
Seperti biasa, kegiatan Daniel kembali berkutat dengan berkas yang membuat ia mengalami stres ringan. Proyek triliunan yang sudah ia susun proposalnya, kini diambil oleh pihak tidak bertanggung jawab. la benci penghianat. Di tambah masalah istrinya yang membuat ia pusing berkepanjangan. Pagi itu rautnya tidak bersahabat sama sekali. Siapa pun yang bertemu dengannya langsung kena semprot disinfektan.
"Siapa yang sudah berkhianat di perusahaanku! Siapa?" teriaknya dengan urat tergambar jelas di wajahnya yang tampan.
Mereka yang ada di ruang rapat itu hanya bisa diam. Mereka tidak merasa terlibat sama sekali dngan hal tersebut. Jangankan berkhianat untuk berpikir berhenti saja dari perusahaan tidak ada terbersit dalam hidup mereka.
"Kenapa diam?" Napas Daniel sudah naik turun menahan amarah.
Kemudian salah satu dari mereka mencoba menjawab meski dengan nada takut.
"Maaf, Pak. Tapi kami benar-benar tidak tahu," ucapnya mewakili peradaan semuanya.
Daniel mempercayai mereka semua mengingat keloyalan mereka terhadap perusahaannya. Namun, di sisi lain ia bertanya-tanya siapa orang yang sudah tega menghianatinya. Daniel menatap mereka semua dengan tajam. Ia menghela napas lelah dan langsung mengakhiri rapatnya. Di ruang kebesarannya ia memanggil sang sekretaris dan memintanya untuk memeriksa berkas yang tidak sempat ia periksa karena rasa lelah dan masalah yang menghimpitnya.
__ADS_1
Gadis itu mengerjakan dengan Sigap, ia menatap Daniel dengan tatapan mendamba. Selama ini ia sudah berusaha menahan perasaannya yang sering menggelora saat melihat pria itu tertawa bersama istrinya. Gadis itu sangat menbenci Anisa. la merasa perempuan itu terlalu beruntung dan hal itu membuatnya tidak senang.
"Pak, apa perlu saya pijat?" tanyanya dengan lembut.
Daniel yang menutup matanya langsung terbuka. la menatap menggoda pada gadis yang kini terlihat salah tingkah.
"Apa menurutmu wajah saya tampang pria nakal yang mau menghianati istrinya di saat stres?" Daniel menatap tajam wajah yang terlihat pias dan tidak berkutik di hadapannya.
"Dengar, saya memperkerjakan kamu karena kinerjamu bagus. Jadi jangan pernah melunjak!"
"Tunggu apa lagi di sini? Keluar!" usir Daniel . Setelah gadis itu keluar Daniel mengomel dalam stresnya.
"Wajah cantik bakat kok wanita simpanan. Amit-amit ekor kuda." dengkusnya.
__ADS_1
la melihat jam rolex yang melingkar indah di tangan kanan dengan warna hitam elegan yang kontras dengan kulitnya. Ia terperanjat saat melihat jam makan siang. dia segera bergegas dari tempatnya menuju parkiran. Di sepanjang jalan tidak ada karyawan yang berani menyapanya mengingat kejadian tadi pagi. Ia sudah sampai di parkiran. Tangannya memencet sebuah tombol yang terdapat di kunci mobilnya sampai terbuka. Ia segera masuk dan menjalankan mobilnya menuju rumah. Dalam perjalanan Daniel terus memikirkan tentang orang dalam yang menghianatinya. Ia mulai berpikir apa selama ini ia sudah melukai hati seseorang atau murni upaya untuk menjatuhkannya. Daniel tidak ingin masalah ini merembet pada keluarganya.
Tangannya mengambil benda pipih yang ada di saku kirinya. la menekan tombol pemanggil.
"Rangga , bisa minta tolong nggak?"
"Bisalah, kayak sama siapa aja lo."
"Bantu selidiki orang-orang dalam yang royal sama perusahaan."
"Oke!"
"Makasih Bro," ucap Daniel dan langsung mematikan panggilannya. Stres membuat kepalanya terasa sakit. Ditambah jalanan yang macetnya mengalahkan game cacing yang biasa dimainkan oleh istrinya.
__ADS_1
Bersambung....