Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 47


__ADS_3

Rania mencebik kesal seraya melangkah keluar dari ruangan yang cukup membuatnya berada dalam tekanan. Ia kembali ke ruang jaga.


"Ya ampun ... itu muka apa kain goni, kusut amat beb," seloroh Asa menyapa. Rania mengambil duduk di dekatnya.


"Ngapain sih, lo dipanggil ke ruangan konsulen suruh ngapain?"


"Tahu ah gue lapar, gue makan bentar ya?" ujarnya hendak beranjak.


"Ke mana, nih ada titipan," ujar Asa menyodorkan nasi box begitu gadis itu hendak minggat.


"Dari siapa?" tanya Rania bingung. Duduk kembali dengan wajah tak ramah.


"Tadi ditaruh di sini aja, pas aku lagi keluar sebentar udah ada di sini. Ada tulisannya tuh."


Gadis itu mengintip, "To Rania, dimakan ya biar kuat menjalani hari yang masih panjang. Sepanjang jalan cerita aku dan kamu, untuk menjadi satu." Rania membaca tulisan di atas kertas yang berderet rapih lengkap dengan emoticon love.


"Cie cie ... jangan-jangan ada senoir yang naksir kamu. Ini baru hari pertama loh beb, udah banyak kejutan."


Asa mengerling dengan cengiran di wajahnya, sementara Rania sendiri justru bingung. Ia masih mengamati dengan seksama tanpa minat memakannya.


"Malah bengong, makan beb, anggap aja rezeki anak sholeh."


"Dari siapa ya Sa, kok tiba-tiba ada di meja. Ah misterius sekali gue takut makan," ujarnya menjauhkan nasi kotak itu dan membiarkan saja perutnya meronta minta diisi.


"Astaga Rania, hargai dong orang yang ngasih, makan beb, sok lah mumpung nggak ada pasien masuk!"


Rania yang awalnya ragu, akhirnya membuka juga nasi kotak itu. Ayam bakar kalasan menjadi menu siang ini yang cukup menggugah selera. Perempuan itu pun makan dengan cepat.

__ADS_1


"Kamu mau nggak tukeran jaga malam, aku soalnya nggak bawa ganti," keluh Asa bimbang.


"Aku juga nggak bawa ganti, coba tanya Jeje, kalau nggak minta supir buat nganter perlengkapan lo aja, beb."


"Duh ... gue tuh paling anti sebenarnya jaga malam di hari pertama. Di samping belum persiapan, hawanya malas bin horor. Kamu mau ya Ra," pintanya setengah memohon.


"Duh ... turut prihatin beb, sorry nggak bisa, semangat dong! Besok kan ada giliran juga, semuanya pasti kebagian," ucap Rania menanggapi.


Kasihan sebenarnya karena belum persiapan membawa apapun. Tetapi ya mau bagaimana lagi, semua sudah dijadwalkan. Asa dan Tama jaga malam di hari pertama. Setidaknya Rania merasa aman untuk malam ini, walaupun di hari pertama sudah mendapat job tambahan dari konsulen menyebalkan itu, malam ini Rania bisa bobok cantik dan tidur nyenyak di rumah tanpa ada hambatan apapun yang berarti.


Sore itu pun Rania melajukan motornya kembali ke rumah Eyang Rasdan. Sudah hampir dua minggu gadis itu tinggal di rumah eyangnya. Sebenarnya lumayan jauh, namun demi ketenangan hati ya apa boleh dikata.


Rania baru saja selesai menukar pakaiannya, dan bersiap untuk menghuni ranjangnya sekedar untuk bersantai tetiba suara ketukan pintu kamar menggema. Gadis itu pun kembali turun dari kasur dan membukakan pintu kamarnya.


"Maaf Non Rania, ada tamu mau ketemu," ucap asisten rumah tangga memberitahu.


"Katanya temen Non, menunggu di ruang tamu," lapor Mbak Yana sang asisten.


"Makasih Mbak, tolong buatin minum ya," pintanya sembari menyambar kimono cantik yang sengaja ia lepaskan sebelum tidur.


Rania menuju ruang tamu, ia mendapati Jo tengah duduk di sana sembari menunggu.


"Jo, kamu datang?"


"Hallo sayang, sorry ganggu malam-malam," ujarnya sembari berdiri menyambut Rania.


"Oke, nggak masalah. Kenapa? Kok bisa tahu, aku kan belum kasih tahu pindah ke sini."

__ADS_1


"Dari Jeje," jawab Jo datar.


"Owh gitu, ada apa?"


"Pengen ngajak jalan aja, bisa nggak kita keluar sebentar, sebenarnya ada acara kecil-kecilan sih nanti malam, kamu bisa kan temenin aku."


Rania sebenarnya ingin sekali menikmati waktunya malam ini tanpa gangguan yang berarti, namun melihat Jo sudah datang jauh-jauh menemui dirinya tentu membuat gadis itu tidak tega untuk menolak.


"Ke mana Jo?" tanyanya memastikan.


"Pokoknya kamu dandan pakai ini ya, aku tunggu?" pintanya sembari menyodorkan papper bag yang ternyata berisi sebuah gaun malam yang sangat cantik.


"Owh, ya udah aku ganti dulu, emang acaranya sore gini?"


"Iya kok, ya udah sana ganti gih."


Rania memakai pakaian yang Jo berikan, gadis itu pun pamit dengan orang rumah sebelum berangkat. Jo membawa ke sebuah acara di sebuah restoran. Rania sendiri belum jelas benar itu acara siapa.


"Jo, ini pesta teman kamu?" tanya Rania sembari merapikan dress yang ia kenakan.


"Bukan pesta sayang, hanya acara syukuran punya mama karena kemarin baru saja membuka restoran baru," ujarnya tersenyum.


"Ayo sayang masuk, aku kenalin ke mama?" ujarnya santai.


Rania berjalan gontai memasuki ruangan dengan tangan bergandengan dengan Jo. Dari arah yang lumayan jauh, ia bisa melihat satu persatu orang-orang yang nampak hadir di sana. Tiba-tiba ia mengerem langkahnya tetiba melihat sosok yang ia kenal.


Deg

__ADS_1


"Tante Wira?" batin Rania tak percaya. Gadis itu pun mendadak bingung untuk melanjutkan langkahnya. Terlebih di sampingnya ada Rayyan yang juga turut hadir di sana.


__ADS_2