
Rania menyusut sudut matanya yang berembun, buru-buru membenahi penampilannya saat sudah di ruang jaga. Perempuan itu menarik napas dalam sepenuh dada, berusaha mengembalikan moodnya yang berantakan pagi ini. Usai apel pagi, mengisi daftar hadir, dan log book sesuai petunjuk pengisian.
Bibir Rania susah ketarik ke atas, ia terlihat diam dan suka menyendiri dalam kesempatan. Harinya dilalui dengan perasaan gamang. Rania tahu dirinya bukan orang yang suci, bahkan juga mengkhianati tanpa disengaja, tetapi mengetahui fakta Jo bersama orang lain, entah mengapa rasanya begitu sakit.
"Lunch beb, kuy lah!" ajak Jeje sembari menepuk pundaknya.
Rania mengangguk, mengikuti kedua sahabatnya yang sudah melenggang di depannya. Mereka menuju kantin rumah sakit, sekedar rehat sebentar mengisi perut, namun nyatanya semua makanan itu terasa hambar, seperti hatinya yang meremang gelap.
"Kalau mau nangis, nangis aja nggak usah ditahan, gue tahu lagi kalau elo lagi patah hati, elo nggak pandai menyimpan kesedihan," celetuk Jeje cukup menohok.
Rania menyorot Jeje sendu, "Gue nggak mau nangis, Je, nggak mau nangis!" kata Rania sembari menyender di bahu Jeje, menumpahkan kesedihannya di sana.
Asa yang juga ikut merasa sedih menyodorkan tisu untuk sahabatnya. Sebagai teman sejawatnya, ia merasa orang yang paling kehilangan senyum Rania yang selalu dapat mencairkan suasana.
"Kira-kira kapan ya kita bisa healing? Pengen minggat ke mana gitu," usul Asa yang juga merasa jenuh dan penat.
"Tahun depan nunggu liburan tahun baru, sabar-sabar saja lah menjalani ini semua, nikmati prosesnya menuju kesuksesan."
Obrolan mereka ditemani makan siang yang relatif pasif bagi Rania. Ia tidak menyumbangkan suaranya, makan dengan tidak minat, hanya beberapa suap saja. Hari-hari Rania terasa berat, kendati demikian, ia juga tidak mau memikirkan orang yang bahkan mungkin tidak pernah memikirkannya lagi.
__ADS_1
"Ra, lo nggak makan? Ceileh, patah hati juga butuh tenaga kali!" cibir Kenzo yang baru saja bergabung.
"Bacot lo, gue lempar juga ke nirwana!" jawab Rania ketus.
"Widih ... galak amad Raniaku, sans dong, masih banyak stok cowok di dunia nyata yang sayang sama lo, termasuk—" Semua mata tertuju pada Tama.
"Siapa? Elo maksudnya?" tuduh Jeje sinis.
"Bisa jadi, iya nggak, Ra?" Pria itu tersenyum kalem.
"Fokus dulu sama kuliah, koas aja bikin pusing, mikir cinta-cintaan, ya kalau setia, kalau nggak ngenes kan jadinya, patah hati, sakit hati, untung nggak gila, nggak sampai bunuh diri dari lantai lima belas gegara hamil nggak mau tanggung jawab," cerocos Kenzo mendadak membuka sesi cerita.
"Yang kemarin kasusnya nggak beda jauh sih, percobaan bunuh diri gegara—" Kenzo menyorot Rania sekilas. Perempuan itu menatap garang pria yang dengan senang hati bercerita itu.
"Suka sama Jo, tapi akhirnya jadian juga kan, orang ditungguin di rumah sakit setiap malam. Kemarin pas gue jaga malam juga gitu, sedikit heboh gue kira pasien gawat, eh ternyata emang gawat sih, ceweknya stress kali suka sama Jo-nya maksa. Lo yang sabar ya, Ra, hubungan lo tuh toxic, jadi gue pikir emang yang terbaik putus!" papar Tama sembari menepuk punggung Rania menenangkan.
Jadi topik hangat siang itu adalah obrolan dengan tema sakit hati. Well, mereka semua mengetahui dan bukan rahasia umum lagi untuk kelimanya karena memang mereka tahu hubungan Jo dan Rania semenjak kuliah.
Siang itu kebetulan ada presentasi kasus dari tim, jadi mereka berkumpul bersama untuk prekas bersama konsulen bedah. Entah itu suatu kebetulan atau tidak, hari itu Dokter Rayyan yang menjadi pembimbingnya.
__ADS_1
Sudah beberapa hari semenjak percekcokan itu, praktis hubungan Rayyan dan juga Rania merenggang. Mereka beberapa kali dipertemukan, namun tidak pernah ada obrolan berdua. Keduanya terlihat saling menjaga jarak, lebih kepada memberikan ruang untuk masing-masing diri menyelami hatinya.
"Siang adek-adek koas, masih semangat!"
"Siap, semangat Dok!" koor mereka kompak.
Rayyan memperhatikan dokter muda satu persatu, Rania nampak memilih duduk yang paling jauh dengan dirinya. Pria itu menyorot sekilas wajahnya yang paling tidak bersemangat.
Saat tengah-tengah bimbingan, semua nampak serius menyimak dan saling diskusi, dan entah dari mana awalnya, tiba-tiba pria itu ceramah dengan topik berbeda.
"Semua orang pernah patah hati! Semua orang pernah mencintai orang yang mencintai orang lain! Mungkin semua orang pernah berada di posisi yang rumit, mencintai sendirian! Well, semua itu sebagian dari proses, namanya juga siap menjalin sebuah hubungan ya harus siap juga dengan rasa tidak enaknya," kata Rayyan yang langsung mencuri atensi semuanya.
Nyindir gue nih orang!
batin Rania mulai resah.
Keduanya saling melempar tatapan yang sulit diartikan.
"Jadi, kalau kalian lagi patah hati, kalian nggak spesial. Semua orang juga pernah ada di posisi tidak mengenakan itu. Yang membuat kalian beda adalah upaya apa yang kamu lakukan setelahnya, apakah merasa tersakiti terus menerus, merasa tidak berharga, rendah diri dan tidak pantas bahagia. Atau memilih bangkit dari keterpurukan itu dengan menyalurkan rasa cinta dan sayang kamu ke orang lain di sekitarmu yang benar-benar membutuhkan cinta dan kasih sayang—."
__ADS_1
"Contohnya—pasien-pasien kamu!"