
Aku terhenyak saat mengenal suara nya
"mas Rifki....'' seru ku
"I iya ,ini aku " jawab nya terbata
"ya Tuhan mas ,mas Rifki kenapa,apa ada yang terluka?" tanya ku panik meraba sekitar
"syhuuutt....pelan kan sedikit suara mu ,nanti mereka dengar " seru mas Rifki berbisik
"mas Rifki kenapa bisa sampai begini, siapa mereka ,kenapa mereka melakukan ini ?" tanya ku setengah berbisik
"mereka suruhan Tante ku ,aku tak sengaja mendengar ucapan nya tadi pagi " ucap mas Rifki dengan suara tertahan , seperti menahan rasa sakit
"apa Tante mu,Bu Puri ?" tanya ku terkejut
"dari mana kamu tahu?"
aku gelagapan saat mas Rifki bertanya hingga aku menjawab
"entah lah tapi dari awal pertemuan ku dengan nya perasaan ku sudah tak enak ,aku juga menduga jika dia lah orang di balik teror di kafe , tapi ini baru dugaan ku saja ,aku harap dugaan ku ini salah" ucap ku mendunduk meskipun aku tahu mas Rifki tak bisa melihat ku
"kau tidak salah semua itu benar, karena aku mendengar semua nya ,maka nya aku sekarang berada di sini " jelas nya , membuat ku terkejut
Aku pun lantas menghidupkan senter dari ponsel ku ,dan berapa terkejut nya aku saat melihat mas Rifki yang sudah berlumuran darah di bagian wajah nya dan membasahi tubuh nya.
"astaghfirullah halazim mas Rifki" seru ku
Aku benar-benar panik saat melihat keadaan nya, kening nya berdarah menutupi sebagian wajah nya dan darah nya itu tak berhenti keluar ,aku pun berinisiatif untuk menahan darah nya agar tak terlalu banyak yang keluar , dengan menyobek bagian bawah baju ku ,beruntung aku memakai baju yang panjang nya sampai lutut ku jadi tak sampai memperlihatkan perut ku ,lalu aku ikatkan kain sobekan itu ke kepala nya.
Ku lihat mas Rifki memejamkan mata nya degan bibir nya yang tersenyum, kenapa di saat seperti ini dia masih bisa tersenyum begitu .
"mas ,mas Rifki, jangan tidur " ucap ku menepuk-nepuk pipi nya agar mas Rifki tak tertidur , sungguh aku sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada nya.
"aku tidak tidur ,hanya sedang meresapi rasa sakit nya yang perlahan menghilang karena ada kamu di sisiku " ucap mas Rifki
"haisshhh.....mas Rifki ,bahkan di saat seperti ini pun kamu masih saja bisa menggombal " seru ku tak habis fikir
"hehehe....aku serius bukan gombal" ucap nya terkekeh
"bagaimana kamu juga bisa berada di sini?" tanya nya
"perasaan ku tak enak saat mas Rifki pergi dan Wowo memberitahukan ku ,kalau kamu dalam bahaya ,aku langsung pergi mengejar mas Rifki , tapi aku hanya menemukan motor dan ponsel mas Rifki, setelah itu aku melajukan motor mas Rifki hingga sampai di tempat ini ,tapi aku ketahuan dan di bawa ke tempat gelap ini " jelas ku
__ADS_1
"terima kasih sudah mengkhawatirkan ku " ucap mas Rifki tersenyum seraya menggenggam tangan ku ,aku pun hanya tersenyum hingga tak kusadari air mataku jatuh ,dan mas Rifki langsung mengusap nya dengan tangan nya.
