
"Ya ampun ... gini amad dicuekin istri, dasar guling tidak punya perasaan! Kenapa lo musti di sini? Minggir sana!" omel Ray dalam hati. Seakan benda penyekat panjang itu sebuah musuh, menendangnya lirih hingga tersungkur ke dasar lantai.
Pria itu sedikit merapat, dengan keraguan tapi rindu mulai mengikis jarak. Memeluk begitu saja dengan percaya diri.
"Sayang ... maafin aku ya ... please ....!" mohon Ray sendu.
Rania yang sebenarnya sudah hampir terlelap kembali membuka matanya. Hatinya masih begitu kesal, walaupun ada rasa kasihan dengan suaminya yang terus merengek bak bayi pada ibunya, tetap saja dengan ilmu tega Rania tidak mau dengar, malam ini, fiks, Rania masih marah!
Perempuan itu menyingkirkan tangan Ray yang meligkar di pinggangnya dengan sedikit menghempaskan ke belakang. Hening beberapa saat, Ray kembali tak peduli, memeluknya begitu erat dan mengunci tubuhnya.
"Lepas Mas! Jaga jarak bisa nggak sih! Nggak tahu apa orang lagi kesel. Sana jauhan!" usir Rania galak.
"Dek, aku udah minta maaf loh. Lagian aku juga cuma mengizinkan kecewanya bentar aja. Marahnya bentaran aja, jangan berjam-jam sampai mau tidur gini. Aku cuma pengen peluk, aku nggak bisa tidur," ratap Ray memelas.
"Ya kalau nggak bisa tidur itu derita kamu, singkirkan tangan kamu atau kita pisah ranjang aja. Aku tidur di luar atau kamu yang keluar!" ancam Rania gemas.
"Eh, kok serem amad. Oke ... aku nggak nempel! Udah Nyonya Ray, silahkan istirahat!"
"Ih ... panggilan yang membanggongkan, aku nggak suka sebutan itu!" ketus Rania menatap sengit.
"Ngapain lihat-lihat, awas aja kalau guling ini disingkirkan lagi, aku bakalan pisah kamar!" ancam Rania yang membuat Ray mati gaya.
Tidur tanpa memeluk saja rasanya hampa dan nelangsa apalagi sampai tidur terpisah kamar. Mungkin Ray bisa menjadi gila.
Ray bergeming, menatap netra lentik itu yang kini sudah terlelap. Rasanya gemas sendiri, bibirnya yang ranum dan seksi, dadanya yang padat berisi terngiang-ngiang di depan matanya. Posisi mereka saling berhadapan dengan Rania memeluk guling dan memberi jarak. Sehingga ia tak mungkin menyingkirkan guling itu kembali.
__ADS_1
"Duh ... kenapa sulit banget sih nahan diri. Aku perkosa aja kali ya? Salah siapa lagi marah tetep pakai baju tidur seksi! Ya Allah ya Rabb ....!" batin Ray nelangsa.
Hampir pagi Ray masih terjaga, ia tidak bisa tidur sama sekali. Menunggu giliran guling itu dalam dekapan, nyatanya Rania begitu erat mempertahankan. Hampir pukul setengah dua pria itu baru bisa menyingkirkan guling itu, karena tak tahan, ia menelusup dan mendekap manja. Menggantikan posisinya yang hangat dan nyaman. Walaupun tak tahu endingnya bakalan kaya gimana, sebodo yang penting pria itu bisa tertidur malam ini sebentar saja.
Rania yang sudah terlelap, tak menyadari kalau yang dalam pelukannya adalah giling hidup alias suaminya. Pria itu menempatkan kepalanya tepat di dada istrinya, jadi posisi wajah Ray benar-benar hangat dan nyaman. Namun, cuma menempel, walaupun ingin rasanya menjamah benda kenyal itu, salah-salah malah didepak karena empunya marah.
Sesungguhnya Ray cukup nekat, tetapi ancaman tidur terpisah membuatnya benar-benar terancam, dan itu sesuatu yang paling menakutkan baginya.
Pagi hari saat Rania terjaga, menemukan dirinya memeluk suaminya begitu erat. Tentu saja Rania masih biasa, baru sedetik kemudian ia tersadar kalau dirinya dalam mode ngambek alias tengah marahan, jadi ia pun menutup mulutnya tak percaya. Menemukan tubuhnya begitu rapat, bahkan memeluknya dengan sayang.
