
Wajah Daniel terlihat kusut setelah pertemuannya dengan Risma. Wanita itu meskipun sangat dibenci olehnya. Tetap saja mereka memiliki kisah manis sebelum ia ditinggalkan.
Anisa masuk sambil membawa minumannya.
"Kamu kenapa?" tanya Anisa sambil duduk di pinggir ranjangnya.
Daniel diam tanpa menjawab. Anisa mengangkat bahu lalu memainkan ponselnya. Sesekali ia tertawa. Daniel yang sedang melamun seketika melirik ke samping.
"Ada apa?" tanyanya sambil mengintip ponsel istrinya.
Anisa pura-pura tidak mendengar, ja membalikkan tubuhnya meski sedikit kesusahan akibat perutnya. Ia kembali tertawa, sesekali menyeka air matanya. Daniel menghela napas lelah. Ia tahu sudah salah karena mengabaikan istrinya, semua ini karena kehadiran Risma yang menyebabkan dirinya menjadi seperti sekarang.
"Sayang, Maaf aku nggak bermaksud mengabaikan kamu barusan."
Anisa masih diam tidak menanggapi. Ia malah semakin tertawa menatap ponselnya, Daniel sudah seperti kuman yang nyasar di tempat pembasmi.
"Sayang...!" panggil Daniel lembut.
Anisa segera membalikkan tubuhnya. Matanya sedikit melotot melihat ke arah suaminya. Tatapannya syarat akan ancaman mematikan.
"Kenapa, kamu seneng ku panggil sayang?" ledek Daniel.
Anisa menggelengkan kepalanya. la menatap Daniel dengan horor.
"Apa apa?" Daniel menatap heran kearah suaminya.
"Apa kamu sedang membayangkan aku sebagai mantanmu?" tuduh Anisa.
"Nggak level." dengkus Daniel asal. Anisa menoel pipi suaminya.
"Lalu kenapa tadi mengabaikanku."
"Maaf, aku nggak bermaksud begitu cuma pikiranku lagi kusut."
__ADS_1
"Cieee yang belum move on." ejek Anisa membuat Daniel geram.
"Sekali lagi kamu mengejekku, Siap-siap melayang."
Anisa menatap aneh wajah suaminya.
"Melayang kayak di bulan?"
"Emang di bulan bisa Mantap-mantap?"
"Nggak tahu, kan belum pernah nyoba."
"Kamu mau nyoba nggak?" Daniel mengangkat kedua alisnya.
Anisa kembali tertawa membuat Daniel kesal.
"Kamu menertawakan ucapanku?"
Anisa menggeleng, sesekali ia memegang perut untuk meredakan tawanya.
Daniel ikut melihat benda pipih yang mampu membuat istrinya tertawa. Mata Daniel membulat sempurna saat melihat sebuah adegan yang mampu membuat sudut bibirnya terbuka lebar. Tawanya berderai saat melihat sebuah film yang menampilkan seorang wanita tengah tersangkut di sebuah pohon saat hendak menyelamatkan anaknya.
"Yang nyangkut itu siapa? Dia benar-benar terlihat konyol.”
Anisa terlihat menangis, sesekali menyeka ingusnya. Daniel menganga melihat perubahan sikap istrinya.
Baru saja ia tertawa kini malah menangis.
"Kamu jahat, kenapa menertawakannya. Dia sedang berjuang menyelamatkan anaknya."
"Bukan begitu, maksudku tokohnya terlihat konyol."
"Menurutmu dia konyol?" tangis Anisa semakin keras semakin membuat Daniel kebingungan.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan ketawa lagi." Desahnhya mengalah dan mengambil ponselnya.
Anisa menghentikan tangisnya, selang beberapa menit kemudian ia kembali tertawa.
"Kenapa kamu tidak tertawa, padahal adegan sangat ini lucu."
Dia membuatnya secara terpaksa. Kalau yang tadi dia teguk, dibuat penuh cinta.
Daniel menatap Anisa dengan dalam lalu menatap langit-langit kamarnya dengan datar. Ia mengembuskan beberapa kali sampai dirasa cukup.
"Apa filosofi itu memang benar?" tanyanya pada diri sendiri.
"Soal apa?"
"Mengenai wanita selalu benar dan pria selalu salah."
"Sejauh pengamatanku pria memang harus mengalah."
"Ya, kamu benar." kesal Daniel . Pria itu mengambil gelas susu milik istrinya lalu menegakknya dengan rakus.
"Daniel , itu minuman ibu hamil. Ngapain kamu minum."
"Entahlah, rasanya enak."
Anisa memberenggut kesal lalu menangis.
Daniel kelabakan menghadapi Anisa yang tiba-tiba menjadi bunglon. Baru tadi dia tertawa lalu menangis, kemudian sekarang menangis lagi hanya karena ia meneguk susu sampai habis. Padahal Daniel sendiri yang membuatnya. Tinggal minta saja lagi padanya. Ia menggeleng melihat kelakuan istrinya yang luar biasa. Dengan cepat ia pergi ke dapur untuk membuat susu lalu kembali ke kamar.
"Ini susunya su...," Daniel menatap gelas susunya dengan nanar saat melihat Anisa sudah tidur dengan lelap.
"Jadi suami gini amat ya." Daniel kembali meminum susu tersebut tapi kali ini rasanya lain. Mungkin karena dia membuatnya secara terpaksa. Kalau yang tadi dia teguh, dibuat penuh cinta.
...******...
__ADS_1
...Happy Reading All 😉...
...******...