Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 32


__ADS_3

Seminggu setelah berita kecelakaan itu, hampir tak ada lagi teror aneh-aneh pada keluarga ku, Haris pun memutuskan untuk kembali ke kota nya ,karena memang pekerjaan nya juga sudah menumpuk.


"ok aku berangkat ya kamu baik-baik di sini ,kalau ada apa-apa hubungi aku"ucap Haris sambil mengusap kepalaku ,


"hm...iya kamu hati-hati di jalan,kabari kalau sudah sampai"ucap ku


Kulambai kan tangan ku mengantar kepergian nya,hingga ia dan motor nya sudah hilang di ujung jalan.


"nek Nuri pamit pulang ya"pamit ku pada nek Ijah


"iya salamin buat ibu mu ya"ucap nenek


"iya nek ,pasti Nur sampaikan ,kalau begitu Nuri pulang ya assalammualaikum" ucap ku seraya menyalimi tangan beliu


"waalaikum salam"ucap nya


Aku pun pergi dari rumah nek Ijah , sambil berjalan aku bersenandung kecil,namun langkahku tiba-tiba terhenti saat ada seseorang menghadang jalan ku.


"Meta "gumam ku


"hai Nuri, sepertinya kamu sedang bahagia?


hal apa yang membuat mu sebahagia ini? apa kau bahagia karena Haris sudah pulang dan kamu bisa berdekatan dengan laki-laki lain kan?" ucap nya bertanya yang bukan-bukan


"ngomong apa sih kamu?"tanya ku mengerenyit


"Halah jangan pura-pura polos ya,aku tahu di belakang Haris kamu itu selingkuh kan?"ucap nya lagi


"selingkuh? apa sih aku ga ngerti siapa yang selingkuh?" ucap ku yang semakin bingung


"nih kamu lihat sendiri "ucap nya dengan menunjukan handphone nya yang tertera foto ku dan seorang laki-laki di layar nya


"oh itu,ya ampun Meta,kamu ga tau,apa lupa sih, dia kan kak Dani kakak sepupu aku, " ucapku


"masa sih,tapi di sini aku lihat sendiri kamu itu terlihat dekat sekali dengan nya,mana ada kakak sepupu sedeket itu''ucap nya


"terserah ya, yang jelas aku tak pernah melakukan apa yang kamu bilang tadi, ya sudah sih aku mau pulang "ucap ku tak mau terus meladeni nya


Aku pun pergi begitu saja tanpa menghiraukan nya yang terus berteriak memanggilku


"pokok nya kamu harus meninggalkan Haris,dia terlalu baik buat mu"teriak nya yang masih bisa aku dengar


"hah ya ampun sampai segitu nya dia"lirih ku


brukkk...


"ah ya ampun ini siapa sih yang naro batu besar di sini "gerutu ku ,karena tak fokus akhirnya aku tersandung batu dan terjatuh


khikhihkhihkhi..........


"duh siapa lagi yang ngetawain , bukan nya nolongin"gerutu ku lagi sambil ku edarkan pandangan ku , namun tak ada seorang pun disini, apa Meta yang menertawakan ku dan dia ngumpet 'fikir ku

__ADS_1


"duh kok aku merinding" lirih ku


Tak mau menghiraukan kan nya aku pun kembali melangkah kan kakiku , sedikit perih lutut ku rasa nya ,aku pun melihat lutut ku dan benar saja berdarah


pantesan saja terasa perih "gumam ku


Hingga akhirnya aku sampai di rumah, baru saja aku membuka pintu tiba-tiba


"KUNTILANAK.."pekik ku setelah tak sengaja melihat ke arah pojokan ruang tamu


"Fel , ngapain sih kamu berdiri di situ?" teriak ku yang masih terkejut , dasar ya kurang kerjaan banget dia,ngapain coba di berdiri di pojokan sambil nunduk gitu lagi


"Fel,Ifel ...."panggilku setengah berteriak


"apa sih teriak-teriak "ucap seseorang yang di belakang ku


"hah Fel,...kamu dari mana? bukan nya kamu di...."ucapku terhenti setelah menyadari sesuatu dan setelah ku lirik ke pojokan tadi sosok yang terlihat seperti Ifel sudah tak ada


