Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 38


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah nenek Ijah , ternyata sudah banyak warga yang berkerumun ,mereka nampak tercengang melihat penampilan ku yang berantakan.


Rambut acak-acakan ,baju ku kotor karena terjatuh tadi, kedua lutut ku juga terluka


mereka menatap nanar pada ku .


"ya Tuhan itu Nuri..."


"iya itu si Nuri..."


"tapi kenapa dengan nya ..."


"Nuri kamu kenapa?..."


"apa yang sudah terjadi pada mu Nur ?"


Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar di telinga ku namun tak satu pun yang ku jawab ,tujuan ku hanya satu menemui nek Ijah ,aku pun masuk menerobos kerumunan warga yang menghalangi jalan ku.


Hingga akhirnya aku berhasil masuk dan melihat keadaan nek Ijah . Isak tangis terdengar menyayat hati ,nek Ijah terbaring lemah di atas kasur nya ,ternyata sudah ada ibu disana , ibu melihat kearah ku


"astaghfirullah Nur,kamu dari mana ,ini kenapa ,apa yang terjadi padamu ?"tanya ibu panik melihat keadaan ku


"apa kamu Nuri? tanya seorang ibu yang tengah menangis memagangi tangan nek ijah ,aku pun mengangguk kemudian ibu itu menyuruh ku mendekat


"sini nak,ibu menanyakan mu dari tadi" pintanya padaku untuk mendekat


Aku pun menurut dan duduk di samping ibu itu


"nek,nenek kenapa,ini Nuri nek" ucap ku pada nek Ijah


"Nu ri... ka mu yang sa bar ya,ne nek me nya yangi mu.." ucap nek Ijah terbata bata


"nenek,su dah tidak a da bany nyak waktu lagi , ne nek ha nya i ngin meli hat mu unt uk yang ter akhir "


"tidak nek nenek jangan bicara seperti itu ,nenek pasti sembuh , Nur akan jagain nenek ,ngerawat nenek ,nenek harus sembuh ya nek" seru ku terisak


"kau kembali lah Nuri sudah disini " ucap seorang pria paruh baya di ponsel nya yang mungkin itu ayah nya haris karena wajah nya mirip dengan Haris .


"ka mu gadis yang baik,ne nek yakin sua tu saat na ti kamu ak kan menda patkan laki-laki yang leb bih baik dar ri Haris " ucap nya lagi


Aku tak lagi menyahuti nya hanya isakan saja yang terdengar dari mulut ku


"ibu......" jerit ibu paruh baya yang sepertinya ibu nya Haris

__ADS_1


"nenek .....bangun nek ,nenek ...."jeritku pula


"innalilahi wa innailaihi Raji'un..... kalian yang sabar ibu sudah dipanggil oleh yang Maha Kuasa " ucap ayah nya haris


Bertepatan dengan itu Haris datang bersama istri nya ,yang di saat situasi seperti ini pun menempel terus pada nya.


Ia menghentakan kasar tangan yang di gandeng istrinya hingga terlepas ,ia menghambur memeluk jenazah nek Ijah.


"nek maafin Haris nek maafin Haris ,karena Haris nenek jadi begini, maafin Haris nek " seru Haris menangis dengan masih memeluk jenazah nenek nya


Jeritan tangis terdengar sampai keluar hingga para warga yang berada di luar pun ikut merasakan sedih dan berduka.


Tak lama terdengar suara lantang dari masjid mengumumkan berita duka dan tak lama kemudian datang para pelayat.


Aku pun di minta untuk menenangkan diri ,ibu memapah ku keluar ,karena aku merasakan lemas pada tubuh ku juga sakit pada kakiku saat dibawa berjalan.


Haris memandang iba padaku tapi tak ku hiraukan ,melihat nya saja hatiku rasa nya tak sanggup.


Ibu membawa ku duduk di teras luar dengan kaki yang ku selonjorkan ,beberapa warga menghampiriku menanyai keadaan ku.


