
"Tidak mengurangi rasa ketidak sopanan kami, dan kami sangat menghargai niat tulus Nak Rayyan, tetapiβ"
Semua mata tertuju pada pria berperawakan tegas itu. Dirinya pernah muda, sangat tahu persis medan percintaan, dan tahu betul manisnya kehidupan berumah tangga. Jelas pria itu mempunyai standar mantu idaman yang tinggi.
"Kami punya aturan dalam keluarga yang harus dipenuhi. Sebenarnya bisa saja itu dihilangkan, tetapi berhubung Rania ini putri kami satu-satunya yang sangat kami cintai dan kami sayangi, jadi kami perlu tahu betul silsilah keluargamu, dan juga kepribadianmu," ucapnya cukup tegas.
Rania adalah anak perempuan satu-satunya, dari dua bersaudara. Anak pertama dari pasangan Albiru Rasdan dan Inggit prameswari.
(Yang kepo sama kisah mereka bisa cek di judul Diam-diam Merried πππ)
Gadis itu mempunyai satu adik laki-laki yang masih sekolah menengah umum. Sejak kuliah terbiasa hidup mandiri di perantauan, tetapi cukup mempunyai kontrol pergaulan yang baik. Orang tuanya memberikan kepercayaan penuh, tentu saja yang membentengi Rania tetap berjalan lurus di tengah pergaulan anak generasi Z seusianya yang cukup meresahkan.
Oh tidak semudah itu ferguso, main lamar-lamar anak orang saja. Batin netizen. Astaga!
Rayyan hanya mengangguk saja sebagai respon, tersenyum tanggung menerima aturan yang dilontarkan Pak Al yang cukup membuatnya deg degan.
__ADS_1
"Apa yang membuat kamu mencintai anak saya?" tanya Papa Biru to the point.
Pengalaman hidup membuatnya tahu betul, bahwa mengawali tanpa adanya cinta yang tulus itu sangat membuat hatinya tak nyaman. Tentu pria itu ingin yang terbaik untuk putrinya, dicintai pasangan halalnya hingga usia mereka berlanjut.
"Semuanya Om, saya mencintai apa yang ada pada diri Rania, baik kelebihan dan juga kekurangannya, saya sendiri banyak kekurangan. Saya mungkin tidak bisa menjanjikan banyak kebahagiaan karena saya sendiri belum punya bayangan ke depan seperti apa, tetapi saya akan menjaga cinta ini utuh, dan setia sampai akhir nanti diantara kita pergi untuk selamanya. Bukan hanya itu, tentu saya berharap cinta kita, hubungan kita yang halal nanti sampai ke jannahnya."
"Rania ini banyak kekurangannya, belum pandai membawa diri dan sikapnya kadang masih kekanak-kanakan. Sesabar apa kamu menghadapinya?"
"Saya akan memberikan kenyamanan penuh untuk pasangan saya dalam hal berpendapat, bergaul, dan juga berperilaku, asal masih dalam kaidah yang benar. Jika nanti saya sudah menjadi suaminya, tentu tugas saya menggandeng tangannya supaya berjalan bersama saling mengerti dan menghargai apa yang ada pada diri masing-masing. Kalau saya belum paham, saya akan mencoba untuk memahami dan belajar mengerti dengan apa yang saya bisa."
"Saya hanya manusia yang banyak kurangnya Om, tentu semua apa yang saya punya hanyalah titipan. Berbekal keyakinan diri dan rasa yang tulus ini aku persembahkan untuk anak Om, mungkin tidak sebanyak Om dan Tante berikan karena orang tua tetaplah tak bisa disamakan. Kasih sayang mereka tulus dan abadi. Tetapi setidaknya saya bisa menjaga, dan menjadikan putri Om orang yang paling nyaman berdampingan dengan saya nantinya."
"Om tidak menolak, tetapi Om juga belum mengiyakan. Kalau kamu memang benar-benar mencintai putri Om, maka bersabarlah sampai ia lulus nanti, karena Rania saat ini masih sekolah dan Om ingin anak Om menyelesaikan studinya dulu, fokus pada apa yang telah dijalankan. Kalau kamu mau bersabar silahkan, tapi jangan main-main. Tetapi kalau kamu tidak yakin dengan keputusan Om, kamu boleh mulai mundur teratur dari sekarang."
Glek glek!
__ADS_1
Rayyan menelan ludah gugup. Apa itu artinya dirinya harus menunda sampai Rania lulus. Oh tidak, jiwa sayangnya meronta-ronta.
"Begini Om, sebenarnya ... saya termasuk orang yang berkomitmen tinggi dan tidak ingin menunda-nunda suatu kebaikan. Jadi berhubung pacaran itu nantinya akan menambah dosa, bagaimana kalau menikah dulu saja. Untuk yang lain-lainnya saya serahkan kepada keputusan keluarga. Tetapi untuk lebih baiknya, sesuatu niat baik itu harus disegerakan."
"Kamu sedang menawar? Tidak suka dengan keputusan saya sebagai ayah Rania."
"Mas!" sela Mama Inggit memegang lengannya. Sedari tadi sudah gemas sendiri tidak diberikan hak interval untuk dirinya. Suaminya yang perfeksionis ini memang agaknya alot dalam urusan menantu idaman.
"Diem sayang, saya perlu mengospek calon menantu kita, seberapa serius dan tangguh untuk layak menjadi suami anak kita," jawab Albiru setengah berbisik.
Rania sendiri hanya terdiam di samping Rayyan dengan perasaan campur aduk. Mendadak ia begitu khawatir restu itu tidak akan didapat.
"Bagaimana kalau tunangan dulu Om, sejujurnya saya inginnya langsung ke jenjang pernikahan, namun kalau memang harus terpaksa ditunda sampai Rania lulus, saya akan bersabar," jawab Rayyan akhirnya.
"Kenapa kamu dari tadi mintanya cepat-cepat, apa sudah terjadi sesuatu dengan kalian?" tuduh pria itu terlihat tak ramah.
__ADS_1