
"Kamu nggak makan? Aku juga suapin kamu ya?" ujar pria itu tak kalah perhatian.
"Aku masih kenyang Mas ... tapi nanti aku makan kok, makasih ya udah bawain makanan untukku."
"Kamu udah makan?"
"Baru Mas, sama teman-teman tadi dari rumah sakit langsung hunting makanan. Nanti yang kamu bawa aku makan agak malaman."
"Nggak usah dimakan juga nggak pa-pa," jawab Rayyan datar. "Aku makan sendiri aja," ujarnya merebut sendok dari tangan calon istrinya.
Rania terdiam, mengamati perubahan wajahnya yang keruh. Ini cuma perkara soal makan bareng teman-teman kenapa Rayyan harus mrengut, seposesif itu kah?"
Rania yang gemas akhirnya membuka papper bag satunya dan mulai makan dengan diam. Ia hanya tidak suka sesuatu yang kecil dibesar-besarkan. Dan mulai dari sini, Rania juga sadar, bahwa dirinya selalu dalam tekanan pria itu. Tetapi anehnya, ia sama sekali tidak bisa mengabaikan begitu saja, cinta Rayyan benar-benar sudah menjeratnya.
"Udah, kalau kenyang nggak usah dimakan, Dek, nanti kamu begah," cegah Rayyan sembari menjauhkan bakmi abun yang belakangan menjadi favoritnya.
Benar kata pria itu, Rania langsung bergegas ke belakang dan rasanya pingin muntah. Hal terbodoh sepanjang sejarah dalam dirinya perkara cinta, konyol, hanya karena merasa takut dan membuatnya kecewa ia rela tetap makan padahal memang benar-benar udah kenyang.
"Dek, nggak pa-pa? Sorry, aku nggak nyuruh kamu makan 'kan?"
Rania bergeming, perempuan itu beneran muntah-muntah di wastafel.
"Nggak pa-pa Mas, kamu lanjutin makan aja," ujarnya dingin.
Rayyan tak kunjung beranjak, menanti Rania yang tampak membersihkan mulutnya. Baru keduanya kembali ke sofa.
"Besok kamu libur, kan? Aku mau ngajakin ke suatu tempat, mau ya?" ajak Rayyan tiba-tiba.
Sebenarnya Rania ingin me time dan minggir sejenak dari bayang-bayang siapapun, namun sepertinya pergi dengan Rayyan juga tidak buruk.
__ADS_1
"Kemana? Yang dekat-dekat aja ya, senin 'kan udah masuk lagi," ujar Rania lalu.
"Iya, dekat banget kok, kamu sepertinya lelah, ya sudah istirahat saja. Besok aku jemput," ujar Rayyan menginterupsi.
"Oke," jawabnya mengangguk dengan senyuman.
Rayyan pamit tanpa banyak drama. Pria itu meninggalkan kekasihnya dan berujar pulang. Satu kecupan sayang di keningnya sebagai tanda perpisahan malam itu. Rania juga mengantar sampai depan pintu, senyum dan lambaian tangan mengiringi kepulangan kekasihnya itu.
"Wah ... banyak kemajuan ya? Sukses move on-nya," celetuk seseorang yang mampir di telinganya.
Rania reflek menoleh mencari sumber suara, ia terperangah mendapati mantan kekasihnya ada di tempat yang sama.
"Jo, kamu di sini?" tanya Rania berusaha senormal mungkin. Pernah berseteru bukan berarti harus bertemu dengan saling acuh bukan.
"Hai Ra, kamu yang tinggal di sebelah. Wah ... kita tetanggaan dong?" ujar pria itu tersenyum sumringah.
"Baru banget sih, eh, kebetulan atau jodoh ya, bisa gitu kita tetanggaan gini."
Rania hanya menanggapi dengan cengiran tanggung.
"Kamu apa kabar, Jo?" tanya Rania basa-basi.
"Kurang baik," jawabnya datar. "Kamu nggak tanya kenapa?" tanya pria itu menyorot Rania sayu.
"Kamu benar-benar semudah itu lupa sama aku, bahkan aku sendiri masih belum bisa lupain gitu aja tentang kita," ujar Jo mulai drama.
"Maaf, Jo, tidak harus sedekat dulu, kita masih bisa berteman baik 'kan?" ucap Rania.
"Iya sih, tapi kamu yakin dengan pilihan kamu itu, kamu yakin Ra?"
__ADS_1
"Insya Allah, maaf ya Jo, aku masuk dulu," pamitnya merasa begitu tidak nyaman.
Belum ada sebulan Rania tinggal di apartemen itu, dirinya dikejutkan kemunculan Jo yang jujur membuat perasaannya tak nyaman. Rania ingin sekali memberitahu Rayyan, namun ia takut pria itu nantinya semakin posesif dan menyuruhnya pindah-pindah lagi. Padahal terakhir ini, kehidupannya mulai nyaman, tidur mulai tenang. Belajar lancar, Rayyan pun sudah tidak banyak rewelnya. Pria itu lebih sering menunjukkan kasih sayang yang nyata, membuat Rania semakin jatuh cinta saja.
Perempuan itu baru saja menyambar selimutnya, menutup tubuhnya dengan rapat tetiba bel apartemennya berbunyi.
"Siapa yang bertamu ya? Apakah Rayyan pulang?" gumam Rania sembari berjalan mendekati pintu. Malam sudah larut dan Rania pun seharusnya sudah beristirahat.
"Ra, maaf malam-malam ganggu," sesal pria itu menyapanya. Jo datang dengan wajah sedikit cemas.
"Iya, kenapa Jo?" tanya Rania bingung dan juga waspada.
"Ponakan aku sakit, kamu kan dokter, bisa tolong kamu cek," ujar pria itu penuh harap.
"Di mana? Kamu tinggal bersama keluargamu?" tanya Rania merapatkan pakaiannya. Aman, baju tidur panjang tak menunjukkan lekuk tubuhnya.
"Aku ganti bentar Jo, kamu tunggu aja, nanti aku ke cek?"
"Nggak usah Ra, gini aja lihat dulu," cegah Jo menahan tangan Rania.
"Eh, sorry, sorry, bisa tolong lihat dulu aja, dia rewel aku tidak bisa tidur," ujar Jo bingung.
Rania akhirnya mengiyakan, benar saja, seorang bocah sekitar delapan tahun tengah merengek di kasur. Rania segera mendekat, mengecek suhu tubuhnya yang lumayan panas.
"Kamu ada paracetamol? Ponakan kamu demam, sementara berikan obat penurun panas dulu, kalau besok belum ada perkembangan bisa dibawa ke rumah sakit?" ujarnya penuh solusi.
"Zara susah minum obat, aku udah kompres, kamu bisa bantu?"
Rasanya Rania ingin menolak, ditambah ia lelah, namun sisi kemanusiaannya dan naluri seorang wanita sebagai calon ibu jelas meronta. Malam itu, Rania ikut membantu merawat Zara.
__ADS_1