Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 80


__ADS_3

Di saat aku berfikir jika ini lah saat nya aku mati ,aku pasrah dengan terus melafalkan doa dalam hati ku ,ku pejamkan mata ku , tapi tiba-tiba aku mendengar suara letusan senjata api seperti pistol.


dor.....


Suara nya menyentak jantung ku ,seakan jantungku berhenti berdetak ,ku buka mata ku dan ku lihat Bu Puri sudah terduduk dengan memegangi kaki nya dengan darah segar yang keluar dari kaki nya yang ia pegangi.


"aaakkhhh......." suara Bu Puri menahan sakit sedangkan untuk laki-laki tua yang bersama Bu Puri ia sudah di ringkus oleh pria-pria berbadan tegap yang mengenakan baju polisi.


"Rifki ....!" suara teriakan yang tak asing di telinga ku


Ku lihat Bu Dewi meraih dan memangku kepala mas Rifki di pangkuan nya ,sambil menangis beliau terus menyeru kan nama mas Rifki.


"Rifki ....bangun Rifki ....Rifki..." Bu Dewi berteriak histeris mengguncang tubuh mas Rifki


Aku pun ikut menangis melihat nya,cukup sakit melihat nya seperti itu .


Tidak ,aku tidak ingin kehilangan lagi ,cukup dulu aku kehilangan nenek Ijah ,tidak untuk kali ini ,aku baru saja mengenal nya ,merasa nyaman saat bersama nya,ini tidak boleh terjadi .


Seorang polisi juga menghampiri ku ,dan membuka kan tali pengikat pada kedua kaki dan tangan kiri ku yang masih terikat.


"kau tidak apa-apa?" tanya pak polisi itu


"tidak pak ,saya baik-baik saja ,tolong dia pak " ucap ku menunjuk pada mas Rifki


"sebentar lagi ambulan datang " ucap nya


Aku pun segera menghampiri mas Rifki yang sudah tak sadar kan diri,aku ikut menangis di sisi Bu Dewi.


"mas Rifki "suaraku tercekat , ku raih tangan nya lalu ku cek denyut nadi nya


" de ... denyut nadi nya melemah " lirih ku dengan air mata ku yang ikut luruh


Tak beberapa lama datang lah beberapa orang berseragam putih menghampiri dengan membawa tandu , mereka meletakan mas Rifki di atas nya lalu menggotong tubuh mas Rifki ke luar , aku dan Bu Dewi pun turut di belakang nya .


Mereka memasukan mas Rifki ke dalam ambulan ,aku juga diminta untuk ikut masuk mobil ambulan ,karena melihat kondisi ku yang juga terluka di bagian tangan ku .


Di dalam mobil ambulan aku diberikan oksigen karena aku kembali merasakan sesak nafas .


"kamu tidak apa-apa Nuri ,wajah kamu pucat " ucap Bu Dewi yang duduk di depan ku


"tidak apa-apa ko Bu " sahut ku seraya melirik mas Rifki


Tak banyak obrolan di dalam mobil ambulan , aku juga Bu Dewi larut dalam fikiran masing-masing. Suara sirine dari mobil ambulan yang ku tumpangi mengiringi perjalanan menuju rumah sakit .


Hingga sampailah kami di rumah sakit. Ku lihat ada beberapa makhluk tak kasat mata di rumah sakit ini ,namun aku sama sekali tak ingin menghiraukan nya ,aku terlalu fokus pada mas Rifki yang tengah di dorong dengan blangkar nya menuju ke ruang IGD .


Aku dan Bu Dewi kini tengah menunggu di depan pintu dengan harap-harap cemas ,namun tiba-tiba saja pandangan ku buram dan setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

__ADS_1


***


Aku mengerjapkan mataku saat cahaya lampu menyilaukan mataku saat ku membuka mata.


"Nuri , Alhamdulillah kau sudah bangun " ucap seseorang namun aku tak melihat siapa pun di sekitar ku


"mas Rifki " lirih ku


Ya suara itu adalah suara mas Rifki, tapi dimana mas Rifki, ku edarkan pandangan ku ke seluruh ruangan ini , hingga aku melihat seseorang tengah tersenyum menatap ku dengan memakai pakaian serba putih .Perlahan mas Rifki berjalan menghampiri ku .


"mas Rifki" ucap ku , namun mas Rifki tak menyahut , ia malah terus saja tersenyum pada ku dan tiba-tiba mas Rifki menghilang dari pandangan


"mas Rifki "


"hah hah hah...." aku terbangun, apa ini hanya mimpi ?


