
Fajar menyingsing menampakkan sinar keemasan. Anisa membuka mata perlahan. Saat hendak turun, sepasang tangan besar melingkar di perutnya yang sudah berbentuk meskipun belum terlalu menonjol besar. Ia tersenyum menatap wajah damai Daniel yang snagat dekat dengannya. Bahkan embusan napas suaminya mengelus lembut permukaan pipinya.
"Morning istriku." Daniel membuka mata dengan mata sayu, bahkan tangannya belum ingin beranjak dari sana.
"Pagi juga Daniel," balas Anisa sambil menguap.
"Bahkan napasmu tercium harum."gombal Daniel sambil memajukan bibirnya.
Anisa meniup napas ke telapa tangan lalu menciumnya. la sedikit mual.
"Bau naga begini dibilang harum, dasar suami bucin!" ejek Anisa.
"Tapi bagi diriku napasmu sangat harum, apalagi kalau benda kenyal milikmu dan milikku saling silaturahmi."
Anisa menatap lembut wajah suaminya, perlahan ia membiarkan Daniel mendekatkan bibirnya. Mendekati satu inci, tangan kanan melingkar di pinggang Daniel. Pria itu tampak tersenyum haru karena jarang-jarang ia diberi jatah pagi. Suara teriakan terdengar nyaring dari mulut Daniel. Ia mengusap pinggangnya yang baru saja diberi ****** oleh tangan kejam milik Anisa.
"Sakit, sayang! Tega bener jadi istri." Ringisnya sembari mengusap pinggangnya yang terasa pedas level lima belas.
"Kamu yang stres, napas bau naga dibilang wangi. Apa! Mau ngambil kesempatan, huh. Nggak mempan ya." omel Anisa sambil melototkan kedua matanya garang.
Wanita dengan usia kandungan memasuki lima bulan tersebut dengan pelan turun dari ranjangnya. Sebelum suami tengilnya menjadi aneh ada baiknya kabur. Kabur lebih
baik daripada di sosor dalam keadaan mulut bau. Tapi kakinya terasa sangat letih dan terlihat bengkak. Ia berjalan dengan pelan menuju kamar mandi.
"Punya istri nggak ada sisi romantisnya sedikit pun. Padahal wajar-wajar aja ciuman pas baru bangun. Ya kali napas dia bau naga." Dumelnya, ia juga melakukan hal yang sama, mencium napas di telapak tangan. Detik kelima ia sadar bahwa napasnya bau kerbau eh tapi nggak bau-bau amat, masih bisa dinikmati.
"Pantesan istri gue ogah," ucapnya lalu menyusuk istrinya ke kamar mandi.
__ADS_1
Kebiasaan Anisa selaku lupa mengunci pintu, hal tersebut selalu memudahkan Daniel memergoki istrinya yang sedang mandi, atau sekadar cuci mata yang belekan.
"Sayang, nggak mau mandi bareng.” Kepala Daniel menyembul dari balik pintu. Dengan spontan Anisa melempar odol yang sedang ia pegang. Alhasil mengenai kening suaminya. Dua kali pria itu kena bogeman mentah ala-ala istri hamil.
"Maaf, habis kamu ngagetin," ucap Anisa tak enak hati. Tentu saja perasaan bersalahnya dimanfaatkan oleh Daniel, pria itu masuk dengan wajah dibuat semenderita mungkin.
"Sakit ya?" Anisa mendekati sambil mengusap-usap keningnya yang terkena lemparan.
Daniel mengangguk, sesekali ia mendesis saat tangan halus milik
Anisa menyentuh keningnya yang tampan. Padahal itu hanya odol, jika dilempar tidak seniat itu, rasanya tidak akan sakit. Tapi Daniel menggunakan momen itu untuk bermanja.
"Apa menurutmu suamimu masih keliatan tampan?"
Anisa mengangguk sambil tersenyum lembut bak bidadari baru keluar dari sungai. Pagi ini Daniel selalu dihantui oleh baying-bayang Anisa yang terlihat sangat cantik. Apalagi jika rambut Anisa terlihat kusut, kesannya sangat seksi.
"Tentu saja kamu masih tampan suamiku, kalau kamu jelek pasti kita tidak akan bersama. Iya kan?"
"Jadi kalau aku jelek, kamu nggak mau sama jadi istriku?"
"Siapa yang bilang?"
"Itu! Barusan," ucap Daniel kesal.
"Kapan?"
"Tadi!"
__ADS_1
"Mana buktinya?"
Daniel terdiam, sial dia lupa merekam ucapan istrinya. Lagi pula ... tunggu, di mana terakhir kali ia meletakkan ponselnya. Di atas nakas? keranjang baju kotor? Atau di ... Daniel baru ingat kalau ponselnya tadi malam dilindas sepeda motor sampai ringsek. Mengingat kenangannya dengan istri keduanya membuat Daniel melow seketika.
"Kamu kenapa?" tanya Anisa sambil menggosok gigi Daniel.
"Bonselkow wang malang."
"Hah!"
"Bonselkow jangat malang."
"Ngomong apa?"
Daniel melepaskan sikat menyingkirkan sikat gigi yang bersarang di mulutnya.
"Ponselku sangat malang," ucapnya dengan melow.
"Oh, kirain karena apa."
"Cuma oh, really?"
"Emang kenapa, Ada apa dengan oh?" tanya Anisa bingung.
Daniel mencuci mukutnya dan segera keluar dari sana. Lama-lama berbicara dengan Anisa hanya menimbulkan darah tinggi dan asma. Tapi berpisah jauh membuatnya menderita diabetes akut. Apa yang harus dia lakukan, istrinya seperti buah simala kama. Di dekati ia darah tinggi, dijauhi dia diabetes akut.
...******...
__ADS_1
...Happy Reading All 😉...
...******...