Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 130


__ADS_3

Rania terjaga saat alarm ponselnya yang distel otomatis setiap hari berdering. Perempuan itu meraba-raba ranjangnya untuk meraih benda pipih itu. Ia melirik ke samping, suaminya masih nampak anteng di bawah selimut tebalnya.


Perempuan itu bangkit dengan sedikit malas, rasanya tubuhnya begitu lelah dan pegal. Ia meringis tertahan saat terasa ngilu untuk berjalan.


"Huhf ... gini amat sih," dumel perempuan itu menuju kamar mandi berjalan pelan.


Sementara Ray sendiri terjaga begitu ranjang sebelah terasa kosong. Ia segera bangkit menyusul istrinya ke kamar mandi.


"Dek, buka dong! Mandi bareng!" pekik Ray menggedor-gedor pintunya.


"Bentar Mas, gantian, ini masih pagi!" sahut Rania sedikit kesal saat Ray bahkan terus menggedor pintunya begitu berisik.


"Ya ampun Mas, gantian bisa nggak sih, berisik tahu nggak!" sewot Rania sembari membuka pintu. Ia kembali keluar dengan kesal.


"Hai kenapa marah? Ayo bareng," ujar Ray nyengir.


"Kamu duluan sana! Aku mau mandi sendiri," sungut perempuan itu mrengut.


"Kenapa sih marah-marah, sensi banget padahal semalam udah dapat jatah. Yuk mandi yuk!" ujar pria itu mengerling.


"Astaga!" batin Rania kesal. Merotasi mata malas beranjak begitu saja mengambil minum. Sepertinya ia butuh air mineral yang banyak agar pagi ini tidak oleng.


"Aaaa ....!" Ray tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya lalu membawanya ke kamar mandi.


"Mandi sayang, jangan membuatku menunggu. Mimpi masih pagi, sini aku mandiin sekalian."


"Cuma mandi, 'kan?" tekan Rania menatap resah.


"Emang boleh kalau minta lebih. Sebenarnya aku pengen berfantasi di sini, bagaikan kalau kita mencobanya?"


"Bukan solusi, yang semalam aja udah berapa kali. Please ... masih nggak nyaman banget."


"Aku bisa ngertiin kok, jangan memohon kaya gitu Dek, aku bukan maniak, perasaan dan juga kenyamanan hati kamu lebih penting. Mungkin aku akan memintanya lagi nanti," ujar Ray tersenyum kalem.


"Nanti? Emangnya belum mau pulang? Besok 'kan kerja," ujarnya memperingatkan.


"Tanggal merah Sayang, kamu pasti lupa ya saking sibuknya."

__ADS_1


Rania baru menyadari memang benar hari ini tanggal merah. Ia hampir melupakan hal itu, karena di stase jiwa tidak ada hari libur sama sekali. Minggu dan tanggal merah tetap masuk seperti hari biasa.


"Ayo pulang!"


Duo sejoli itu chek out dari hotel sekitar pukul enam pagi. Sengaja udah mandi agar lebih cepat putar balik. Sebelum benar-benar pulang Ray menyempatkan sarapan dulu. Baru mengantar istrinya ke rumah sakit.


"Aku kerja dulu Mas?" ujar Rania menyalim suaminya.


"Oke sayang, aku antar sampai dalam. Sekalian pengen nyapa teman," ujarnya percaya diri.


"Teman? Siapa? Mas kenal sebagian orang di sini?" tanya Rania tak percaya.


"Tentu saja, ayo Sayang! Ini sudah hampir jam tujuh, kamu harus ikut apel pagi 'kan?" ujar Ray santai.


"Iya bener Mas, aku masuk dulu."


Ray mengangguk, ia memperhatikan istrinya yang berjalan ke dalam. Beberapa detik kemudian, terlibat sebuah obrolan di antara Ray dan entah siapa di telepon. Baru pria itu masuk tanpa hambatan.


Nampaknya pria itu tidak begitu kesulitan untuk masuk ke dalam. Walaupun statusnya sebagai tamu.


"Hai ... nyampai sini?" sapa Dokter Alma. Beliau adalah salah satu kepala bagian di rumah sakit ini.


"Jangan salah, di sini lebih bahagia. Hahaha!"