"sebenarnya apa yang terjadi padamu Nur,kenapa kaki kamu luka-luka seperti ini?" tanya ibu mengkhawatirkan ku


"Nuri ga apa-apa Bu,tadi Nuri jatuh saat berlari menuju ke sini" jawab ku lemah


"sebentar aku panggilkan Mak Narti ya kebetulan tadi beliau ada melayat " ucap nya lagi ,Mak Narti memang tukang urut di desaku,


Tak jauh di belakangku ku lihat Haris berdiri menatap ku ,terlihat dari pantulan kaca jendela rumah depan tetangga nya nek Ijah,ia seperti hendak menghampiri ku namun istrinya itu menahan dengan menarik tangan nya .


Mak Narti pun datang ,beliau langsung mengurut kaki ku,diurut nya kaki ku mulai dari betis sampai ke pergelangan kaki ku,tadi nya aku tak merasa sakit tapi setelah sampai di pergelangan kaki aku mulai menjerit kesakitan


"aakkkhhh......aduh ....sakit....aaaarrrgghh " aku mengerang dan terisak


ku pegangi tangan ibu erat.


Sampai aku merasakan lemas yang amat sangat,hingga akhirnya aku tak sadar kan diri.


Aku terbangun menatap sekeliling


"di kamar ku" gumam ku


Aku harap itu hanya mimpi tapi setelah melihat kedua lutut ku yang di perban akhirnya aku menyadari bahwa apa yang terjadi barusan adalah kenyataan.


Air mataku kembali meluncur deras , aku kehilangan dua orang yang ku sayangi sekaligus , kenapa ini terjadi padaku? "jeritku dalam hati

__ADS_1


"kamu sudah bangun nur?" tanya ibu memasuki kamarku


"kamu yang sabar ya Nur,kamu harus kuat ,pasrahkan ikhlas kan,semoga nek Ijah tenang di alam nya sekarang ,kita doa kan beliau,semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah" ucap ibu mengusap air mata di pipiku


"kamu juga harus ikhlas ,mungkin Haris bukan lah jodoh mu,ibu yakin akan ada laki-laki yang akan benar-benar menyayangi mu,dan mencintai mu , hidup mu masih panjang,jangan putus asa ya , sudah jangan nangis terus nanti cantik nya hilang, laki-laki masih banyak ko,kamu mau yang bagaimana,nanti ibu carikan " ucap ibu menghiburku


tangis ku kembali pecah aku menangis tersedu di pelukan ibu,ibu mengusap ngusap punggung ku.


"sudah lah jangan nangis terus,kamu mau ikut ke pemakaman?" tanya ibu dan di jawab anggukan oleh ku ,karena memang nek Ijah meninggal nya saat menjelang Maghrib maka pemakaman pun dilaksanakan esok hari , dan ternyata pingsan ku ke bablas tidur hingga terbangun di pagi hari ini.


Dengan mengenakan gamis hitam juga kerudung hitam aku melangkah bersama para warga yang ikut mengantar kan jenazah nek ijah ke tempat peristirahatan terakhir nya.


Tak ada Isak tangis lagi dari ku ,tatapan ku kosong ke depan dengan ibu yang sedari tadi terus merangkul pundak ku.


Sesampainya di pemakaman aku melihat ayah yang turut membantu menggali liang kubur tengah beristirahat sembari menunggu kedatangan kami


***


Kini semua orang sudah pulang tinggal aku sendiri ,ditemani ibu yang tak pernah jauh dari ku ,aku duduk di atas tanah merah dengan tangan ku yang memegangi nisan.


Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa tubuh ku , aku diam berdoa dalam hati mendoakan yang terbaik untuk almarhumah nek Ijah , tib-tiba aku merasakan tangan ku yang menyentuh nisan seakan ada yang menyentuh rasanya sangat dingin ,ku tengokan kepalaku melihat tangan ku.


"nek Ijah"lirih ku


"iklhas kan semuanya , nenek harap kamu bisa menjalani hidup mu dengan baik " ucap ya seraya tersenyum pada ku


"iya Nur akan mencoba untuk mengikhlaskan semuanya " sahut ku menatap wajah nek Ijah


Tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing pandangan ku pun mulai kabur ,lalu aku pun kembali tak sadar kan diri.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2