
Pagi Daniel diawali dengan kegabutan yang Hakiki. Bagaimana tidak, malam pertama, Anisa menggodanya tapi tidak memuaskan nya, ibarat ikan yang dipanggang di atas api yang sedang tamasya ke laut, apa sekali hidupnya sebagai suami.
" Wajahmu kenapa?" menghampiri meja makan sambil membawa sepiring lagu kesukaan putranya.
"Memangnya wajahku kenapa Mah?" Harus melihat dengan serius wajah putranya.
" Seperti orang yang lagi menahan Derita. kalau sakit perut bergerak ke kamar mandi. Nanti kamu malah anu di sini."
Daniel makin menekuk wajahnya yang tampan dan rupawan dinistakan. Anisa datang sambil membawa nasi dan meletakkan di meja makan. lirik istrinya yang sedang tersenyum bodoh. bahkan tidak melirik nya sama sekali, padahal Dhani Sedang Ingin menatap wajah yang selalu membuatnya siang dan malam.
" Hai istriku," ucap Daniel dengan nada geram yang dibuat dengan manis.
" Hai juga Daniel." Anisa memegang kening Daniel dan mengangguk pelan.
" Tidak panas," ucapnya serius.
" Emang kamu pikir aku sakit!"
Laras dan Angga memperhatikan interaksi keduanya. bibir Laras tertarik kecil saat Anisa dengan polosnya menjahili putranya. baginya Anisa adalah sumber kebahagiaan bagi Daniel, sebelum pria yang selalu mengatakan dirinya Tampan itu kerap murung. itulah alasan Laras ingin menjodohkannya dengan wanita lain.
" Habisnya kamu nyapa aku dengan sangat manis." Anisa terkekeh pelan.
Daniel memutar bola matanya kesal mendengar ucapan Anisa.Entah kenapa sang istri selalu membuatnya kesal.rasa ingin melahap Anisa bulat-bulat mulai dia rencanakan.
" Ma,Pa. berangkat ke kantor dulu ya."
Pria itu beranjak dari kursinya, sebelum pergi ia mengecup kepala Anisa dan berlalu. hal tersebut membuat wajah gadis itu bersemu. apalagi melihat tatapan menggoda dari Laras.
__ADS_1
" Em, Ma Annisa ke kamar sebentar." kakinya segera menjauh dari sana sebelum meluruh ke lantai.
Di kamar, Anisa memegang jantungnya berdegup kencang, Ia tidak tahu Apa maknanya.Sedikit rasa panik menyelinap seketika. Ia ingat, dulu tetangganya merasakan hal sama dan seberapa bulan kemudian meninggal dunia. Apa ajalnya Sedekat Itu jadinya Anisa masih mau hidup panjang apa lagi ya masih mengandung Setidaknya kalau pun nanti ia meninggal paling tidak usah nya ke Enam puluh tahun.
" Ini bahaya, Sepertinya harus Periksa ke dokter."
"Apa ini hah ! saya tidak pernah memperkerjakan orang yang tidak kompeten. Sekarang kamu saya pecat tapi sebelum itu kamu harus memperbaiki kesalahan mu!" Marah Daniel masih menggema di ruangan tersebut.
Amarah kini mendominasi dunia setelah apa yang diperbuat oleh sekretaris nya. wanita itu lalai dan mengajukan proyek bernilai miliaran rupiah. kini proyeknya jatuh pada perusahaan saingan bisnisnya. Iya mendesah beberapa kali dan menarik nafas untuk mengurai amarahnya. namun, tetap saja tidak bisa mereda.
"Sial, sial!" Daniel menendang sebuah kursi hingga terpental jauh. setelah kontrol emosinya dan ia segera menelepon bagian HRD untuk mencarikan sekretaris baru yang lebih kompeten.
" Carikan saya sekretaris yang kompeten. Kalau kalian tidak bisa sekedar tunggu surat pemecatannya!"
Panggilan langsung dimatikan. dan ia merebahkan diri ke kursi kebesarannya. Iya menutup kedua kelopaknya. ini sudah Sepuluh kalinya ia mengganti sekretaris. bunyi jaringan masuk dari ponsel, mengalih atensinya. ia tersenyum melihat nama panggilan dan segera mengangkatnya. Amara seketika reda begitu saja hanya dengan mendengar suaranya saja.
"Halo? "
" Ke rumah sakit mana?" Daniel ikut khawatir dengan istrinya.
" Harapan emak,"
" Itu rumah sakit di mana Aku baru dengar namanya."
"Harapan Bunda, dasar."
Daniel mendengus kesal. Apaan Rumah Sakit Harapan Bunda disleding ke Harapan emak. istrinya ada-ada aja tapi berhasil membuatnya ketawa tanpa sadar meskipun kepolosan Anisa sering membuatnya kesal, Iya juga kerap tersenyum.
__ADS_1
" Jangan-jangan kamu sakit jantung?" tanya Daniel gurat khawatir terlihat di matanya.
" Belum diperiksa sudah ya Nanti ku hubungi untuk info lebih lanjut."
Belum sempet Daniel menjawab panggilannya sudah dimatikan sepihak oleh Anisa.
" Wanita itu benar-benar menyebalkan," Dengkusnya. Namun teringat kembali dengan ucapan Anisa mengenai kesehatan jantungnya.
" Apa Anisa sedang sakit atau sekarat?" Ia bertanya pada diri sendiri.
" Tidak dia pasti hanya Sakit biasa. tapi ada apa dengan jantungnya apa dia sakit jantung?" Daniel sangat khawatir dengan segala opininya ia mengambil ponsel dan menghubungi sekretarisnya sebentar lagi menjabat sebagai mantan.
" Batalkan meeting siang ini saya ada keperluan darurat."
Daniel mengambil kunci mobilnya dan segera menuju rumah sakit yang Anisa maksud sesampainya disana ia segera mencari keberadaan annisast sekitar Lima belas menit ia berputar batang hidung Anisa akhirnya terlihat dan ia berjalan mendekati Anisa yang sedang berbicara dengan seorang dokter muda.
" Gimana hasilnya?" tanya dana sembari meraih pinggang istrinya dan berhasil membuat Anisa bersemu merah. apalagi ada dokter tampan di depannya.
" Kata dokter nggak kenapa-napa."
" Benar Pak jantung Bu Anisa hanya berdetak normal bedanya ada sesuatu yang memacu itu alasan jantungnya berdebar." jelasnya sambil tersenyum dengan segera pamit pada keduanya.
" Syukurlah kupikir kamu akan meninggalkanku menjadi duda."
" Enak aja aku belum menguasai harta kekayaan umana boleh mati dengan cepat!" ngomel Anisa membuat Daniel tertawa mendengarnya.
...******...
__ADS_1
...Happy Reading All 😉...
...******...