Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 ke rumah Roni


__ADS_3

"dari toko kelontong itu kita maju lagi beberapa meter ,nah di sana ada warung kopi ,dari warung kopi kita belok ke kanan belok lagi ke kiri ,ada bunderan kita muter dua putaran saja agar gak pusing ,nah kita sampai deh di rumah bercat putih ,itu baru rumah nya " tutur nya


"astaghfirullah........" ucapku dan mas Rifki beristighfar


"kenapa harus muter dua putaran ? duh kamu hantu bikin rese ya ...." sungut ku mencibir tapi Dinda si hantu malah nyengir menampilkan gigi rata nya dengan gusi yang berwarna merah


"idih ,kamu gosok gigi nya kekencengan ya , sampe merah gitu itu gusi " celetuk mas Rifki yang melihat pada kaca spion di atas nya


"ini variasi tahu ,kan gak lucu kalau hantu gusi nya biasa aja " kelakar nya dengan di selingi cekikikan


"berisik " seru Lasmi tiba-tiba sudah duduk di samping Dinda


"ih ... jauh-jauh ah kita gak selevel " ucap Dinda seraya menjauhkan duduk nya


"maksud nya apa nih , songong ya ,hantu baru juga " bentak Lasmi


"nah itu dia mangka nya kita gak selevel, aku hantu junior ,kamu hantu senior ,kalau aku deket-deket kamu nanti aku takut nya berubah fikiran" ucap Dinda membuat ku menengok dengan kening berkerut


"maksud nya berubah fikiran ?" tanya ku dan Lasmi berbarengan


"ya.....aku kan minta tolong kalian buat mengungkap pelaku nya ,aku gak mau mereka menyalahkan perampok yang tak tahu apa-apa,sedangkan pelaku sebenarnya masih menghirup udara segar, jadi aku ingin pergi dengan tenang ,tapi kalau aku deket-deket dia ,takut nya aku malah betah jadi hantu gentayangan dan jujur aku ingin sekali bergabung dengan kalian , seru kaya nya " ucap nya lagi membuat mas Rifki sontak menimpali ucapan nya


"oh ....no no no ....makin angker tuh rumah, makin lama itu rumah udah kaya rumah hantu dong , enggak ,kita akan bantu kamu biar kamu bisa cepat pergi dengan tenang "


"ih ....jahat nya suami kamu " adu nya padaku dengan tatapan sebal pada mas Rifki


"eeehhh......setooooopp....." lagi-lagi Dinda berteriak


cekiiiiiit


Mas Rifki menekan pedal rem kuat ,hingga aku terhuyung ke depan ,untung saja aku memakai sabuk pengaman hingga tubuh ku tak sampai membentur dashboard depan mobil ,dan reflek juga tangan ku menahan tubuh dengan menempelkan kedua tangan ku ke dashboard depan.


"astaghfirullah halazim.....Dinda ih kalau kita celaka gimana ?" keluh ku


"maaf "


"sshhh...." aku sedikit mendesis merasakan denyutan di perut ku


"sayang ,ada apa? perut mu sakit?" tanya mas Rifki nampak sekali mengkhawatirkan ku


"tidak mas ,hanya saja aku merasakan ada denyutan, coba deh sini " aku meraih tengan mas Rifki meletakan tangan nya di atas perut ku yang buncit


"perut mu bergerak , apa sakit?" tanya mas Rifki memperhatikan perutku yang di sentuh nya


"tidak mas , seperti nya bayi kita sudah bisa menendang meski gerakan nya masih sedikit " sahut ku tersenyum


"setelah ini kita periksa ke dokter ya "


"ehm ...iya " sahut ku riang


"heeyy ...ayo kita keluar ,sudah sampai " seru Dinda mengejutkan kami


Dasar emang nya setan ya ,ganggu momen haru kami saja


"loh kamu bilang setelah kita melewati warung kopi terus ada bunderan mana bunderan nya ?" tanya ku memperhatikan sekitar


pasal nya warung kopi sudah terpampang nyata di dekat mobil berhenti tapi aku sama sekali tidak melihat bunderan yang di maksud


"hehe ....tuh " tunjuk nya pada ban mobil bekas yang di pasang di pinggir jalan dengan tulisan ban tubles dan di atas nya bertuliskan tambal ban


"itu kan tukang tambal ban " sewot ku


"emang " sahut nya tanpa dosa


"terus ngapain kamu nyuruh kita muter ,dua putaran lagi, terus pake belok kanan belok kiri segala " seru ku merasa gemas sendiri

__ADS_1


"hehe....becanda " cengir nya


"astaghfirullah.....aku bacain ayat kursi ya kamu " geram ku


"e eeh jangan dong ,maaf deh maaf " ucap nya dengan mata memohon di tambah menangkup kan kedua tangan nya lalu mengacungkan jari tengah dan telunjuk nya membentuk huruf v


"terus mana rumah nya ?" tanya mas Rifki yang juga merasa kesal pada hantu satu ini


"itu ,tuh dinding nya bercat putih " tunjuk nya


dengan sedikit merasa sebal mas Rifki keluar dari mobil berjalan memutar membukakan pintu buat ku .


