Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 108


__ADS_3

Rania benar-benar mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk dan ngilu. Hingga matahari meninggi, masih setia bergelung hangat di bawah selimutnya. Rayyan terlihat sibuk sendiri membiarkan istrinya istirahat. Sungguh kasihan, setelah dibantai tiga kali putaran nampaknya istrinya benar-benar tak berdaya.


Suara bel rumahnya yang menggema, membuat pria tiga puluh satu tahun itu lekas memakai kausnya dan berjalan cepat menuju pintu utama. Sebelumnya ia telah memesan makanan untuk siang ini, dan mungkin saja itu kurirnya.


"Mama, tumben datang?" sapa Ray sedikit tak siap.


"Lho, emang kenapa? Nggak boleh? Hmm ... mentang-mentang sudah punya istri, jadi batesin kunjungan Mama gitu?" seloroh perempuan paruh baya itu mencebik.


"Nggak Ma, boleh kok bebas berkunjung, cuma nggak biasanya aja nggak ngabarin. Jadinya kan Ray nggak bisa request sesuatu."


"Mama bawa ini kok, Mbok Ijah masak banyak jadi Mama sengaja bagi untuk kamu."


"Kok Mama tahu aku cuti? Kepo ya?"


"Hish bahasa kamu gitu banget, ya jelas tahu lah, kan suami Mama mah up date. Ngomong-ngomong mana menantu kesayangan Mama kok nggak kelihatan?" Bu Wira clingukan.


"Owh ... Rania masih tidur Ma, mungkin sebentar lagi bangun," ucap pria itu enteng.


"Jam segini masih tidur? Apa dia sakit? Wah ... ini pasti ulah kamu!" tuduh perempuan itu menggeleng tak percaya.


Ray hanya nyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hehehe. Mama suka bener kalau nebak, ini kan sebagian misi dari Mama supaya cepat menimang cucu. Jadi sakitnya Rania kali ini kayaknya Mama seneng deh," ucap pria itu senyum-senyum kurang jelas.


"Astaga! Kamu nakal sekali sayang, jangan sampai menantu kesayangan Mama kamu buat tersiksa. Awas aja kalau sampai sakit beneran, kamu bakalan Mama jewer. Apa dia sudah sarapan?" tanya Mama lagi.


"Belum Mah, kan masih tidur," jawab pria itu enteng.


"Apa!" Bu Wira ngegas sambil menggebrak meja membuat anak semata wayangnya sampai terjingkat dramatis.


"Jam segini belum sarapan? Kamu ini gimana sih, kok nggak perhatian, ya dibangunin pelan-pelan, ini udah lewat pukul sepuluh kasihan sekali pasti lapar."


"Astaghfirullah ... masih tidur mamaku sayang, Ray nggak tega banguninnya. Semalam begadang terus bangunnya pagi, baru tidur lagi kok tadi setelah sholat."


"Ish ish ... kamu bener-bener, dasar pengantin baru!" Bu Wira geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Ya sudah Mama pulang dulu, jangan lupa itu istrinya diurus jangan cuma dielus. Anak orang sampai sakit," omel perempuan itu lalu.


"Iya Mah iya, hati-hati di jalan!" doa putranya mengantar Bu Wira hingga ke pintu keluar.


"Eh, ya sayang, Mama agak kepikiran dengan cowok itu siapa namanya mantan istrimu, tadi Mama sempet lihat tapi nggak sampai bertemu, kamu hati-hati ya takutnya masih menyimpan sakit hati kalau tahu kalian udah nikah."


"Iya Mah, makasih informasinya. Ray pasti jaga istri Ray dengan baik."


Sepulangnya Bu Wira, pria itu langsung menutup pintunya dan menguncinya. Sedikit kepikiran tentang perkataan mamanya mengenai Jo, sepertinya memang tidak ada salahnya berhati-hati mengingat pemuda itu masih tidak begitu terima dengan insiden kemarin.


Saat pria itu memijakkan di undakan kedua tangga, bel rumahnya kembali berbunyi. Pria itu berbelok mendekati pintu kembali. Memastikan siapa yang datang kali ini. Ternyata abang grab food yang mengantar makanan. Pria itu pun mengambil uang dan menukar pesanannya, lalu kembali mengunci pintunya.


