
Daniel sudah sampai di rumah dengan napas menderu. Segera ia berlari ke kamar dan mendapati Anisa sedang berbaring di sana. Dengan langkah pelan menghampiri pembantunya. wanita itu tampak sudah melakukan tugasnya selagi dirinya tidak ada di sana. Senyum lega pun terukir di bibirnya.
"Mbak, apa yang terjadi sama istri saya?"
"Kurang tahu, Pak. Tadi tiba-tiba Ibu pingsan."
"Ya udah makasih, Mbak."
"Sama-Sama, Pak. Saya permisi." Daniel menatap sendu Wajah pucat istrinya. Benaknya semakin liar bertanya.
"Sayang, sebenarnya kamu kenapa?" tanyanya.
"Jangan membuatku seperti kucing yang kehilangan induk."
la lalu teringat dengan putri kecilnya. Perlahan kakinya melangkah menuju box bayi, "Syukurlah, kamu baik-baik aja, Nak."
Matanya melirik ke atas nakas. Di sana terdapat ponsel istrinya, ia teringat dengan percakapannya tempo lalu dengan temannya. Daniel segera mengambil ponselnya dan membukanya. la mengotak atik saat kata sandi muncul di layar. Butuh tiga menit untuknya bisa membuka kunci tersebut. Setelah terbuka ia terus berselancar di beberapa media sosial milik Anisa . Yang pertama ia jelajahi adalah instagram. Ia terus mengutak atik. Namun, tidak menemukan ada hal-hal yang mencurigakan di sana. la terus melakukan kegiatannya sekitar dua menit lebih. Sampai mata melihat sesuatu dan dahinya mengernyit bingung. Ada yang mengirim DM ke pada sang istri. Anehnya nama si pengirim sangat aneh.
Kegiatannya sedikit terganggu saat sebuah tangan menggenggam dari arah samping. Daniel segera meletakkan ponsel Anisa ke nakas.
__ADS_1
"Sayang."
Anisa memijat pelan kepalanya yang masih berdenyut nyeri. Daniel mengelus lembut kepala istrinya. Ia berjanji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.
"Ada apa hm? Sampai jatuh pingsan, untung ada Mbak di rumah."
Anisa segera menanyakan keberadaan putrinya. "Ei, Dimana Savana?"
"Tenang, ya. Savana sudah tidur. Kamu istirahat ya." Daniel mengecup lembut punggung tangan istrinya.
"Daniel , aku mau cerita sesuatu sama kamu, tapi kamu jangan marah atau pun ninggalin aku ya." Anisa menatap sendu wajah tampan milik suaminya.
"Sayang, walau negara api menyerang sekali pun, Aku nggak akan ninggalin kamu. Kamu serta Savana adalah hidupku di masa kini dan selamanya."
"Sekarang, coba ceritakan apa masalahnya."
Anisa menatap jendela yang membawanya berkelana pada ingatan masa lalu.
Kaki kecilnya berlari di atas bebatuan kerikil tanpa alas kaki yang membuat telapaknya tergores. Napasnya masih menderu liar dengan detak menggila. Ia terus memacu geraknya secepat mungkin. Tidak ingin memberi ruang pada penjahat yang ingin menjualnya.
__ADS_1
Berlari menembus hutan belukar penuh duri. Mencoba bersembunyi dari pemangsa.
"Aku sangat lelah," ucapnya dengan ringisan kecil. Suara gesekan dedaun kering yang diinjak sepasang kaki membuat ja was-was penuh waspada. Terus mencoba membungkam mulutnya dari rasa sakit. Tangisnya tidak lagi menjadi prioritas untuk anak kecil di usianya.
"Mama, Papa, Nisa takut." bisiknya dengan sangat pelan. Air mata dengan setia menemani setiap geraknya.
la terus berjuang menemukan jalan yang bisa membawanya pulang. Namun, rasa lelah dan sakit membuatnya jatuh pingsan. la ditemukan oleh pemburu babi hutan. Tiga puluh menit kemudian... Sebuah ketukan menyadarkan wanita tua yang sedang merajut. la segera bangkit dan membuka pintu. "Pak, tumben cepat pulang."
"Bu, nanti Bapak jelaskan. Sekarang Ibu bantu Bapak ya," ucap pak tua tersebut dengan tenang. la pun menceritakan semua pada istrinya.
"Masya Allah, Pak. Kenapa anak sekecil ini bisa ditemukan di hutan."
"Entahlah, Bu. Sepertinya dia dikejar oleh seseorang. Tidak mungkin kakinya bisa melepuh parah jika tidak berlari kencang."
"Bapak, Benar. Kita harus bisa membantunya sampai ia pulih."
Mereka memutuskan merawat anak kecil yang malang itu."
"Cukup, Sayang," ucap Daniel dengan sendu.
__ADS_1
*******
Bersambung....