Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 cukup dua putaran


__ADS_3

Ku awali pagi dengan senyum ceria ,secerah sinar matahari yang menghangatkan bumi dari dingin nya malam tadi, dengan langkah pasti aku menghampiri ayah yang berada di halaman belakang yang sedang memperhatikan Febry dan Ifel yang tengah melihat ikan-ikan berwarna warni yang berenang ria di dalam kolam.


Sedangkan ibu dan mama Dewi ,kedua wanita paruh baya itu tengah menyiapkan sarapan pagi,dan seperti biasa aku selalu dilarang membantu sama mama Dewi , meskipun ibu selalu menasehati ku untuk membantu mama Dewi,tapi jika mama Dewi nya bersikukuh melarang ku ya aku bisa apa ,selain menurut .


"selamat pagi ayah " sapa ku seraya duduk di samping nya


"selamat pagi juga Nur, mana suami kamu ?" tanya ayah


"masih di kamar mandi tadi yah" sahut ku


"tak sangka ya , sebentar lagi ayah mau di panggil kakek " ucap ayah terkekeh


"berarti ayah sudah semakin tua ya " ayah kembali terkekeh


"sebentar lagi kamu juga akan seperti ibu, mempunyai anak yang mungkin akan membuat mu kewalahan saat menghadapi kenakalan nya kelak , pesan ayah senakal apapun nanti anak kamu ,jangan pernah kamu menggunakan tangan mu ,nasehati cucu ayah dengan kata-kata yang baik, ingat lah anak itu jika di kerasin maka dia akan semakin membangkang tapi jika kita menasehati nya dengan benar dan mengena di hati nya , insyaallah anak mu kelak akan menjadi anak yang bisa kamu banggakan " ucap ayah panjang lebar menasehati ku


"sekarang ayah merasa lega dan merasa sangat bahagia melihat suami dan mertuamu sangat menyayangi mu , akhirnya doa ayah dan ibu mu di ijabah oleh Allah,padahal tadi nya ayah sempat merasa tak setuju dan tak yakin pada nya " ucap ayah hingga membuatku mengkerutkan kening dan bertanya


"maksud ayah ?"


ayah menengok ke belakang, seperti memastikan jika tidak ada siapa-siapa di sana ,lalu dengan pelan dan setengah berbisik ayah pun mengatakan


"karena kamu pernah mengatakan jika Rifki mu itu seorang playboy"


"hah....kapan aku mengatakan nya pada ayah ?" tanya ku


"saat kamu pingsan di kosan mu " ujar ayah


Sejenak aku berfikir ,apa iya aku pernah mengatakan hal itu ,tapi kemudian aku pun mengingat nya ,pantas saja waktu itu ayah langsung meminta mas Rifki pulang dan raut wajah ayah juga mendadak berbeda ,nada bicara nya juga mendadak dingin ,jadi ini alasan nya .


"lalu apa yang membuat ayah akhirnya menyetujui nya ?" tanya ku


"karena ayah dapat melihat ketulusan nya saat datang bersama mama nya dan langsung mengutarakan maksud nya yaitu melamar mu " tutur ayah


"suami mu itu sampai mohon-mohon untuk membatalkan perjodohan mu dan menerima nya sebagai calon menantu ayah, ayah malah bingung perjodohan apa maksud nya , dan rupanya kamu membohongi nya ,dasar anak nakal " ucap ayah seraya menarik hidungku menggerakan nya ke kiri dan ke kanan sampai kepalaku pun mengikuti gerakan nya .


sampai tiba-tiba


"ekhem....kalian mesra-mesraan saja , awas nanti ada yang cemburu " ucap ibu yang tiba-tiba saja berada di belakang kami


"ibu , sini mau gabung " tawar ayah


"enggak ah gak enak , ingat kita ini tamu di sini , yuk ah kita masuk ,sarapan sudah siap,suami kamu juga sudah nunggu tuh" ajak ibu


"Ifel....de......yuk kita masuk ..." teriak ku pada kedua adik ku


"loooh.... ini bibir kenapa manyun gitu, ibu comot ya...."


"Dede sebel sama dia , masa Dede di samain kaya ikan " adu nya sambil menujuk Ifel


sedangkan Ifel malah menjulur kan lidah nya pada Febry


"tuh kan ....." rengek nya sambil memegangi tangan ibu dan ayah


"feeelll......" seru ayah


"udah jangan di tanggepin ,yuk masuk" ucap ibu


Disaat kami tengah menikmati sarapan pagi kami , tiba-tiba hantu wanita yang di taman itu muncul sambil mengatakan


"dia akan pergi...."


sontak saja aku merasa terkejut hingga menyemburkan air yang ku minum ,


"uhuk....uhuk...uhuk ...." aku terbatuk karena air minum nya tak sengaja masuk ke dalam hidung ku

__ADS_1


"astaga ....sayang ...." mas Rifki bangkit dari tempat duduk nya lalu mengusap punggung ku sembari meniup ujung kepalaku , ritual yang selalu mas Rifki lakukan ketika aku tersedak , kata nya mama Dewi juga sering melakukan itu saat mas Rifki tersedak waktu kecil , jika biasa nya aku akan merasa terharu dengan tingkah mas Rifki kali ini aku di buat malu , karena ada ayah juga ibu di sini .


