
Aku duduk di bawah pohon rindang di tepian sungai , aku sedang menunggu kedatangan seseorang yang tadi menelpon dengan menggunakan no ponsel Haris yang hilang itu , cukup lama aku menunggu hingga akhir nya ia datang .
"Meta"gumam ku pelan
"hai Nuri ,apa kabar maaf membuat mu menunggu"ucap nya
"engga ko,tapi kenapa kamu bisa menghubungi ku dengan no ponsel nya Haris?" tanya ku to the poin pura-pura tak tahu kalau handphone nya Haris hilang
"ya tentu saja bisalah , orang Haris sendiri yang ngasih hp nya ke aku"ucap nya bangga
"oh ya, pantesan saja Haris tak pernah menghubungi ku"ucapku lirih seolah aku tengah bersedih
"sekarang kamu tahu kan kalau Haris juga punya perasaan padaku,
jadi kuharap kau menjauhi Haris,biarkan kami bahagia ok"ucap nya dengan penuh penekanan
"kamu bohong kan?"tanya ku
"ngapain juga aku bohong,kalau ga percaya ya sudah,baik lah aku mau pulang saja sepertinya akan turun hujan " ucap nya lagi
Aku tetap berdiri di tempat ku melihat kepergian teman ku ,dengan handphone yang masih terhubung dengan seseorang, ya tadi sebelum kedatangan nya aku tengah bertelepon dengan Haris,dan ia menyuruh ku untuk tak memutuskan sambungan telpon nya
"kau dengar sendiri tadi,kalau kamu yang ngasih hp nya ke dia" ucap ku menempel kan ponselku di telinga ku
"dan kamu percaya?"tanya nya di sebrang telpon
"ya enggak lah , tapi kamu beneran ga ngasih hp nya ke dia kan?"tanya ku memastikan
"tentu saja tidak , eh iya Minggu depan aku akan datang ke rumah mu "ucap nya
"ya datang saja kenapa mesti minta ijin dulu,biasa nya juga gitu kan" ucap ku
"kali ini beda "ucap nya lagi
"kenapa begitu?"tanyaku berkerut
"karena nanti aku akan datang bersama orang tua ku,untuk melamar mu"ucap nya kemudian
"hah k kamu serius ,apa ga terlalu cepat ?"tanyaku gugup
"justru lebih cepat akan lebih baik kan,ya sudah kamu cepetan pulang gih,kata nya mau hujan juga tadi,kamu masih di situ kan ?"tanya nya
"iya aku juga mau pulang ko ini"ucap ku lagi
"ok kalau begitu sudah dulu ya dah,muach" ucap nya lalu menutup telpon nya
"astaga dia mau ngelamar ku,aku mau di lamar"ucapku masih terkejut
Aku pun memutuskan untuk segera pulang , cuaca nya memang gelap dan mendung namun sepertinya hujan enggan turun.
Di pertigaan jalan,langkah ku terhenti karena melihat sebuah keranda hijau yang tengah di gotong,dengan beberapa orang berjalan di belakangnya .
__ADS_1
Rupanya sore ini juga jenazah pak Yaya akan di kebumikan,segala doa ku panjatkan saat rombongan pengantar jenazah tepat lewat di depan ku .
Setelah rombongan itu berlalu aku pun melanjutkan langkah ku kembali ,
sesampainya di rumah aku langsung memberi tahu ibu kalau Haris akan datang melamar ku Minggu depan, dan tentu saja berita itu disambut bahagia oleh ibu ku ,juga Ifel yang tak henti-henti nya menggodaku.
.
.
.
"maaf kan saya ,saya mengaku apa yang saya lakukan ini memang salah,dan kini saya sudah menanggung sendiri akibat nya , karena kecemburuan dan dendamku di masa lalu membuat saya gelap mata, sekali lagi saya meminta maaf , kamu memang anak yang baik Nuri"
aku mengerjapkan mataku rupanya yang tadi itu hanya mimpi' batin ku
"nur sudah memaafkan pak Yaya,semoga pak Yaya tenang di alam sana,yang penting ibu kembali sehat seperti sebelumnya "lirih ku
Namun entah mengapa aku malah melihat sekelebat bayangan pak Yaya yang tersenyum ke arah ku.
"selamat jalan pak Yaya sungguh Nur tidak menyimpan dendam sama sekali "ucapku hingga bayangan itu menghilang dengan sendirinya.
Hari ini aku dan ibu pergi ke rumah sakit bersama dokter intan yang tadi pagi sudah datang ke rumah , sedangkan Febry bersama Ifel di rumah Mak Entin.