Menaruh makanan-makan itu di meja makan, lalu bergegas menuju kamarnya. Yang ternyata istrinya masih setia rebahan dengan malas. Matanya sudah melek namun tubuhnya seakan enggan beranjak.


"Sayang, udah bangun?" sapa Ray mendekati ranjang. Merangkak ke atas kasur dan langsung mendekatkan wajahnya. Menempelkan bibirnya pada keningnya dengan sayang.


"Bangun!" tangannya mengacak puncak kepalanya jail.


Rania menarik diri, mengambil sikap duduk masih dengan muka bantalnya. Rayyan terus menghujani dengan ciuman di pipi kiri dan kanan.


"Gemesh sama kamu Dek, pengen gigit tapi kasihan itu masih penuh tanda aku ditubuhmu." Pria itu terkekeh bangga.


Rania hanya merotasi mata malas, manyun dan terlihat tidak bersemangat.


"Ayo turun dulu, kamu belum makan ini sudah siang lho," ujar pria itu perhatian.


"Iya Mas, kamu ada pesen makanan? Aku nggak mungkin kan masak, udah lapar," ujar perempuan itu jujur.


"Udah, aman sayang. Suamimu ini memang paling pengertian," puji pria itu pada diri sendiri.


"Aku kamar mandi dulu," ujar Rania bergerak perlahan. Berjalan lambat menuju bilik air.


Rayyan hanya tersenyum melihat itu, dirinya benar-benar seperkasa itu sampai istrinya tak bisa berjalan pagi ini.


Tanpa menunggu persetujuannya, pria itu langsung mengangkat tubuh seksi itu dan membawanya dengan cepat.

__ADS_1


"Kasihan banget sih, jalannya banter anak siput," gumam pria itu tersenyum.


Rania menatapnya dingin, "Ulah kamu kali Mas, kejam," selorohnya manyun.


"Ngapain, tunggu di luar sana!" usir perempuan itu begitu sampai di kamar mandi.


"Siap Nyonya Ray, jangan lama-lama aku udah lapar!" pesan pria itu menunggu dengan setia di dekat pintu.


"Astaghfirullah ... Mas, belum beranjak?"


Rayyan menggeleng, "Mana tahu butuh sesuatu, masih sakit banget ya, berarti siang ini aku nggak bisa berkunjung dong," kata pria itu dengan percaya diri maksimal.


"Ya ampun ... mikirnya itu mulu, jangan nanti lah ngilu sama perihnya aja masih awet gini."


"Dih ... mana pengen lagi, habisnya gimana kamu terlalu nikmat dan nagih."


Rania menatapnya horor, membuat Rayyan langsung memeluknya dengan sayang.


"Nggak sayang, aku nggak minta nanti siang, nanti malam mungkin boleh lah dicoba lagi. Sepertinya sudah aman, riset membuktikan semakin sering dicoba semakin candu dan rasa sakit itu berubah kenikmatan yang hakiki, jadi kesimpulannya kita harus sering mencobanya."


"Itu kan riset para suami, mesum! Gendong sampai bawah, sakit buat jalan!" titahnya manja.


Untung tubuh kekarnya tidak goyah menjadi tumpuan istrinya yang bobot tubuhnya hanya berkisar lima puluh saja dengan tinggi badan seratus enam puluh tiga, jadi cukup mungil dan tidak menyusahkan.


Ray kembali menggendong istrinya sampai meja makan. Menyiapkan makanan itu ke dalam wadah lalu mengambilkan untuk istrinya.


"Makasih sayang, kok kaya kebalik ya, seharusnya aku yang ambilin buat kamu, bukan kamu yang ambilin aku," kata Rania aneh sendiri.


"Nggak pa-pa, pengen manjain kamu, kan lagi sakit gara-gara aku," ujar pria itu bijak.


"Sweet banget sih suaminya siapa?"


"Ehem, Dokter Rania!" jawab Ray mengulum senyum.


Pria itu memperhatikan istrinya, nampak mencari sesuatu lalu bergerak mendekat, menguncir mahkota indah istrinya yang tergerai agar tidak menghalangi kekhusyukan bersantap siang.

__ADS_1


__ADS_2