
"Mas, ya ... ngijinin aku lah, wajib. Aku udah jauh hari ngomong ini ke Mas, dan saatnya aku healing dengan teman-teman."
"Aku ikut, kamu nggak boleh pergi sendirian!"
"Siapa yang sendiri, sih! Aku sama teman-teman, Mas!" tekan Rania ngeyel.
"Pokoknya aku ikut," ujar Ray tidak mau tahu.
"Nggak, nanti kamu ngerusak acara aja! Mas bikin acara sendiri sana!"
"Kalau gitu aku nggak izinin kamu berangkat, dan jangan coba-coba melanggarnya karena aku tidak ridho kamu keluar atas izinku."
"Hih! Ngeselin banget sih jadi suami!" kesal Rania menghentakkan kakinya ke lantai dengan wajah muram.
Ray sebenarnya tidak setega itu, namun ia juga rasanya tidak rela ditinggal gitu aja. Melihat istrinya yang cemberut dan diam saja juga sudah membuatnya sakit hati. Tapi kali ini Ray tidak peduli, sejauh mana istrinya menurut. Ujian tetap berlaku.
Rania masih sibuk berbalas chat, untuk besok akan mengabari lagi karena suaminya mendadak rewel sekali. Nampaknya Asa dan Jeje sedikit maklum mengingat mereka pengantin baru.
"Asyik banget sih mainan HP terus, nggak nyadar dari tadi nyuekin suaminya terus," sindir Ray mulai panas. Didiamkan istrinya membuatnya tak tahan.
"Asyik lah, dari pada sama kamu, apa-apa nggak boleh. Ngeselin!" salak Rania sengit. Berjalan gontai menuju kamar, namun bukan kamar mereka, melainkan kamar Rania yang dulu sewaktu tinggal sebelum nikah.
Ray mulai benar-benar tak nyaman, istrinya benar-benar menguji kesabaran batas seorang lelaki. Pria itu membuka pintunya begitu saja, lalu menemukan istrinya yang nampak fokus nugas.
"Astaghfirullah ... nggak bisa pelan apa, Mas!" geram Rania terlihat kesal. Perempuan itu sampai kaget karena Ray mendorong pintunya cukup keras.
__ADS_1
"Balik kamar!" titahnya galak.
"Nggak mau, aku nggak konsen di kamar itu. Kamu hobinya nanya dan misuh-misuh!" jawab Rania jujur.
"Aku kaya gini ada sebabnya, Dek, bisa nggak sih ngertiin keinginan aku?" Semenjak kemarin Ray menjadi sangat uring-uringan. Padahal seharusnya Rania yang marah, lagaknya karena tidak bisa menyentuh istrinya rata-rata cowok emang jadi pemarah.
Ray mendekat, duduk di meja belajar. Menatap lekat mata istrinya yang mendadak salah fokus dengan penampilannya.
"Kamu ngapain sih di sini. Mas tuh nyadar nggak, kamu tuh ganggu!"
"Besok weekend, nggak biasanya kamu nugas. Ini hanya alibi kamu saja kan?" tanya pria itu dengan napas rusuh.
"Ya, terserah aku dong. Nugas sekarang lebih baik biar lepas liburan nggak numpuk. Lagian Mas kaya nggak paham banget tugas koas. Seabrek!"
"Tahu, Dek, kalau gitu sini aku bantuin," ujar Ray mengalah.
Saat Ray hendak menyentuhnya, Rania menghindar membuat pria itu gemas.
"Jangan sentuh aku. Aku masih marah, mau ini nggak boleh, itu nggak boleh, bikin kesel!"
"Kamu maunya apa? Kalau suami nggak boleh sentuh istrinya, lantas harus sentuh siapa? Orang lain boleh?"
Rania mendelik mendengar pertanyaan Ray yang sedikit emosi.
Munutup laptop dan bukunya lalu beranjak keluar. Meninggalkan Ray dalam kebingungan.
__ADS_1
Pria itu mengacak rambutnya frustrasi saking kesalnya. Ia benar-benar tidak bisa mengontrol emosi dengan baik. Malam hari itu pun, untuk melampiaskan gemuruh yang melanda dada, pria itu memilih dengan menyalurkan pada olahraga renang untuk menyamarkan keinginan batinnya.
Berenang adalah solusi terbaik, walaupun saat malam hari namun bisa memicu hal positif pada tubuh dan meredam syahwat yang tidak bisa disalurkan malam ini.
Rania sendiri tidak merasa heran saat suaminya terjun ke air kolam malam-malam. Bahkan ia sedikit paham gerak-gerik pria bila tengah menginginkan. Sejauh mana suaminya itu bertahan, ia justru memancing dengan pakaian tidur kimono lingeri yang tidak diragukan lagi kesaksiannya. Tentu saja memancing umpan, agar restu itu didapat.
Perempuan itu sudah lama selalu absen dengan kegiatan bersama teman-temannya. Saat koas yang hampir membuat waktunya tersita penuh, setidaknya Rania ingin me time untuk satu hari. Merilekskan otaknya agar segar kembali, setelah berkongsi dengan banyak tugas dan pekerjaan yang membelenggu.
Setelah bisa menguasai diri, Ray menyudahi berenangnya. Pria itu sedikit lebih fresh setelah melakukan berbagai gaya di air. Ia memutuskan untuk menyudahi dan membersihkan diri. Saat melintas sehabis mandi, menemukan istrinya yang tengah menikmati secangkir coklat panas sambil menatap bintang di balkon kamar.
"Dek, belum tidur?" tanya Ray mulai akrab sendiri.
"Ini mau tidur, ngantuk!" Rania pura-pura menguap. Misi tengah dijalankan.
"Besok boleh pergi kok, hati-hati di sana, jaga diri saat kita jauh dan tidak saling mengawasi. Semoga selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin!"
"Beneran? Nah ... gitu dong Mas, jangan kolot jadi suami. Akhirnya setelah kian purnama, piknik juga." Binar bahagia nampak tercetak jelas di wajahnya.
"Bintangnya indah ya, kamu suka bintang dan aku suka angin malam, kita memang perpaduan yang sangat cocok."
Rania menatap pria yang kini tengah mendongak ke atas menatap bintang yang malam ini bersinar terang. Ray tersenyum membalas tatapan itu, seakan terhipnotis dan melupakan pertengkaran keduanya. Mereka menghabiskan malam itu dengan saling berdiam membenahi rasa.
"Aku tidur dulu, Mas, udah ngantuk, besok pagi harus berangkat lebih awal," ujar perempuan itu masuk kamar.
"Aku juga ngantuk dan capek!" jawab Ray yang entah mengapa membuat Rania lega. Kata capek menandakan aman untuk seranjang. Suaminya pasti akan mudah tertidur.
__ADS_1
Ray sudah lebih dulu menuju ranjangnya, anehnya Rania tak mendapati satu gulingnya pun di sana. Namun, melihat Ray yang nampak anteng membuat perempuan itu lekas merangkak ke atas ranjang dengan lega. Baru saja perempuan itu terlelap, sebuah tangan bergerak mengunci dalam pelukan, siapa lagi kalau buka suaminya pelakunya.
"Dek, aku kangen, besok kan mau ditinggal, sekarang boleh minta ya?" pinta pria itu seraya merapat.