
Satu kecupan tak membuat gadis itu terusik, Rayyan pun kembali melum@tnya dengan seduktif. Hingga gadis itu merasa merubah posisinya karena merasa sedikit tergangu tidur yang tak sengaja itu. Rayyan yang memulai dulu, jelas merasa meminta lebih, namun ia menahan diri dan membiarkan seolah tidak terjadi hal apapun di antara mereka beberapa detik lalu.
"Ra, bangun! Sudah sampai, Ra!" Pria itu mengelus pipi Rania lembut, mencoba membangunkan walaupun sebenarnya tak rela mengakhiri kebersamaan mereka.
Rania mengerjap beberapa saat, mengumpulkan kesadarannya seutuhnya baru tersadar bahwa dirinya masih di dalam mobil Rayyan.
"Dok, udah sampai, ya? Maaf, saya ketiduran," sesalnya mencoba menguasai keadaan.
"Terima kasih, Dok, saya masuk ya?" ujar Rania bergegas.
"Hmm, Ra!" panggil Rayyan menghentikan pergerakan tangannya yang hampir membuka pintu mobil, gadis itu menoleh.
"Kenapa, Dok?" tanya Rania bingung ketika Rayyan hanya menatapnya dengan lekat.
"Nggak ada, sih, selamat malam, selamat beristirahat!" ujar pria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Melepas Rania turun dari mobil.
"Malam," jawab Rania mengangguk kalem.
Rayyan mengantarnya sampai teras rumah, bahkan keduanya terlihat akrab malam ini walaupun sering bersitegang di lain kesempatan.
"Udah sana pulang, kok malah diem aja di situ?" usir Rania lembut.
"Kamu nggak nyuruh aku mampir gitu, diajakin masuk dulu atau apalah." Rayyan merasa sayang untuk melewatkan malam ini.
"Udah malam, dilarang bertamu, aku juga mau istirahat," ujar Rania memberitahu.
"Iya sih, 'kan emang pulangnya udah malam. Ya udah deh aku pulang ya, sampai ketemu besok di rumah sakit."
"Oke, see you."
"Bye, hati-hati di jalan!"
Hingga mengatakan hal itu, Rayyan tak kunjung beranjak. Membuat Rania menghela napas sepenug dada. Rasanya ingin mengusir dengan kasar, namun sungguh tidak sopan.
"Dok, kamu maunya gimana?"
"Haus Ra," jawab Rayyan spontan.
__ADS_1
"Dokter perlu minum?"
"Perlu kamu," ucap pria itu ambigu.
"Aku?" beo Rania bingung.
"Iya, aku perlu kamu untuk—" Rayyan mengikis jarak, memberanikan diri menyentuh pipinya yang mulus.
"Kamu nanti akan kecewa, aku takut membuatmu dalam posisi yang rumit, dan aku terperangkap di dalamnya." Rania sedikit menghindarinya.
"Aku tahu, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku serius," ucapnya sungguh-sungguh.
"Beri aku waktu memutuskan semuanya, aku harap kamu mau mengerti posisi aku. Aku tidak tega menyakitinya," kata Rania mulai ragu.
"Aku akan menunggu, maaf, kalau di rumah sakit sikapku dingin padamu, aku hanya menjalankan sesuai profesional kerja."
"Aku kesal waktu kamu jadi dingin, kamu suka marah-marah tidak jelas."
"Semua karena kamu yang tidak mau memahami hati aku," ujar Rayyan membela diri.
"Kok aku, perasaan aku nggak ngelakuin apapun. Udah ya, aku capek, ngantuk dan juga lapar."
"Ya udah sana pulang!' usir Rania sedikit memaksa.
Rayyan memutar tubuhnya, ia hendak melangkah pergi namun rasanya enggan. Entahlah, rasanya malam itu ia begitu rindu. Hingga membuat pria itu kembali berbelok dengan kikuk.
"Kenapa lagi?"
"Jangan lupa besok bawakan sarapan untuk aku ya, lengkap dengan kopinya. Aku tunggu, sampai ketemu besok. Kamu masuk dulu Ra," ujar Rayyan menebar senyum.
"Oke, siap Dok!" jawab Rania balas tersenyum lembut. "Aku masuk ya, kamu hati-hati!"
"Kamu juga hati-hati jangan lupa kunci pintu dan jendelanya, entar aku masuk lagi."
"Kalau kamu yang masuk, aku getok kepalanya, terus aku bilangin ke tante Wira."
"Kapan mau main ke rumah?" Bukannya pulang pria itu malah menambah obrolan.
__ADS_1
"Kapan-kapan, nunggu waktu yang tepat. Btw kapan juga kamu pulang!"
"Kamu beneran ngusir aku terus dari tadi."
"Eh, ada Nak Rayyan?" Tiba-tiba eyang keluar mendapati pria itu belum beranjak.
"Malam Eyang," sapanya sopan. Menyalim perempuan sepuh itu dengan takzim.
"Malam, terima kasih ya sudah mengantar, nggak mampir dulu?" tawar Eyang basa-basi.
"Boleh ya Eyang, kebetulan tadi nggak boleh sama Rania," kata pria itu jujur.
"Kok gitu sih Ra, kasihan malam-malam nganter kamu, mana jauh lagi ya. Masuk dulu Nak Ray, kebetulan Eyang tadi sore baru saja buat cake."
"Wah ... kesukaan aku itu sin, Eyang, boleh deh," ucapnya antusias. Rania bisa apa jika tuan rumah sudah mempersilahkan.
Akhirnya mereka masuk bersama, Rayyan pun bertamu terlebih dahulu. Ia duduk mengobrol dengan eyang sementara Rania langsung pergi ke kamarnya untuk mandi dan menukar pakaiannya.
Rayyan duduk gelisah menanti Rania yang tak kunjung keluar, waktu sudah menunjuk diangka sembilan malam. Eyang yang sepertinya mengerti betul, dengan suka rela memanggil cucunya untuk menemui tamunya. Namun, Rayyan menyela, sesungguhnya ia merasa tak enak dan hendak pamit saja.
"Ra, teman kamu dianggurin gitu aja, kasihan, dia mau pamit pulang," tegur eyang gemas melihat cucunya malah bersantai di kamar.
"Iya Eyang, Rania keluar!" jawab Rania meninggalkan kamar, menuju ruang keluarga dan mendapati Rayyan yang giliran tertidur di sofa.
"Loh gimana sih, kok malah merem," gumam Rania bingung. Sementara Eyang Putri juga sudah masuk ke kamar.
"Dok, bangun, Dokter harus pulang 'kan?" Rania menepuk pelan pipinya.
"Ra, eh, sorry, aku ngantuk banget, aku kira kamu udah tidur."
"Aku mau tidur, kamu pulang ya?" pintanya sedikit memaksa.
"Kangen tidur bareng sama kamu, nginep boleh?"
"Ngadi-ngadi kamu, yang ada kita kena grebeg."
"Kamu udah mandi, wangi banget sih bikin aku semakin betah." Rayyan mengendus mengikis jarak.
__ADS_1
Rupanya Rania juga tak menghindar, gayung pun bersambut. Perempuan itu bergeming saat Rayyan bergerak semakin dekat, dekat, hingga tak ada jarak diantara mereka. Malam itu, di ruang tamu, mereka saling berbagi rasa rindu. Menyatukan napas mereka menjadi satu. Rania juga menyambutnya begitu minat.