"nanti kita mau bicara apa pada nya mas?" tanya ku


"kita lihat saja nanti " ucap mas Rifki terlihat santai ,apa mungkin mas Rifki sudah mempunyai rencana ? entah lah


"permisi.... assalammualaikum"


"assalamualaikum" ucap ku lagi


"gak ada orang kali mas " ucap ku menatap mas Rifki


"enggak ,dia ada di dalam " ucap Dinda


"kamu tahu darimana ?" tanya mas Rifki


"tuh motor nya ada di garasi" sahut nya


"baiklah kita coba lagi "


kali ini mas Rifki mengetuk pintu


tok tok tok


"assalamu'alaikum..." masih tak ada sahutan


"eh ...maaf pak ,Bu" ucap ku sedikit membungkuk kan tubuh


"ada apa ya , dan kalian berdua ini siapa,mau cari siapa ?" tanya laki-laki paruh baya yang mungkin ayah nya laki-laki yang kita cari


"kami ini teman nya Dinda dan Roni lebih tepat nya teman Dinda " mas Rifki menyahut


"oh ....ada apa ya?" tanya si ibu


"lebih baik kita bicara di dalam ,tak enak ada tamu masa ngobrol di luar" ajak si bapak


"oh iya ..mari silahkan masuk " si ibu mempersilahkan kita masuk namun aneh nya pada saat Dinda hendak turut ke dalam sesuatu seperti memagari nya bukan hanya Dinda ,Lasmi pun sama , mereka tertahan di luar


"silahkan duduk ,mau minum apa ?" tawar si ibu


"ah gak usah Bu, jangan repot-repot" tolak ku


"tak repot ko ,hanya air ,ya sudah saya ambil kan air minum dulu ,ibu hamil pasti lelah " ujar si ibu yang nampak tak keberatan.


"kalian suami istri ?" tanya si bapak


"iya pak ,ini istri saya " ucap mas Rifki


"saya Rifki ,dan ini Nuri " mas Rifki memperkenalkan


"nama saya Bardi " ucap nya


"sebenernya ada hal apa yang membuat kalian datang ke rumah kami yang sederhana ini " tanya nya membuat aku sekilas melirik mas Rifki


"ini minum nya ,maaf hanya teh manis saja " ucap si ibu , seraya menaruh gelas berisi kan air teh manis

__ADS_1


"tidak apa-apa ko Bu , ini juga terima kasih ,saya terima ya Bu " ucap ku meraih gelas itu dan langsung menyeruput nya sedikit ,hanya menghormati nya saja karena sudah repot menyiapkan minum ,tak enak kan kalau sudah repot-repot nyiapin minum kita yang merepotkan malah tak menyentuh nya .


"jadi...apa kalian ingin menemui Roni ?" tanya pak Bardi


"iya ,apa Roni nya ada ?" tanya ku menyela


"oh ada ko , tuh motor nya saja ada ,Bu panggilkan Roni " titah pak Bardi pada istri nya


hanya anggukan si ibu langsung beranjak berjalan ke arah dalam .


Tak lama kemudian istri pak Bardi datang bersama pemuda yang kita cari ,melihat wajah nya aku menjadi semakin yakin dengan yang aku lihat di alam bawah sadar ku waktu itu .


"kalian siapa ?" tanya nya masih berdiri di belakang pak Badri


"duduk dulu dong, kamu ini tak sopan sekali " ucap pak Bardi tanpa menengok


pamuda bernama Roni itu pun kemudian duduk di sebelah pak Bardi


"kalian siapa ?" tanya nya lagi menatap bergantian pada ku dan mas Rifki


"apa kamu mempunyai jimat atau semacam nya ?" tanya ku tiba-tiba ,membuat nya mengerjapkan mata nya


Pasal nya aku merasakan hawa aneh saat melihat nya ,merasa tak nyaman semacam ada sesuatu yang menyelimuti nya


"sebenarnya apa mau kalian mencari ku ?" tanya nya seperti tak nyaman dengan keadaan kami


"sebelum nya saya dan istri saya ingin meminta maaf dulu pada bapak dan ibu , kedatangan kami ke sini hanya ingin menanyakan perihal ini " ucap mas Rifki seraya meletakan sebuah cincin yang ku temukan di taman tempo hari


Terlihat dari ekspresi nya ,pemuda bernama Roni ini nampak terkejut ,namun tidak dengan pak Bardi dan istri nya ,mereka nampak berkerut kening dan seperti berfikir sesuatu


"apa maksud nya ini ?" tanya Roni gugup


"cincin itu seperti cincin yang sering di kenakan Dinda kan pak ?" tanya si ibu


"iya seperti nya ,bapak juga gak yakin Bu" sahut pak Bardi


"sebenarnya apa maksud kalian, ini cincin siapa ,aku tidak tau apa-apa" ujar nya semakin tergagap ,terlihat sekali jika saat ini ia tengah gugup dan cemas


"kami hanya ingin bertanya ,apa kamu tahu siapa pemilik cincin ini ?" tanya ku


"tidak ....aku tidak tahu ....lebih baik kalian pergi ,aku sama sekali tidak tahu ,dan tak tahu apa-apa " suara nya ucap nya lagi menggebu


"tidak tahu apa-apa tapi nada dan cara bicara mu terlihat kamu sangat tahu apa yang terjadi " ucap mas Rifki sinis


"maaf nak Rifki ,ini ....apa masalah nya ya, tolong jelaskan " tanya pak Bardi yang dari tadi nampak bingung


"bapak minta lah anak bapak berkata jujur jika ingin tahu apa masalah nya , kami hanya ingin semua nya cepat terungkap saja ,kasihan pemilik cincin ini " ucap mas Rifki lagi menatap laki-laki paruh baya itu


"Roni , sebenarnya ada apa ini,siapa pemilik cincin ini,bukan kah ini cincin punya Dinda kan ?" tanya istri pak Bardi kemudian


Namun yang di tanya hanya diam seribu bahasa ,di tengah desakan pak Bardi dan istri nya yang ingin anak nya berbicara , tiba-tiba pintu di ketuk dengan suara seseorang mengucap salam


tok tok tok


"assalamu'alaikum .... selamat siang ...apa benar di sini rumah nya sodara Roni ?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2