" nih abis beliin cemilan buat Dede di suruh ibu"ucap nya


"terus ibu dan Dede pada kemana?"tanya ku lagi


"tuh di luar abis dari rumah nya Mak Entin " jawab nya lagi


"haaaahhhh....."aku pun menghela nafas panjang dan terduduk lemas di sofa


"ya ampun Nur,itu kenapa lutut mu, kamu jatuh ?" tanya ibu yang baru masuk rumah


"iya Bu,tadi Nuri ga sengaja kesandung di jalan "ucap ku


"ih apa sih siapa juga yang melamun"kilah ku


"ya sudah sini ibu obati luka mu"ucap ibu yang sudah berjongkok di depan lutut ku


"eh eh Bu,ga usah biar Nur saja"ucap ku melarang ibu yang mengobati lukaku


"sudah ga apa apa "ucap ibu yang tetap memaksa mengobati nya


Ibu lalu menuangkan cairan repanol pada kapas dan mengusap pelan pada lutut ku yang terluka,setelah itu ibu menuangkan obat merah dengan sedikit di tekan-tekan dengan kapas.


"dah selesai jangan di tutup dulu luka nya nanti infeksi , kalau sudah mandi baru di tutup luka nya "ucap ibu setelah mengobati luka di lutut ku


"makasih ya Bu "ucap ku


"iya ,ga papa"ucap ibu menoel hidung ku


"de, punya apa itu,sini kakak minta dong" ucap ku bercanda pada Febry yang sedang membawa plastik berisi makanan


"enggak ah ,takut tuh kaki kakak berdarah"ucap nya sambil berlari menyusul ibu


aku tekikik geli ,Febry memang takut sama darah,bukan hanya darah saja sih tapi semua cairan yang berwarna merah pun ia sangat takut, pernah sekali aku membuat kan nya jus strawberry , eh dia malah nangis kejer hasil nya aku kena omel ibu.

__ADS_1


...


Kini malam pun tiba , aku yang selesai bertelepon ria bersama Haris keluar dari kamar menuju ruang tv,ternyata ibu,dan kedua adik ku sudah pada masuk kamar , ya jelas saja lah sudah masuk kamar,orang ini sudah masuk tengah malam , ternyata saking asyiknya bicara di telepon sampai lupa waktu, karena aku belum merasa ngantuk aku memutuskan untuk menonton televisi saja


...


Allahuakbar Allahuakbar.....


suara adzan subuh menggema di kesunyian,


aku pun mengerjap kan mataku


"hoooaam.....astaga aku ketiduran di sini, tapi siapa yang mematikan tv nya,apa ibu? tapi kenapa ibu tak membangunkan ku?" gumam ku


ceklek


Pintu kamar ibu terbuka ,memperlihatkan ibu yang keluar dari kamar nya


"apa semalam ibu yang mematikan televisi nya?"tanya ku langsung


"enggak Nur,memang nya kenapa?"tanya ibu


"semalam Nuri nonton tv dan Nuri ketiduran tapi tadi pas bangun tv nya udah mati,kirain ibu yang matiin"ucap ku kemudian


"lalu siapa yang matiin televisi nya kalau bukan ibu?"tanyaku dalam hati


"sudah jangan kamu fikirkan itu,lebih baik sekarang kamu ambil air wudhu,kita sholat bersama"ucap ibu


"baik lah Bu"ucap ku


"eh Bu,sertinya ada yang aneh deh "ucap ku lagi sebelum melangkah kan kaki ku ke kamar mandi


"apa Nur yang aneh?"bingung ibu


"ini,perut ibu,....kempes Bu"ucapku sambil menyentuh perut ibu


"hah iya ya,ko bisa,semalam kan masih besar perut ibu,kaki dan tangan ibu juga sudah ga bengkak Nur..."pekik ibu senang


aku pun menghamburkan diri memeluk ibu,


terima kasih ya Allah "lirih ku dalam hati


Kami pun bergegas untuk mengambil air wudhu dan segera menunaikan kewajiban seorang muslim , dalam sujud ku tak henti hentinya aku mengucap syukur dan berterima kasih kepada Allah SWT sang pencipta alam ,


.


.


.


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2