"Ayo masuk!"


Ray memperhatikan sekeliling, pria itu langsung menuju ruangan Dokter Alma. Di jamu di sana.


"Aku pengen lihat sekeliling. Anggap saja aku tim pengawas dari pusat."


"Maybe, kayaknya cocok!" Mereka berdua berjalan di lingkungan bangsal. Melihat-lihat pasien yang baru saja usai senam, lalu bermain-main sendiri.


"Nggak ada kepikiran gitu membangun rumah sakit jiwa?" tanya Dokter Alma sambil becanda.


"Sekarang belum, nggak tahu setelah main dari sini. Sepertinya kamu benar-benar terlalu menikmati di sini."


"Tentu saja, eh ya tumben sekali ada angin segar apa nyampai sini. Apa ada donasi khusus yang ingin Anda tinggalkan?"

__ADS_1


"Ini kayaknya malak nih," jawabnya berseloroh.


"Harus, kekayaan Anda tidak akan susut untuk disalurkan ke jalur yang benar."


"Kamu pandai merayu, mana mungkin aku pergi begitu saja tanpa tanggung jawab. Haha!"


"Lama-lama gila juga di sini, cekikik mulu, pantesan kamu awet muda. Padahal anak di rumah udah seperti club bola."


"Hush ... kamu suka bener! Bagaimana dengan kamu? Apakah masih jomblo abadi? Secara undangan belum nyampai ke tangan aku."


"Enak aja udah sold out lah. Sebenarnya di sini tadi nganter istri. Pindah tugas di sini dari kampus. Kesel beud mana jauh," keluh pria itu mendrama.


"What! Ada gitu yang mau sama kamu. Haha. Becanda-becanda. Siapa? Dokter, perawat, praktikan? Yang mana sih?"


"Dia lagi koas Budok, nitip ya namanya Rania Isyana Wirawan."


"Owh ... Dek koas Rania. Lumayan kenal walaupun nggak dekat. Baru dua mingguan tapi udah mampu menyedit perhatian. Awas kamu Dedek koas yang satu itu banyak yang naksir?"


"Serius? Jangan bikin aku tambah galau ya? Ini aja siang malam nggak bisa tidur gegara jauh."


"Sering dia jadi bahas dokter-dokter sholeh. Istri kamu kan cantik, dan juga kalem, siapa pun gampang kenal. Tapi dia nggak pecicilan kok, aman!" Perempuan itu mengerling.


"Astaga! Maksudnya apa nih. Aku laporin ke Om Wisnu nih!"


"Haha! Dia lebih-lebih pasti kaget lihat kamu kluyuran di sini. Dasar nggak jelas!"


Sementara Rania sendiri setelah apel pagi langsung menemui Pak Daniel. Ia sudah mempersiapkan untuk presentasi pagi ini. Bersama beliau menjalani pemeriksaan langsung ke bangsal berdasarkan kasus satu pasien yang Rania amati.


Perempuan itu baru saja usai presentasi dan keluar dari ruangan. Bersama Asa dan Jeje yang sama juga menunggu giliran. Tetiba sekelebatan menemukan suaminya tengah berjalan di sekitar sambil ngobrol asyik ketawa-ketawa.


"Ra, itu suami lo bukan sih? Atau mata gue yang rabun?" Rania mengikuti arah pandang Asa diikuti Jeje juga yang penasaran.


"Astaga iya bener, kok akrab banget sama Dokter Alma."


"Wah ... tuh tuh pakai nepuk-nepuk pundak lagi. Itu sih deket banget, nggak kaya orang berkunjung. Sebenarnya doi niat nganter lo, apa nemuin Dokter Alma?" Jeje bagai kompor meleduk yang selalu menyimpulkan saat mata melihat.


"Hish! Nyerocos mulu tuh mulut!" Asa menyikut lengannya.

__ADS_1


Rania sendiri hanya terdiam beberapa saat, menjadi pengamat keduanya yang nampak bahagia dengan senyum akrabnya. Tiba-tiba dirinya merasa cemburu, melihat keakraban itu spontan Rania pun berpikir. Mungkinkah Ray di Jakarta juga melakukan hal yang sama saat bersama rekan kerjanya.


__ADS_2