Terpaksa Menjadi Istri CEO

Terpaksa Menjadi Istri CEO
Episode 15


__ADS_3

Sudah lima kali Anisa bolak balik kamar mandi akibat rasa mual yang menderanya. Tangan bertumpuan pada sudut wastafle untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak ambruk. Kakinya sudah tidak bisa diajak kompromi untuk berdiri tegak. Daniel yang masih terlelap pun bangun dari tidurnya, ia melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 05:20 WIB. Suara muntahan Anisa terdengar sampai ke telinganya. Ia segera turun dari ranjang dan mendekati kamar mandi. Hatinya terenyuh melihat posisi istrinya yang tidak karuan. Tangan kekarnya memijat pelan tengkuk istrinya. Wanita itu sedikit kaget saat merasakan sentuhan hangat dibagian lehernya.


"Kenapa nggak bangunin aku, hm?" Tanya Daniel khawatir.


Anisa menatap mata suaminya melalui cermin dan tersenyum lemah.


"Tidurmu sangat lelap, mana tega aku membangunkanmu. Lagi pula ini hanya mual."


"Lain kali bangunin aku ya, kamu yang mengandung bayi kita, tapi aku juga pengen ngerasain susahnya tidur malam dan nemenin kamu." Pria itu balas menatap lembut manik istrinya.


Bola mata dengan iris kecokelatan itu selalu menarik minatnya untuk menatap lebih lama. Teduh dan nyaman, itulah yang Daniel rasakan. Anisa tampak terharu mendengarnya.


"Udahan muntahnya?" tanya Daniel lembut.


Anisa menganguk pelan. la hendak berialan. Namun kakinva sangat lemas seperti kehilangan tulang untuk menyangga berat tubuhnya. Daniel dengan sigap langsung menggendong istrinya keluar dari kamar mandi menuju ranjang mereka. Ia meletakkan tubuh Daniel dengan sangat hati-hati. Sebelum tautan mereka terlepas. Mata keduanya masih menatap satu sama lain. Sebuah magnet seperti menarik Daniel untuk terus menatap netra istrinya. Tatapannya lama-kelamaan menjadi dalam. Daniel mendekatkan bibirnya untuk menyentuh bibir ranum milik Anisa . Satu inci menuju penyatuan, ketukan pintu kamar membuyarkan keromantisan keduanya. Daniel mengumpat dalam hati. Ia berkata, siapa pun yang menganggu adegan romantisnya akan tersedak saat sarapan nanti.


Daniel masih terdiam, enggan beranjak meninggalkan istri polosnya. Namun, ketukan semakin keras.


"Ais, menyebalkan." rutuk Daniel kesal. Ia terpaksa bangun dan membuka pintu dengan enggan.


Anisa menatap wajah kesal suaminya sambil tertawa kecil. Dengan kasar Daniel membuka pintu dan hampir berteriak di depan wajah sang ratu.


"Ada ap...!" Mulutnya seketika terkunci saat melihat sosok yang kini tengah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Apa! Mau mengutuk Mama? Mau kamu Mama kutuk balik?" ejek Laras tersenyum sinis.


"Eh, bu... bukan Ma. Ini lidah Daniel kejepit gigi." Kilahnya penuh dusta.


Laras memicing mata curiga. Setelah itu ia menyampaikan kalimat yang belum terucap sama sekali.


"Papa kamu hari ini akan pergi ke Bogor. Nah, Mama akan ikut kamu ke kantor. Mama bosan di rumah terus."


Bibir Daniel terlihat sedikit terbuka. la heran dengan kelakuan ibunya. Kalau hanya untuk memberi tahu perihal itu, setidaknya masih bisa menunggu ia selesai bermesraan dengan istrinya. Kekesalannya semakin menjadi saat melihat wajah ibunya dengan tidak merasa bersalah sama sekali. Tidak tahukan ibunya, kalau dia sudah jamuran menunggu hanya untuk memadu kasih. Tapi saat waktunya tepat malah diganggu.


"Hanya itu Ma?" tanya Daniel


"Hanya itu yang mau mama sampein, Mama sudah mengorbankan kemesraanku hanya untuk basa basi ini?"


Daniel menutup pintu pelan, kemudian ia berjalan ke arah ranjang dengan wajah cemberut.


"Mama keterlaluan! Kamu tau, mama gedor-gedor pintu cuma mau bilang kalau dia akan ikut kita ke kantor." wajah Daniel terlihat lesu.


"Ya bagus dong! Terus masalahnya apa?" tanya Anisa polos.


"Masalahnya kita gagal kising!" Dengkusnya.


"Oh!"

__ADS_1


Daniel menatap istrinya dengan wajah tak percaya. Semudah itu Anisamenjawab oh.


"Nggak istri, nggak Mama! Sama aja nyebelin." bibir Daniel bahkan bisa diikat saat pria itu cemberut.


Anisa tersenyum, suaminya Sangat mudah marah dan kesal tapi mudah juga selesai merajuk.


Ekspresinya beragam membuat Anisa sangat terhibur. Ia mendekat perlahan lalu mencium suaminya dengan kilat.


"Masih marah?" tanya Anisa.


Daniel menggeleng cepat. "Masih, tapi tidak akan marah kalau ciumannya dilamain."


Anisa meraih bantal dan menyumpal mulut suaminya. "Dasar mesum!"


"Mesumin istri sendiri ya nggak papa dong, dari pada mesumin istri orang."


"Awas aja kalau kejadian." kesal Anisa.


"Kamu adalah ratu di hatiku, di hidupku dan di seluruh tarikan napasku. Mana mungkin bisa berpaling lagi."


Daniel memegang hi kedua tangan Anisa dengan lembut dan mengecupnya. Semua tindakannya berhasil membuat Anisa tersipu malu.


...******...

__ADS_1


...Happy Reading All 😉...


...******...


__ADS_2