"kenapa menangis ?" tanya nya
"enggak siapa juga yang nangis ,ini hanya air mata nya saja yang ingin keluar" ucap ku asal
dan mas Rifki malah terkekeh
"sudah lah , sebaik nya kamu matikan senter nya, nanti mereka melihat nya, lihat lah disana ada celah ,mereka pasti akan menyadari jika ada cahaya di sini , kamu silent juga ponsel nya" ucap mas Rifki , aku pun menuruti nya
"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang mas , masa iya kita berdiam terus di sini, kita kan tak tahu apa yang akan terjadi nanti ?" ucap ku cemas
"iya kau benar,untuk saat ini kita diam saja dulu ,tunggu sampai mereka tertidur , lalu kita harus berusaha keluar dari tempat ini" ucap mas Rifki
"iya baiklah kita tunggu " ucap ku
aku terdiam dan langsung memusatkan konsentrasi ku
"Wo....kau dimana?" tanya ku dalam hati
"aku tak bisa masuk ke sana Nuri , seperti nya tempat itu sudah di pagari sebuah mantra agar makhluk dari luar tak bisa masuk" ucap nya
"tapi kau tenang saja , aku akan cari cara agar bisa menolong mu , ah iya gunakan kalung mu , untuk melemah kan kekuatan nya" ucap Wowo yang tak lagi aku dengar
aku pun menghela nafas,membuat mas Rifki bertanya
"kenapa ?" tanya nya
"tidak apa-apa,aku hanya merasa engap dan sedikit sesak nafas"ucap ku , ya memang benar sih aku itu tidak bisa terlalu lama berada di tempat gelap , karena asma ku akan kambuh nanti , dan kini aku sudah merasakan sedikit sesak
"kamu punya asma?" tanya mas Rifki dengan nada panik
"iya" jawab ku
"ya Tuhan ,apa kamu masih bisa bertahan ?" tanya nya
"bisa " sahut ku
Semakin lama nafasku semakin cepat dan semakin sedikit pasokan oksigen yang ku hirup ,aku sudah mulai merasa pusing ,tapi aku mencoba untuk kuat.
"Nuri ,kamu tidak apa-apa? tanya mas Rifki meraba ku ,namun dengan cepat aku tangkap tangan nya sebelum tangan nya meraba ke tempat lain
"aku tidak apa-apa ko mas ,mas tenang saja" ucap ku
__ADS_1
Aku pun beralih dan bergerak merangkak menuju arah yang menurut ku adalah pintu ,terlihat dari lubang kunci yang terlihat terang dari luar
"mau kemana ?" tanya mas Rifki menahan ku
"aku mau lihat dan mengintip apa mereka sudah tidur?" ucap ku
Akhirnya aku bisa sampai,dan benar saja itu adalah pintu keluar nya , ku intip di lubang kunci ,dan ku tempel kan telinga ku di pintu, tapi aku tak mendengar apa pun
"mereka seperti nya sudah tidur " ucap ku setelah berada di dekat mas Rifki lagi
Aku pun membantu mas Rifki untuk bangun dan berdiri , aku memapah nya hingga sampai dekat pintu .
Dan suatu keberuntungan ku ternyata pintu nya tak di kunci , aku pun segera berjalan dengan memapah mas Rifki,ku letakan lengan nya di atas pundak ku, dan seperti nya kaki mas Rifki juga terkilir.
Aku dan mas Rifki sudah berhasil melewati beberapa orang yang sudah tertidur pulas
hingga akhir nya aku bisa keluar dari tempat itu .
Aku berhenti di bawah pohon besar ,untuk sekedar beristirahat, dengan tersengal aku mengambil banyak oksigen untuk ku hirup,
"kamu tidak apa-apa?"tanya mas Rifki
namun aku hanya menggeleng
"tak apa ,aku kuat ko ,aku harus kuat jika tidak bagaimana aku bisa membawa mas Rifki keluar dari tempat ini
"mas kita harus cepat ,darah di kening mas Rifki tak berhenti keluar " seru ku panik setelah melihat darah yang menetes dari dagu nya
Ku seka darah yang menetes itu dengan lengan baju ku . Dari pantulan cahaya bulan aku bisa melihat wajah pucat nya,dan itu sangat membuat ku panik bukan kepalang.
Saat aku dan mas Rifki hendak beranjak tiba-tiba orang-orang itu datang membuat ku mematung di tempat.
"disini rupa nya kalian ?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung...