Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 89


__ADS_3

NURI POV


.


.


.


.


Aku masih tak percaya dengan apa yang sudah terjadi baru saja , aku dilamar mas Rifki dan dalam waktu dua bulan lagi aku akan menikah dengan nya .


"kamu sedang apa di sini ,aku cariin dari tadi ?" tanya mas Rifki lalu duduk di samping ku


Aku yang tengah duduk lesehan di kursi depan rumah ku di bawah pohon rambutan menoleh samping kanan ku


"lagi duduk aja " sahut ku


"seneng banget ya mau nikah dengan ku ?" goda nya


"ishh apa an sih " seru ku seraya memukul pundak nya


"apa kamu juga sayang dan cinta sama aku?" tanya nya


"ga ada pertanyaan lain apa ?" ucap ku


"jawab saja" ucap nya lagi


"menurut mas Rifki ,bagaimana perasaan aku terhadap mas Rifki" tanya ku balik


"ko malah nanya balik sih ?" keluh nya


namun aku hanya tersenyum menatap nya


"sudahkan aku mau bantu ibu masak ,by mas Rifki" ucap ku seraya menoel hidung mancung nya dan segera berlalu meninggalkan nya


Kulihat mas Rifki nampak tersenyum di sana,


"cieee....yang mau kawin " celetuk Ifel ngerecoki ku yang sedang memotong daging ayam


"kawin ...kawin ...emang kamu fikir kucing apa " seru ku


"dari mana saja sih kamu ?" tanya ku lagi


"gak dari mana-mana orang dari tadi aku tuh di kamar ,mau keluar tapi banyak orang ,ya sudah tidur lagi saja " ucap nya


"astaga ,jadi kamu ....ah sudah lah sana mandi abis itu temenin calon kakak ipar mu " ucap ku seraya mendorong tubuh nya masuk kamar mandi dan ku kunci pintu nya dari luar .


"woy .... Kunti buka !!!" teriak nya dari dalam


"aku akan buka jika kamu sudah selesai mandi" teriak ku


"ada apa sih berisik sampai terdengar ke luar , malu tahu sama calon mertua mu " seru ibu


"hehe....ibu maaf Bu " sahut ku seraya menggaruk kepalaku


Aku pun melanjutkan memotong daging ayam nya ,setelah memberikan kunci kamar mandi pada ibu.


"sedang apa Nuri ?" tanya Bu Dewi tiba-tiba menghampiri ku


"eh ibu ,ini sedang motong ayam " sahut ku

__ADS_1


"mama bantu, mulai sekarang belajarlah memanggilku mama ya " ucap Bu Dewi membuat ku salting dan


street....


"aahh...." pekik ku


"astaga , kamu ini hati-hati dong " seru Bu Dewi meraih tangan ku dan membasuh tangan ku yang terluka oleh pisau dengan air mengalir .


"kita obati " ucap Bu Dewi seraya membawa ku ke ruang tengah


Aku sempat melirik pada Wowo saat melihat nya terus saja memperhatikan ayam yang belum selesai ku potong .


"awas ya Wo jangan kamu makan "seru ku dalam hati


"iya iya" sahut nya


"makasih ya ma, ini luka kecil padahal" ucap ku merasa tak enak


"justru luka kecil jangan di biarkan nanti infeksi bisa bahaya juga nanti nya " ucap nya


"loh Nuri itu tangan mu kenapa nak ?" tanya ibu


"biasa lah bu, pisau nya nakal penasaran sekali dia kalau gak bikin tangan Nuri terluka " sahut ku bercanda


"ih kamu ini di tanya baik-baik juga , maaf ya Bu Nuri memang begitu anak nya,suka becanda " ucap ibu pada Bu Dewi


"jangan panggil ibu lah ,kita juga seperti nya seumuran deh,masa panggil ibu kesan nya saya tua bener " ucap Bu Dewi


"ah baiklah saya panggil mbak saja kalau begitu" sahut ibu


"nah itu lebih baik "


"ya sudah biar mama yang lanjutkan potong ayam nya , kamu duduk saja" namun aku dengan cepat menyergah


Aku pun melanjutkan lagi memotong ayam nya,hingga jadi beberapa bagian, tapi ko ada yang janggal ya, aku perhatikan dan ku hitung bagian-bagian nya.


"ko gak ada satu ya ,harus nya bagian ini ada dua ,tapi ini hanya ada satu " gumam ku


"Wo....." seru ku sambil melirik ke arah Wowo


Wowo nampak berdehem


"khem....hanya satu " sahut nya


"heeehhh....ya sudah deh" ucap ku menghela nafas


"masak yang enak biar di sayang calon mertua " bisik Ifel tiba-tiba


"berisik" sahut ku ketus


Tak berselang lama ibu dan mama Dewi menghapiri ku di dapur membantu ku memasak.


***


Kini makanan sudah siap ,nasi ,bistik ayam , goreng tempe tahu , tumis kangkung , telur dadar , sambal dan lalapan tak lupa ikan hasil tangkapan ku sudah tersaji di ruang tengah.


"kamu panggil ayah dan nak Rifki ya " ucap ibu"


"iya ibu "


Aku pun segera beranjak menghampiri ayah dan mas Rifki yang sedang berada di halaman belakang.

__ADS_1


" ayah makanan sudah siap, yu masuk kita makan " ajak ku


Saat aku hendak berjalan masuk bersama ayah , aku melirik ke arah mas Rifki yang masih duduk tak beranjak dari duduk nya .


"loh mas ayo ke dalam "ajak ku


"siapa yang masak ,kalau bukan kamu aku gak mau makan "ucap nya


"ih mas Rifki ayo dong " seru ku


" jawab dulu siapa yang masak ?" lanjutnya lagi


"iya aku yang masak " sahut ku


"bener kamu yang masak ?" tanya nya lagi hingga aku mengangguk


"oke deh kalau begitu " ucap nya seraya menarik tangan ku


"mana ? yang mana masakan mu ?" tanya mas Rifki ketika kami sudah berada di ruang tengah bersama ayah,ibu ,mama Dewi ,Ifel dan Febry, kak Adi sudah pulang tadi setelah mendapat telpon .


"yang ini dan ini " tunjuk ku pada tempe dan sambal


" hanya ini ?" tanya nya dengan alis terangkat


"iya ,ayo makan kata nya hanya mau makan masakan ku ,ya ini masakan ku " ucap ku seraya memberikan tempe dan sambal di piring untuk nya


"Nuri kamu ini " seru ayah


"maaf nak Rifki,Nuri kamu itu gak boleh begitu, ini semua masakan Nuri ko, ibu dan mama mu hanya membantu nyicipin saja tadi " ucap ibu


"iya Rifki, Nuri pintar masak loh ,coba deh ayam ini " ucap mama Dewi seraya mengambilkan sepotong daging ayam yang sudah di bikin bistik


" hm....enak kamu pintar masak rupanya ,makin love-love aku sama kamu " ucap mas Rifki yang tak pernah berubah selalu saja menggombali ku


"gombal " seru ku sambil masukan sepotong tempe goreng ke mulut ku


"ko gombal sih " ucap nya


"kak , Nuri itu gak bakal mempan di gombali , dia akan tersenyum tersipu malu kalau kakak ..."


"bisa diem gak " aku memasukan tempe goreng yang sudah ku kasih sambal ke mulut Ifel membuat nya terbatuk-batuk dan kepedesan


"uhukk uhhukk ,sshhh ....hah ,pedes berapa kilo ni cabe nya "


"makanya diem" sahut ku sedikit berbisik


"haduh maaf ya ,jadi tak enak mereka ini memang tak pernah akur " ucap ibu


"gak apa-apa ko malah jadi rame kan rumah nya " ucap mama Dewi , duh berasa gimana ya aku sudah terbiasa manggil nya ibu, sekarang harus panggil mama.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2