter bisa nggak sih, profesional dikit, jangan menghubungkan urusan pribadi kita dengan urusan pekerjaan."
"Bisa lah, akan aku tunjukan padamu. Bagaimana profesionalnya aku dalam bekerja. Kamu yang minta, dan yang membuat aku jadi seperti ini, jangan salahkan aku, bila nanti tak ada kesempatan kedua. Kamu sungguh menyia-nyiakan yang pernah ada."
__ADS_1
"Oke, kalau begitu tunjukan saja," tantang Rania cukup berani. Rania pikir Rayyan hanya menggertak saja, karena apa yang ia lakukan tidak hanya berimbas pada dirinya namun juga diri dia sendiri. Jadi, mungkin sama-sama hancur kalau foto itu sampai bocor.
"Kamu yakin?" tegas Rayyan sembari mendekat. Rania berdiri dengan gusar.
"Dokter jangan macem-macem ya, ini di rumah sakit, saya bisa teriak dan semua orang akan datang ke sini."
"Bagus dong, kita digrebek, terus nikah, atau kalau nggak udah nggak ada yang mau lagi sama kamu karena orang lain pikir kamu sudah berbuat mesum denganku."
"Jahat!"
"Sshhhtt ...! Jangan ngomel terus dong, sayang!" tegasnya semakin mengikis jarak.
Perasaan Rania sungguh tidak tenang, ia benar-benar diliputi gelisah dan selalu terombang-ambing dalam permainannya.
"Ra," ucapnya lirih. Mata tajamnya menatap begitu lekat. Ibu jarinya mengusap lembut bibir ranum itu.
"Cuma itu?" tanyanya memastikan, seakan tahu apa yang diinginkan pria itu.
"Emangnya kalau lebih boleh?" tanyanya menggoda.
"Aku harus segera keluar, sampai ketemu," ujarnya.
"Ra, aku nggak suka maksa," ujarnya masih menahan gadis itu.
"Janji!"
__ADS_1
Rayyan mengangguk, detik berikutnya bibir mereka kembali bertemu. Melepas rindu yang ia pendam berminggu-minggu. Mencurahkan rasa kangen yang begitu menggebu, menyesap kuat, mengumpulkan indera perasa itu menjadi satu. Menari dengan lihai hingga ke sudut yang paling dalam.