"kamu tidak apa-apa ,makanya minum itu pelan-pelan" mama Dewi menepuk-nepuk punggung ku pelan


"iya ma...." sahut ku di sela batuk ku


"iih.....ngeselin , kenapa kamu mengagetkan ku " keluh ku dalam hati sambil menatap hantu wanita itu


"kalian harus cepat ,dia ...akan segera pergi meninggalkan kota ini"


"dia siapa?" tanya ku


"kekasih ku " sahut nya


"baiklah..." aku pun melirik mas Rifki dan mas Rifki hanya mengangguk


"de....kamu kenapa?" tanya ibu saat melihat Dede malah memeluk ibu erat


"takuuuut...." cicit nya


"udah biarin saja ,gak usah takut " ucap ibu menenangkan


"memang nya Dede takut apa ?" tanya mama Dewi


"itu...." tunjuk nya ke belakang ayah


"hm.... pantes saja ,bulu kuduk merinding " gumam ayah sembari menengok kiri kanan


"Dede takut sama ayah ?" tanya mama Dewi bingung,namun Febry hanya menggeleng


"mungkin mbak gak akan percaya dengan apa yang saya katakan tapi memang kenyataan nya Febry ini ....dia bisa melihat hantu " ucap ibu


"sama kaya Nuri dong , bahkan katanya Nuri....


"kamu juga ikut ?" tanya ayah


"hehe... iya yah,gak tahu kenapa hari ini Nuri gak mau jauh-jauh dengan mas Rifki" alasan ku


"ya sudah kalian hati-hati " ucap mama Dewi dan ibu kompak


"de ,kakak pergi dulu ya, kamu gak usah takut mereka tidak jahat " ucap ku mengusap pucuk kepalanya


"aku gak di elus juga nih ?" tanya Ifel


"baiklah ,Bu anak kucing minta di elus tuh " ucap ku seraya berlalu meninggalkan gelak tawa di ruang makan itu


"kami berangkat , assalamualaikum" ucap mas Rifki


"waalaikum salam"


Tanpa menunda waktu lagi aku dan mas Rifki segera meluncur menuju kediaman kekasih nya hantu wanita yang kini duduk di kursi belakang.


"ah iya ngomong-ngomong nama mu siapa ?" tanya mas Rifki


"namaku Dinda "


"terus ini kita ambil jalan yang mana ,ke kiri atau ke kanan ?" tanya mas Rifki ketika kami sampai di pertigaan jalan


"ke kiri " sahut Dinda


mas Rifki pun mengikuti arahan nya


"masih jauh kah ,ko dari tadi gak sampai-sampai?" tanya ku


"sebentar lagi ,....ada pom bensin mini kalian berhenti "

__ADS_1


"sebelah mana rumah nya ?" tanya mas Rifki sambil melihat ke luar dari samping saat mobil sudah berhenti di pom bensin mini


"rumah nya tidak ada di daerah sini " sahut nya


"terus kenapa kamu bilang kita berhenti di sini ?" tanya mas Rifki melirik pada Dinda


"aku hanya ingin memberi tahu untuk segera mengisi bahan bakar ,tuh bensin nya udah mau abis " tunjuk nya pada indikator bensin


"ah....iya ya ,baiklah kita isi bensin dulu" ucap mas Rifki seraya turun dari mobil


Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan kami , di sepanjang jalan tak pernah absen mata ku melihat penampakan hantu-hantu , hingga tiba-tiba Dinda berteriak mengejutkan ku juga mas Rifki


"setooooopp......."


ckiiiiittt....


mas Rifki menghentikan laju mobil nya,dengan wajah terkejut nya mas Rifki menengok ke belakang


"ada apa , kenapa berteriak,bikin kaget saja " tanya mas Rifki


"kita kelewatan " sahut nya dengan santai


"maksud nya ?" tanya ku belum mengerti


"kita kelewatan,rumah nya sebelah sana " tunjuk nya ke belakang


"kenapa gak bilang " gerutu mas Rifki seraya memundur kan mobil nya


"yang mana rumah nya?" mas Rifki bertanya sembari melihat ke luar


"bukan di sini, tapi ke sana arah nya....tuh ada gapura,kita masuk ke sana "


tanpa bertanya lagi mas Rifki membelokan mobil nya ke jalan yang ditunjuk Dinda,


Aku melihat di sisi kiri kanan jalan rumah-rumah sederhana yang rata-rata model nya jaman dulu banget , sangat klasik .


"masih jauh gak sih ?" aku bertanya karena aku sudah merasa bosan karena dari tadi gak sampai-sampai juga


"sebentar lagi , kita hanya tinggal belok ke kiri ,satu kali belokan lagi kita akan menemukan sebuah toko kelontong "


"jadi dia punya toko kelontong ?" tanya ku


"bukan ....itu punya orang " sahut nya


"jadi rumah nya di dekat toko kelontong itu ?" giliran mas Rifki bertanya


"bukan juga "


"terus ...?" aku menengok pada nya


"dari toko kelontong itu ,kita maju lagi beberapa meter nah di sana ada warung kopi dari warung kopi kita belok ke kanan belok lagi ke kiri ,ada bunderan kita muter dua putaran saja biar gak pusing ,nah kita sampai deh di rumah bercat putih ,itu baru rumah nya " tutur nya


"astaghfirullah .....


.


.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2