Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 75


__ADS_3

Sungguh tidak ada pria normal yang mampu menolak pesonanya. Rania terlalu sayang dianggurin malam ini begitu saja, namun tekadnya sudah bulat tidak ingin membuatnya kecewa lantaran dirinya sudah diberi kepercayaan untuk tidak melampaui batas sebelum waktunya.


Rayyan tahu Rania gadis yang baik, beruntung ia dipertemukan dengan perempuan yang benar-benar kekeh menjaga kesuciaannya. Mungkin di luar sana banyak sekali perempuan yang mau dengan dirinya seandainya asal tunjuk saja. Namun, pria itu juga nyatanya berselera tinggi. Ia sejatinya tidak mudah jatuh cinta, terbukti banyaknya perempuan cantik yang tebar pesona di tempatnya bekerja, selama ia menjomblo lantaran ditinggal mantan, Rayyan tak sekalipun kepincut dengan perempuan mana pun.


Rania bagi Rayyan itu unik, beda, dan pastinya selain wajahnya yang emang betah berlama-lama untuk dipandang mata. Rania pinter dan juga good attitude. Rayyan memang perlu pendamping dengan standar yang harus memenuhi daftar list hatinya. Ia pasti akan mengejar, biar pun harus backstreet dulu lantaran masih pacar orang, bahkan rela jatuh dan sakit dulu, demi pujaan hati tersayang.


Pria itu menatap gadisnya dengan sayang. Menempelkan bibirnya pada kening Rania penuh perasaan. Walaupun gaya pacarannya sedikit nakal, pria itu tidak akan melampau sesuatu yang dilarang tanpa seizinnya.


Tersenyum lembut sembari menekan sabar. Sabar menjinakkan kelelakiannya yang sering menjerit kurang belaian. Sabar tidak memaksa apa yang dia inginkan namun masih dilarang, dan sabar menguasai diri agar tetap menghargai keputusan pasangan agar merasa terus nyaman di dekatnya. Sesungguhnya pria itu punya kontrol emosi yang cukup baik, namun kadang manusia ada juga tempatnya khilaf dan lebih mementingkan keinginan hingga mengabaikan sesuatu.


Malam itu, keduanya tertidur damai dengan pria itu memeluk Rania. Rania terlelap tenang dalam pelukan dada bidangnya, perempuan itu menempel sempurna tak berjarak. Hingga menjelang pagi, Rania terjaga lebih dulu. Menemukan dirinya masih dalam pelukan hangatnya.


Perempuan itu memberi jarak, ia memicing mengumpulkan kesadarannya. Cukup kaget dengan posisinya yang begitu menempel pada kulit tubuh pria itu. Rayyan sendiri masih tertidur, Rania bergerak perlahan untuk bangkit dari pembaringan. Menyingkirkan tangan kekar itu dengan hati-hati dari pinggangnya.


Rania langsung melesat ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu berganti pakaian. Jadwal rumah sakit yang padat membuatnya tidak boleh sembarangan izin, namu karena kakeknya dinyatakan sakit dan kritis, Rania tentu harus pulang walaupun sebentar.


"Pagi sayang! Kamu udah rapih!" sapa Rayyan tiba-tiba mencium pipi kirinya. Pria itu baru bangun tidur dan langsung merusuh kekasihnya yang saat ini tengah sibuk bersolek.


"Pagi Mas, mandi!" titah gadis itu menginterupsi.

__ADS_1


"Kamu jadi izin? Udah buat suratnya?"


"Udah Mas, nanti aku kirim ke kamu ya? Eh ya, aku izin dua hari."


"Bisa tunggu nggak, aku pingin nganter ke Bandung, tapi aku juga harus ambil cuti sama kaya kamu, aku nggak bisa langsung gitu, harus konfirmasi ke papa juga, kebetulan emang waktunya sela, harusnya kamu ujian sorenya."


"Iya, aku ingat kok, gimana dong?"


"Nggak pa-pa, nanti ujian di jalan juga bisa, lisan dan tulisan. Praktiknya sesuai kasus yang kamu tangani untuk pasien. Besok ikut aku visit aja."


"Tapi tetep kan, aku harus mengganti jatah utangku untuk hari lain. Tambah jaga udah menunggu." Belum juga terlaksana udah mikir utang duluan, hidupnya sungguh tidak ada tenang-tenangnya.


"Jadinya hari ini berangkat?" tanya Rania memastikan.


Rayyan pun menghubungi kepala bagian depertemen rumah sakit. Hari ini izin untuk Rania dan juga dirinya. Hari itu juga ia berkabar kepada ayahnya sebelum Pak Wira menghubunginya lebih dulu. Ia terlihat sibuk melakukan beberapa panggilan, sementara Rania entah pergi ke mana.


"Dari mana, Ra? Lama banget," protes pria itu menemukan kekasihnya berjalan dari arah luar.


Rayyan sendiri sudah mandi dan memakai pakaiannya. Pria itu sudah terlihat rapi dan lebih segar tentunya.

__ADS_1


"Beli sarapan, ngantri bubur ayam di depan. Makan dulu baru berangkat," ujar perempuan itu sembari sibuk menyiapkan untuknya.


"Habis ini aku pulang dulu ya, mau menukar baju sama bawa pakaian ganti. Kita nginep 'kan?"


"Kamu beneran mau nganter? Aku bisa pulang sendiri," sanggah Rania bimbang.


"Beneran lah, aku bahkan udah ambil cuti sama kaya kamu. Aku pengen kenalan juga sama keluarga kamu, boleh ya?" pintanya sedikit memaksa. Ini adalah kesempatan apik yang tidak boleh disia-siakan.


"Oke deh, aku bilang enggak juga kamu pasti tetep maksa, iya kan?" Rania akhirnya mengiyakan, walaupun ia jujur bingung harus mengenalkan Rayyan pada keluarganya.


"Pinter kamu," ujarnya sembari tersenyum.


Setelah menyelesaikan sarapan, Rania mengikuti ke rumah Rayyan terlebih dahulu untuk mengambil beberapa pakaian ganti.


"Banyak banget Mas, cuma dua hari juga," ujar perempuan itu meneliti barang bawaan kekasihnya.


"Izinnya aku tambah, empat hari, kamu perlu healing yang sesungguhnya."


"Ish, nggak mau, nanti jam tugas aku juga bertambah, aku males lama-lama. Utangku banyak!" Rania sudah parno lebih dulu.

__ADS_1


"Tapi aku mau, kita perlu membuat kenangan indah di kota Bandung, sayang."


__ADS_2