Meskipun ada sedikit drama kecil karena Febry rewel memaksa ingin ikut,namun setelah di beri tahu bahwa hari ini ayah pulang jadinya ia menurut untuk di tinggal.
Satu jam perjalanan kita pun sampai di rumah sakit ,ibu langsung di tangani karena sudah membuat janji sebelum nya jadi tak perlu lagi untuk mengantri.
Sambil menunggu aku menanyakan perihal dokter yang menangani ibu,aku penasaran karena dari cara mereka bicara seperti mereka sudah saling kenal sebelum nya.
"Bu,pak dokter Bandi baik ya"ucap ku mulai membuka obrolan
"iya dia memang selalu baik"ucap ibu
"memang nya ibu sudah kenal dokter Bandi sebelum nya?"tanyaku mulai penasaran
"kita itu teman satu angkatan waktu SMP"terang ibu
"ooohh begitu ya ,pantesan saja kalian nampak terlihat akrab,emang dulu ibu dan pak dokter Bandi sangat dekat ya?'tanya ku lagi
"ya sangat dekat bahkan saking dekatnya ayah mu sampai cemburu,tiap ada acara sekolah pasti ayahmu selalu ikutan,dan tiap ibu pulang sekolah ayahmu sudah berdiri di bersender di pintu gerbang nya ,dan selalu begitu saja pose nya saat menyambut ibu,
dan kau tau Nur,semua teman-teman ibu mengira kalau ayah mu itu adalah ayah nya ibu" ucap ibu tertawa kecil
"loh ko gitu?"tanya ku bingung
"ya karena jarak usia ibu da ayah kamu sangat jauh nur,saat itu ibu masih sekolah kelas 3 SMP,ya kira-kira 15 tahunan lah kalau ga salah sedangkan ayah mu sudah berumur 27 tahun, apalagi di tambah penampilan nya yang seperti bapak-bapak,semakin banyak lah yang bilang kalau dia ayah nya ibu" tutur ibu
"terus ibu bilang apa pada teman-teman ibu ?" tanya ku kemudian
"ya ibu iya in saja lah lagian ibu juga malu masih sekolah sudah di tungguin laki-laki" terang ibu
__ADS_1
"oh gitu,terus pas keluar sekolah ibu langsung menikah ?"tanya ku
"ga langsung juga sih,waktu itu ayah mu pergi merantau ke kota,selama sebulan ayah mu di kota pas datang langsung melamar ibu " ucap ibu sembari tersenyum senyum
ah ibu pasti sedang flashback ke masa lalu nih'batin ku
"berarti jarak nya sekitar 12 tahunan kan Bu, tapi kok ga kelihatan ya,entah ibu yang terlihat tua atau ayah yang awet muda?" ucapku asal
hingga mendapatkan cubitan kecil di pinggangku
"ah ibu sakit tahu,sensi Amat sih"ucapku mengerucut
"habis nya kamu ngatain ibu tua,kamu lupa Nur tiap kita pergi berdua begini banyak yang ngira kita itu adik kakak ,berarti ibu ga tua dong"ucap ibu tak terima dibilang tua
"iya deh iya "ucap ku
"terus hubungan ibu dan pak Yaya apa Bu?" tanya ku akhirnya membuat ibu berkerut kening
"pak Yaya,....perasaan ibu tak pernah ada hubungan dengan pak Yaya ,tapi pernah sih pak Yaya sempat bilang suka sama ibu,ya karena ibu juga sudah berkomitmen sama ayah mu ibu tak menanggapi nya ,hingga akhirnya ia pergi ke kota , dan kembali saat ibu sedang melangsungkan pernikahan dengan ayah mu " tutur ibu
"hm....jadi begitu ya, Nur faham sekarang " gumam ku yang ternyata di dengar ibu
"apa nya yang faham nur?" tanya ibu
"ah bukan apa-apa ko Bu"sahutku
"dengan ibu Maryam ?"sapa seorang suster menghampiri kami
"iya benar"ucap ku
"mari Bu dokter Bandi sudah menunggu di ruangan nya "ucap suster Sani yang tertulis di baju suster nya
Aku dan ibu mengikuti suster Sani masuk ke ruangan dokter Bandi ,kemudian kami pun duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan dokter nya.
"bagaimana dokter hasil pemeriksaan ibu saya?" tanya ku
"jadi begini .......
.
.
.
.
.
.
bersambung
__ADS_1