Rania langsung memberi jarak. Menyingkirkan kepala suaminya agar bergeser dari dekapan. Pria itu tak merespon, tidurnya pules padahal hampir subuh. Rania tak ambil pusing, bangkit dari pembaringan dan mulai prepare di pagi hari.
Walaupun marah, perempuan itu tetap menyiapkan sarapan sehat ala Rania. Segelas susu yang siap diminum. Baru perempuan itu pagi-pagi berangkat tanpa membangunkan Ray yang masih terlelap damai. Hanya memasang alarm di jam tujuh, siapa tahu pria itu ada banyak pekerjaan hari ini, termasuk kunjungan pasien yang sudah menunggu.
Gadis itu berangkat dengan taksi online, sengaja memesan, hari masih terlalu pagi, tetapi rasanya ia ingin segera pergi. Sambil membuka-buka materi yang sudah dicatat untuk presentase nanti. Wanita itu belajar di jalan karena semalam saking jengkelnya langsung memilih tidur.
Jeje dan Asa yang sudah kepo maksimal, dibuat melongo tak percaya melihat sahabat dan pemilik rumah sakit itu di dalam satu foto pernikahan.
"Omegot ... Je, mereka beneran udah married? Jadi rasa penasaran kita, chat kita yang panjang lebar itu lantaran kepo dan khawatir cuma dibalas dengan foto? Ya walaupun satu jawaban itu benar, tetapi kenapa bisa nikah dan kenapa harus diam-diam?"
"Astaga! Jangan-jangan mereka cinlok terus hamil!" pekik Jeje tak percaya.
Asa sampai menutup mulutnya Jeje yang tidak tahu tempat itu. Keduanya tengah sarapan di warung pinggir jalan dekat rumah sakit.
"Gila, lo jangan keras-keras dong banyak pegawai rumah sakit yang jajan di sini, nanti berabe dengar pekikan lo yang belum jelas kebenarannya itu."
__ADS_1
"Sorry, kelepasan! Gua masih shock!"
"Nah, itu orangnya, mari kita wawancarai!" Jeje bersemangat.
"Jangan tanya apa-apa dulu, lagi nggak pengen ngejelasin apapun! Tapi intinya kalian udah tahu, kalau gue dan dokter Ray sudah menikah," ucap Rania lalu duduk dengan santai sambil memesan jajanan.
Jeje dan Asa yang sejatinya sudah kepo maksimal pun akhirnya memaklumi. Mereka akan sabar menunggu sampai sahabatnya sendiri yang membuka suara untuk bercerita.
Sementara Ray terjaga tepat saat alarm di ponselnya berdering. Ray bangun dengan malas, memicing tak menemukan istrinya di sampingnya, Ray langsung tergeragap menarik diri.
"Dek! Sayang!" pekik Ray memanggil-manggil nama istrinya. Di kamar mandi tak ada, di ruang ganti tak ada, di seluruh isi rumah ini tak ada. Membuat pria itu tersadar ini sudah siang dan pastinya Rania sudah berangkat ke rumah sakit.
Rasa dongkol dan ingin marah lenyap sudah kala menemukan pakaian ganti yang sudah disiapkan istrinya. Walaupun tengah marah, tetapi perempuan itu perhatian juga. Setidaknya mengobati luka batinnya yang didiamkan semalaman. Bukan hanya itu, sarapan untuk dirinya yang sudah mulai dingin pun tetap ia makan. Ray begitu menikmatinya dengan perasaan haru. Ia makan dengan membayangkan wajah istrinya yang masih cemberut.
Seharian sibuk membuat keduanya tak sempat saling sapa. Hanya seperti biasanya, Ray tetap memberikan perhatian lewat ponselnya. Walau tidak ada pesan balasan.
Sore hari ketika Rania pulang, ia sama sekali tidak mengunjungi suaminya terlebih dahulu. Perempuan itu langsung pulang ke rumah.
Saat Ray menyambangi kamarnya, terlihat Rania baru saja selesai berganti pakaian habis mandi.
"Dek, ini apa? Kok packing barang gini?" Ray mulai merasa tak nyaman.
"Dek, kalau ditanya tuh jawab, jangan diem aja, seharian diemin aku emang nggak capek!"
"Berisik banget sih, Mas. Aku kan udah bilang, weekend ini mau liburan sama teman-teman, jadi besok aku berangkat pagi-pagi makanya aku packing sekarang."
__ADS_1
"Terus, aku gimana?"