"Nuri , akhirnya kamu sadar nak "


"ayah "


"sudah satu hari kamu tak sadar , ayah khawatir sekali padamu ,sebenar nya apa yang sudah terjadi pada mu dan Rifki,kenapa bisa sampai seperti ini ?" tanya ayah seraya memberikan minum pada ku


"bagaimana keadaan mas Rifki ayah ?" tanya ku tanpa ingin menjawab pertanyaan ayah


Ayah nampak menghela nafas nya seakan ada hal berat yang akan di ucap kan nya


"ada apa ayah ,mas Rifki baik-baik saja kan ?" tanya ku mulai merasa resah


"tapi kamu juga belum pulih " ucap ayah


"Nuri sudah baik-baik saja ayah , Nuri mohon ayah ,Nuri ingin melihat mas Rifki" ucap ku seraya mencabut jarum infus yang menancap di tangan ku


"astaga Nuri apa yang kau lakukan " ayah memekik saat aku menarik paksa jarum infus itu


"ayah Nuri ingin melihat mas Rifki ayah " rengek ku sambil terisak


"baiklah ,ayo ikut ayah " ucap ayah akhirnya


Aku berjalan terpogoh dengan ayah yang memegangi ku , tubuhku rasanya sangat lemas tapi ku paksakan untuk berjalan.


Semoga apa yang ku impikan tadi tak benar , mas Rifki baik-baik saja , batin ku


Aku sampai di depan pintu kamar inap tempat mas Rifki, aku bisa melihat dari kaca di pintu masuk , mas Rifki tengah terbaring dengan perban yang membalut kepalanya , di samping nya ada Bu Dewi yang terus menatap sendu pada mas Rifki.


tok tok tok


Aku mengetuk pintu dan masuk ,sedangkan ayah menunggu di luar ,karena peraturan nya yang tidak memperboleh kan terlalu banyak orang di dalam ,untuk kenyamanan pasien .

__ADS_1


"assalammualaikum" ucap ku begitu memasuki ruangan tempat mas Rifki berbaring


"waalaikum salam" sahut Bu Dewi


"bagaimana keadaan mas Rifki Bu ?" tanya ku setelah aku berada di dekat mas Rifki


"masih seperti ini , kamu sendiri bagaimana keadaan mu , maaf ibu belum sempat melihat mu " ucap Bu Dewi


"saya sudah tidak apa-apa Bu " sahut ku


"ibu lebih baik istirahat dulu, biar saya yang jaga mas Rifki " ucap ku


"gak apa-apa Nuri , lebih baik kamu yang istirahat ,wajahmu masih pucat begitu " ucap Bu Dewi


"tidak Bu , saya mau di sini saja jagain mas Rifki, biar ibu saja yang istirahat" ucap ku tetap keukeuh


"ya sudah begini saja ,biar saya pindahin tempat tidur mu di sini biar kamu dan saya sama-sama berada di sini , ruangan nya juga cukup luas juga ,ayah mu juga bisa ikut jagain kamu " Bu Dewi memberikan solusi


" baiklah terserah ibu saja '' sahut ku


"ah iya,ini bagaimana dengan biaya rumah sakit nya "batin ku


Seakan tahu apa yang ku fikirkan tiba-tiba Bu Dewi berucap


" untuk masalah biaya rumah sakit mu biar saya yang tanggung "ucap Bu Dewi


"terima kasih Bu, nanti jika saya punya uang saya akan bayar, tapi nyicil gak apa kan Bu " ucap ku canggung


"tak apa-apa tak usah di ganti ,lagi pula kamu seperti ini karena berusaha untuk menolong Rifki " ucap Bu Dewi kembali menatap mas Rifki


"maafin Nuri ya Bu , Nuri tidak bisa menjaga mas Rifki, saat Nuri melihat mas Rifki, mas Rifki sudah dalam keadaan berdarah '' ucap ku menunduk


" tidak perlu meminta maaf , ini bukan salah mu " ucap Bu Dewi


"sini duduk ,saya sudah tahu semua nya ,saya tak menyangka jika Puri sepupu sendiri bisa melakukan itu , terima kasih karena kamu sudah merekam nya ,rekaman itu sudah di berikan pada polisi untuk bukti kejahatan nya" ucap Bu Dewi seraya membawa ku duduk di sofa


***


Hari itu juga ruangan ku dipindah menjadi satu dengan mas Rifki , ada ayah dan Bu Dewi yang menjaga kami ,tak lupa aku meminta pada ayah untuk tak memberi tahu ibu di kampung , karena aku tak ingin melihat ibu khawatir .


.


.


.


.

__ADS_1


.


bersambung ...


__ADS_2